Hijab Sebagi Gaya dan Identitas Muslimah: Menjaga Keaslian Iman dalam Tren Mode

Oleh : Kaila Ranti*)

Hijab bukan sekedar kain yang menutupi kepala. Bagi seorang muslimah, hijab merupakan simbol ketaatan, identitas, dan komitmen iman kepada Allah Swt. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, hijab juga mengalami transformasi.

Hijab tidak lagi hanya dipandang sebagai kewajiban agama, melainkan juga menjadi bagian dari gaya hidup dan tren mode yang terus berkembang.

Banyak perempuan muslim saat ini menghadapi tantangan dalam mencari keseimbanganantara mengikuti perkembangan mode dan menjaga keaslian keyakinan. Mereka ingin tampil menarik dan sesuai dengan zaman, tetapi tetap berpegang pada tujuan utama mengenakan hijab, yaitu menegaskan identitas keagamaan dan menjaga kehormatan diri.

Dalam konteks ini, hijab tidak hanya menjadi bagian dari penampilan lahiriah, tetapi juga mencerminkan identitas batin yang kuat, yang menunjukkan kesetiaan, keimanan, dan kebanggaan terhadap ajaran Islam.

Di tengah tren mode yang selalu berubah, hijab semakin tampil sebagai simbol yang unik. Hijab tidak hanya berfungsi sebagai penutup aurat sesuai dengan ajaran Islam, tetapi juga menjadi sarana untuk mengekspresikan gaya pribadi.

Banyak muslimah kini berupaya memadukan desain hijab modern dengan nilai-nilai keimanan, sehingga tercipta keseimbangan antara mengikuti tren dan menjaga keaslian iman.

Menurut penulis, berbagai contoh nyata yang dapat ditemukan pada influencer, pecinta cosplay, mahasiswi, serta merek busana muslimah menunjukkan bahwa hijab dapat menggabungkan unsur gaya dan identitas keagamaan sekaligus tetap menjaga keaslian iman di tengah tren mode yang terus berubah.

Berikut ini saya akan paparkan beberapa kasus yang dapat menjadi inspirasi kita semua:

1: Influencer Yasmin Jay yang Menggabungkan Gaya Sederhana dan Iman Yasmin Jay merupakan seorang influencer mode hijab yang berbasis di Sydney, Australia, dengan lebih dari 150 ribu pengikut di Instagram.

Ia memanfaatkan media sosial untuk menginspirasi para gadis muda muslim agar tetap percaya diri dalam menjalankan iman melalui gaya busana yang sederhana. Yasmin Jay, yang juga berprofesi sebagai perancang busana dan model, menekankan bahwa kesopanan tidak hanya tercermin dari penampilan, tetapi juga dari cara berbicara dan bersikap.

Ia berharap dapat mengubah persepsi negatif terhadap perempuan muslim di media sekaligus membangun komunitas yang saling memberdayakan. Industri fesyen hijab yang ia geluti terus mengalami perkembangan pesat, dengan perkiraan nilai pasar global mencapai 488 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2026. Bahkan, merek internasional seperti Dolce & Gabbana mulai memasuki ceruk pasar busana muslimah. Sumber: Republika Online Mobile (https://khazanah.republika.co.id/berita/qgqjm7335/copylink)

2: Fenomena Hijab Cosplay di Indonesia dan Inggris

a. Di Indonesia

Penelitian yang dilakukan di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa fenomena hijab cosplay mulai muncul pada awal tahun 2000 an. Fenomena ini sempat menimbulkan perdebatan karena dianggap bertentangan dengan autentisitas cosplay dan nilai kesalehan.

Melalui metode etnografi terhadap sepuluh cosplayer berhijab, penelitian tersebut menemukan bahwa para pelaku menciptakan identitas “ruang ketiga” melalui proses negosiasi antara Islamisme dan modernitas.

