Oleh : Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si.*)
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), yang lebih populer dengan sebutan hujan buatan, kembali menjadi sorotan setelah diterapkan di Sumatera Barat pada 2025 untuk mengatasi kebakaran hutan di Kabupaten 50 Kota.
Langkah ini memicu perdebatan: apakah TMC benar-benar aman, atau justru menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan distribusi hujan?
Bagaimana TMC Bekerja?
TMC adalah proses penyemaian awan dengan bahan higroskopis, biasanya garam (NaCl) atau kalsium klorida (CaCl₂), untuk mempercepat pembentukan tetesan hujan. Prinsipnya sederhana: butiran garam menarik uap air sehingga awan lebih cepat melepaskan hujan. Teknologi ini sering digunakan untuk mengatasi krisis air, mengisi waduk, hingga menekan risiko kebakaran hutan.
Kasus TMC di Sumatera Barat Tahun 2025
Pada Mei hingga Agustus 2025, kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Kebakaran ini mengancam area hutan lindung dan kebun masyarakat. Meski Sumbar tidak termasuk wilayah yang terdampak El Niño, kebakaran tetap terjadi akibat kemarau lokal yang cukup panjang, diperparah oleh aktivitas pembukaan lahan.
BNPB bersama TNI AU menggelar operasi TMC untuk memicu hujan di wilayah rawan kebakaran. Hasilnya, hujan turun di beberapa titik strategis sehingga membantu memadamkan api dan menekan perluasan kebakaran.
Bagi pemerintah daerah, TMC dianggap langkah cepat yang menyelamatkan ribuan hektare hutan dan mencegah kabut asap lintas daerah seperti yang pernah terjadi pada 2015.
Namun, efektivitas TMC tidak serta-merta menghapus kontroversi. Sejumlah pihak mempertanyakan dampak jangka panjangnya.
Apakah mempercepat hujan di Sumbar mengurangi potensi hujan di daerah tetangga? Apakah garam yang disebar akan merusak tanah? Pertanyaan ini mengemuka karena operasi TMC makin sering dilakukan tanpa transparansi informasi kepada publik.
Apakah Garam Merusak Tanah?
Banyak yang khawatir bahwa garam yang disebar ke awan akan jatuh bersama hujan dan menyebabkan salinisasi tanah. Secara teori, kekhawatiran ini masuk akal, tetapi dalam praktik, jumlah garam yang digunakan sangat kecil dibandingkan volume air hujan.
Dalam satu operasi TMC, sekitar 1–2 ton garam disebar untuk area yang luas, sedangkan curah hujan membawa jutaan ton air tawar. Setelah larut, konsentrasi garam biasanya jauh di bawah ambang batas yang merusak tanah.
Risiko baru muncul jika TMC dilakukan berulang kali di lokasi sama dan pada wilayah dengan drainase buruk. Tetapi untuk kasus di Sumbar, kemungkinan dampak tersebut sangat kecil. Jadi, klaim bahwa TMC merusak tanah belum memiliki bukti kuat.
Apakah Mempercepat Hujan Mengganggu Distribusi Hujan?
Isu ini lebih serius. TMC tidak menciptakan awan baru, hanya mempercepat presipitasi dari awan yang sudah memiliki potensi hujan.
Artinya, jika awan yang disemai semula akan bergerak ke wilayah lain, percepatan ini bisa mengurangi curah hujan di daerah tujuan alami awan. Misalnya, jika hujan dipicu di Sumbar, apakah itu mengurangi hujan di Riau?
Secara ilmiah, jawabannya tidak sederhana. Atmosfer bersifat dinamis, awan terus terbentuk dan bergerak. Namun, jika TMC dilakukan masif di satu wilayah, distribusi hujan antar daerah berpotensi terganggu, dan ini bisa menimbulkan konflik kepentingan antarprovinsi. Karena itu, operasi TMC harus diiringi kajian hidrometeorologi dan koordinasi lintas wilayah.
Dampak Ekologis dan Tata Kelola
Belum ada bukti kuat bahwa TMC menimbulkan kerusakan ekosistem, tetapi potensi perubahan siklus hidrologi tetap ada jika praktik ini menjadi solusi permanen. Karena itu, TMC sebaiknya dianggap strategi darurat, bukan kebijakan rutin.
Mengandalkan TMC tanpa mengatasi akar masalah—seperti pembukaan lahan tanpa pengawasan, lemahnya pengendalian kebakaran, dan degradasi ekosistem—hanya menunda bencana yang lebih besar.
Tata kelola juga penting. Publik berhak tahu kapan dan di mana TMC dilakukan, serta potensi dampaknya. Transparansi dan regulasi yang jelas mencegah TMC menjadi sumber konflik perebutan hujan antar daerah.
Kasus kebakaran hutan di 50 Kota tahun ini menunjukkan bahwa TMC bisa menjadi penyelamat darurat. Dampak terhadap tanah akibat garam relatif kecil, tetapi potensi gangguan distribusi hujan harus dipantau.
Teknologi ini membantu memadamkan api, tetapi tidak boleh menjadi solusi permanen. Jalan keluar jangka panjang tetap terletak pada pengelolaan hutan berkelanjutan, restorasi daerah aliran sungai (DAS), dan mitigasi perubahan iklim.
Jika kita tidak berani mengatasi akar masalah, kita hanya akan mengandalkan “payung sementara” di tengah badai krisis iklim yang semakin mengancam.
Koordinator Penanganan Perubahan Iklim SDGs sekaligus Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Negeri Padang.*)