Oleh : Nurul Jannah*)
Refleksi Sunyi tentang Luka, Syukur, dan Ikhtiar Di Ujung Tahun.
Hari-hari yang biasanya berlalu cepat, kini meminta kita berhenti sejenak, untuk menoleh ke dalam. Dan, di sinilah kita bertemu diri sendiri.
Tahun ini telah dijalani dengan segala isinya.
Ada tawa yang tulus. Ada pencapaian yang diam-diam disyukuri. Ada bahagia yang datang tanpa pengumuman.
Namun ada pula duka yang jatuh tanpa aba-aba. Kecewa yang datang dari arah yang tak disangka. Serta doa-doa yang belum juga menemukan jawabannya.
“Kenapa harus seberat ini, ya Allah?”
Pertanyaan itu sering terucap. Kadang lantang, kadang hanya bergema di dada.
Tahun ini mengajarkan bahwa hidup tidak selalu ramah. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia. Ada malam ketika air mata harus jatuh karena lelah menahan.
Di banyak momen, iman diuji bukan dengan kekurangan, tetapi dengan ketidakpastian.
“Sudah sejauh ini, tapi kok rasanya masih kurang?”
Keluhan itu terasa akrab di telinga banyak orang. Namun perlahan, satu demi satu, kita belajar memahami, bahwa Allah tidak selalu memberi apa yang kita minta, tetapi selalu memberi apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh.
Tahun ini mungkin tidak memberikan semua yang diharapkan, tetapi ia memberi pelajaran tentang sabar, tentang ikhlas, tentang melepaskan kendali dan percaya bahwa Allah tidak pernah salah menakar beban.
Barangkali masih ada luka yang belum sembuh. Atau barangkali masih ada harapan yang belum tertunaikan.
Dan semua itu tidak apa-apa. Karena iman tidak selalu tampak dalam senyum. Kadang ia justru tumbuh di tengah tangis yang dipeluk dalam doa.
“Kalau boleh mengulang,” bisik hati ini di suatu malam, “Aku ingin lebih lembut pada diri sendiri.”
Di situlah kesadaran tumbuh, bahwa selama ini kita terlalu keras pada diri sendiri, terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kuasa.
Akhir tahun bukan tentang menutup semua luka. Ia tentang mengakui luka itu ada, lalu menyerahkannya pada Allah. Tanpa rasa malu.
Tidak semua kegagalan harus ditebus hari ini. Tidak semua jawaban harus datang sekarang. Sebagian cukup disimpan dalam keyakinan. Bahwa Allah Maha Mengetahui waktu terbaik.
Menjelang tahun yang baru, mungkin tidak perlu janji yang terlalu tinggi. Cukup satu niat jujur, melangkah dengan hati yang lebih sadar dan iman yang lebih tenang.
Jika tahun depan masih berat, semoga hari ini terasa lebih lapang. Jika cobaan masih datang, semoga jiwa tidak lagi merasa sendirian. Karena sejatinya, kita tidak pernah berjalan sendiri.
Doa Penutup Tahun 2025
Ya Allah,
di ujung tahun ini kami datang kepada-Mu
dengan hati yang lelah,
namun masih ingin berharap.
Ampuni kekurangan kami,
atas sabar yang sering goyah,
atas syukur yang belum sempurna,
atas doa yang kadang berubah menjadi keluh.
Jika tahun ini penuh luka,
jadikan ia jalan untuk mendekat kepada-Mu.
Jika tahun ini penuh syukur,
jangan biarkan kami lupa diri.
Ya Allah,
cukup Engkau sebagai penopang,
saat harapan kami rapuh,
sebagai penguat,
saat langkah kami ragu.
Bimbing kami memasuki tahun yang baru dengan hati yang lebih bersih,
iman yang lebih dewasa,
dan keberanian untuk terus melangkah,
tanpa meninggalkan diri kami sendiri.
Kami serahkan masa lalu kepada ampunan-Mu,
hari ini kepada penjagaan-Mu,
dan masa depan kepada kasih sayang-Mu.🌹
Aamiin.🙏👍
Jakarta, 1 Januari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