Mereka memodifikasi hijab agar sesuai dengan karakter cosplay tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. Sumber: Perpustakaan Universitas Indonesia (https://lib.ui.ac.id/m/detail.jsp?id=9999920531213&lokasi=lokal)

b. Di Inggris

Saima Chowdhury, seorang vlogger asal Birmingham, menggunakan hijab dalam aktivitas cosplay dan mengajak generasi muda untuk memahami iman melalui platform YouTube. Ia memiliki dua kanal dengan masing-masing lebih dari 90 ribu pelanggan yang membahascosplay, kesehatan mental, serta tutorial tata rias.

Fenomena ini terinspirasi oleh cosplayer asal Malaysia, Sa Akira Izumi, dan berkembang sebagai gaya anti mainstream yang memadukan hobi dengan keyakinan keagamaan. Sumber: Akurat.co (https://www.akurat.co/nasional/amp/1302179350/topik-khusus.html)

3: Dua Mahasiswi dengan Gaya Hijab Berbeda, tetapi Sama Teguh dalam Iman Fida, seorang mahasiswi asal Lembata, konsisten menggunakan hijab segi empat klasik selama empat tahun menempuh studi di Malang.

Sementara itu, temannya, Cintya, lebihgemar mengikuti tren hijab modern seperti pashmina, bergo instan, dan turban. Meskipun memiliki gaya yang berbeda, keduanya tetap mematuhi ketentuan syariat, yaitu menutup dada, tidak transparan, dan tidak ketat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tren hijab telah berkembang dari model kerudung sederhana pada era 1980 an hingga variasi warna netral dan desain modern pada tahun 2023.

Influencer dan media sosial menjadi faktor pendorong utama perkembangan tersebut, namun penerapan hijab tetap harus selaras dengan ajaran Islam. Sumber: MuslimX (https://muslimx.id/2025/05/26/tetap-gaya-tanpa-lupa-esensi-hijab-antara-tren-dan-kesederhanaan/)

4: Merek Lozy Hijab yang Menggabungkan Teknologi dan Syariat

Lozy Hijab merupakan merek busana muslimah yang berbasis di Tasikmalaya dan beberapa kota di Jawa Barat. Merek ini berdiri pada tahun 2015 dan menghadirkan koleksi hijab sertakebaya syar’i dengan memanfaatkan teknologi tekstil terkini.

Pada tahun 2025, Lozy Hijab meluncurkan abaya dengan fitur antiultraviolet, cool touch, iron less, dan full edge yang dirancang khusus untuk kenyamanan ibadah haji dan umrah di tengah cuaca ekstrem.

Penerapan teknologi tersebut menjadi elemen utama dalam desain produk, sehingga menghasilkan tampilan yang modern dan futuristik tanpa mengabaikan prinsip kesopanan dan ketentuan syariat Islam. Sumber: AyoBandung.id (https://www.ayobandung.id/ayo-biz/01165617/22092025/tren-busana-muslimah-2025-lozy-hijab-buktikan-fashion-syari-bisa-futuristik-dan-tetap-sesuai-syariat)

Dari beberapa kasus di atas dapat kita lihat bahwa hijab mampu beradaptasi dengan tren modern tanpa mengorbankan makna agama. Baik melalui gaya sederhana, cosplay yang dimodifikasi, variasi gaya sehari-hari, maupun desain berteknologi.

Hijab tetap menjadi simbol identitas keimanan yang kuat dan memberdayakan bagi kaum wanita. Hal ini membuktikan bahwa keseimbangan antara gaya dan keyakinan bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah realitas yang memperkaya makna hijab di tengah masyarakat yang dinamis.

Menurut penulis hijab berperan ganda sebagai sarana ekspresi gaya dan simbol identitas keagamaan, yang mampu beradaptasi dengan perkembangan tren modern melalui berbagai bentuk baik dari influencer yang membangun komunitas, cosplayer yang menciptakan ruang negosiasi antara keyakinan dan hobi, mahasiswi yang mempertahankan syariat meskipun gaya berbeda, maupun merek busana yang mengintegrasikan teknologi.

Inti dari semua kasus adalah kemampuan untuk menjaga keaslian iman, sehingga hijab tetap memegang makna agama yang mendasar sambil menjadi bagian dari kehidupan yang dinamis dan beragam. []

Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir STAI-PIQ Sumatera Barat*)

Exit mobile version