Pariaman Terancam Kehilangan Atlet, Siap Bela Daerah Lain Jika Tak Ikut Porprov 2026

Atlet sepatu roda Kota Pariaman bersiap-siap di lintasan. Mereka memutuskan akan membela daerah lain jika Pariaman tidak ikut Porprov Juni-Juli nanti. (Foto Istimewa)

PARIAMAN, FOKUSSUMBAR.COM— Kota Pariaman terancam kehilangan atlet-atlet berprestasinya pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat yang dijadwalkan berlangsung Juni–Juli 2026. Hingga kini belum adanya kepastian sikap Pemerintah Kota dan KONI Pariaman terkait keikutsertaan membuat sejumlah atlet potensial peraih medali menyatakan siap membela daerah lain demi tetap berkompetisi.

Kondisi ini mencuat seiring kebijakan KONI Sumbar selaku pelaksana Porprov yang membuka ruang bagi atlet ber-KTP Sumatera Barat untuk turun membela daerah lain jika daerah asalnya memutuskan tidak ikut Porprov.

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah melindungi hak atlet agar tidak kehilangan kesempatan berprestasi akibat kebijakan daerahnya.

“Selagi ber-KTP Sumatera Barat, silakan turun di Porprov. Jika daerahnya tidak ikut, boleh membela daerah lain. Kasihan atlet kehilangan kesempatan gara-gara pemerintahan daerah dan KONI-nya tidak respons,” ujar Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, saat pembukaan Tes Kemampuan Calon Atlet Binaan Pelatda Sumbar 2026 di Padang, Rabu (14/1/2026).

Salah satu atlet yang terdampak adalah atlet teqball andalan Sumatera Barat, Zikrha Dwi Putri, atlet asli Kota Pariaman. Peraih medali perak SEA Games 2025 itu mengungkapkan kekecewaannya jika Porprov gagal digelar atau daerah asalnya memilih tidak ambil bagian.

Menurut Zikrha, Porprov bukan sekadar ajang kompetisi daerah, melainkan ruang penting untuk menjaga jam terbang, mengasah kemampuan, serta menunjukkan hasil pembinaan atlet kepada publik dan pembina olahraga.

Ancaman eksodus atlet juga datang dari cabang olahraga sepatu roda. Sejumlah atlet sepatu roda asal Kota Pariaman dikabarkan siap bermain membela daerah lain jika Pariaman tidak ikut Porprov.

Mereka antara lain Cory Darya perak PON Aceh-Sumut, Najmi Hayati perunggu PON Aceh-Sumut, Salsabila Ghina Fitri peraih medali emas BK PON Aceh–Sumut, serta Hana Fatihatul Aulia, Dafa Muhammad Alfauzen, dan Dimmy Nobel Alhamdi yang masing-masing meraih medali perak dan perunggu pada ajang yang sama.

Ketua Harian Perserosi Sumbar, Arfan Rosyda, menegaskan masalah tersebut memang sudah sering didiskusikan atlet dan orang tua mereka kepada pengurus Perserosi.

Menurut Arfan, potensi perpindahan atlet tidak hanya terjadi di Kota Pariaman, melainkan juga mengintai daerah lain di Sumatera Barat yang belum memastikan keikutsertaan pada Porprov XVI.

“Bukan hanya atlet sepatu roda dari Pariaman. Atlet sepatu roda dari daerah lain juga menyampaikan hal serupa. Jika daerahnya tidak ikut Porprov, mereka akan memilih membela daerah lain. Ini murni demi karier atlet, bukan soal loyalitas,” ujar Arfan, Sabtu (17/1/2026).

Disebutkannya, Porprov merupakan ajang krusial bagi atlet daerah untuk mengukur kemampuan, menjaga kontinuitas prestasi, serta sebagai jembatan menuju kompetisi level nasional. Ketidakpastian keikutsertaan daerah justru menempatkan atlet pada posisi paling dirugikan.

Situasi ini dinilai sebagai dampak lanjutan dari vakumnya Porprov Sumatera Barat selama delapan tahun terakhir. Absennya Porprov dalam rentang waktu panjang disebut telah memutus mata rantai pembinaan, mempersempit ruang kompetisi berjenjang, serta mengganggu proses regenerasi atlet. Tanpa Porprov, banyak atlet kehilangan momentum dan jalur evaluasi prestasi yang terstruktur.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota maupun KONI Kota Pariaman belum memberikan pernyataan resmi terkait kepastian keikutsertaan mereka pada Porprov XVI Sumatera Barat 2026. (jiga)

Exit mobile version