Oleh : Nurul Jannah*)
Sebelum perut diisi makanan, pikiran kita sering lebih dulu dijejali beban.
Pagi selalu datang dengan cara yang sama. Pelan, hening, tidak tergesa. Yang sering tergesa justru kita.
Jam belum benar-benar sadar, tangan sudah lebih dulu mencari ponsel. Layar menyala sebelum mata terbuka sempurna. Notifikasi berderet. Pesan masuk. Grup ramai. Berita menunggu dibaca. Timeline siap ditelusuri.
Hari bahkan belum dimulai, tapi pikiran sudah terasa penuh. Seolah sebelum tubuh diberi makan, kepala sudah dipaksa menelan banyak hal.
“Kamu kalau bangun tidur pertama kali ngapain?” tanya Minarni, sahabatku, suatu pagi.
“Lihat HP.”
“Sama. Tapi aneh ya, belum apa-apa kok rasanya sudah capek duluan.”
Kami tertawa kecil. Tapi tawa itu jujur. Karena kami tahu, ini bukan kebiasaan sepele. Ini kebiasaan banyak orang yang diam-diam menentukan suasana hati seharian.
Selama ini, kita sangat memperhatikan sarapan fisik. Menghindari santan, menolak gorengan, memilih buah, atau harus kopi dulu agar bisa berpikir terang. Tapi jarang sekali kita sadar: pikiran kita juga butuh menu sarapan yang sehat.
Yang pertama masuk ke pikiran setiap pagi sering kali bukan ketenangan, melainkan kecemasan.
Berita yang mencemaskan. Pesan yang menuntut respon. Informasi yang belum tentu perlu. Masalah orang lain yang belum tentu harus kita pikul.
Tanpa sadar, kita menyuapi pikiran dengan beban sejak menit pertama hari dimulai.
Yang Pertama Masuk, Itu yang Menentukan
Di suatu pagi, aku mencoba hal berbeda.
Ponsel kubiarkan di meja. Tidak disentuh. Aku duduk di tepi tempat tidur. Diam.
Awalnya memang terasa canggung. Sepi. Kosong. Lalu terdengar sesuatu yang selama ini kalah oleh notifikasi, yaitu suara napas sendiri.
Cahaya tipis pun terasa masuk dari jendela. Udara pagi yang bersih dan rasa tenang tetiba hadir menyelimuti pagi itu.
Aku berbisik pada diri sendiri, “Pagi ini… jangan diisi yang berat-berat dulu ya.”
Sederhana Memang. Tapi terasa berbeda.
Hari itu pun berjalan lebih ringan. Karena pikiran tidak langsung dijejali beban sejak awal.
Apa yang pertama masuk ke pikiran di pagi hari, itulah yang mewarnai sepanjang hari.
Jika pagi dimulai dengan keluhan, hari terasa panjang. Jika pagi dimulai dengan kecemasan, hari terasa melelahkan. Jika pagi dimulai dengan tuntutan, hari terasa menekan.
Padahal pagi selalu datang membawa hadiah yang sama. Kesempatan memulai segalanya dengan bersih. Namun, kita sering merusaknya sendiri, dalam lima menit pertama setelah bangun.
“Pantas ya, kalau pagi-pagi sudah baca berita kekerasan, bikin emosi, seharian jadi sensitif,” kata Minarni lagi.
“Iya. Kita belum sarapan, tapi pikiran sudah kenyang duluan.”
Dan yang dikenyangkan, bukan hal baik.
Pikiran yang Salah Makan
Tubuh yang belum makan akan lemas. Pikiran yang salah ‘makan’, akan merasakan sumpek. Itulah sebabnya kita jadi cepat lelah. Cepat marah. Cepat tersinggung. Cepat merasa hidup tidak baik-baik saja. Hidup terasa berat. Karena sarapan pikirannya yang keliru.
Setiap pagi, kita berkata pada anak-anak, “Nak, sebelum makan… baca doa dulu ya.”
Kalimat sederhana. Tapi maknanya dalam.
Kita diajarkan menyiapkan hati sebelum memasukkan sesuatu ke tubuh. Tapi tidak pernah diajarkan menyiapkan hati sebelum memasukkan sesuatu ke pikiran. Padahal yang paling mempengaruhi perasaan seharian bukan apa yang masuk ke perut, melainkan apa yang masuk ke kepala.
Mungkin yang kita butuhkan setiap pagi bukan membuka layar, tapi membuka kesadaran. Duduk sebentar. Tarik napas pelan. Sapa diri sendiri. “Apa yang mau kamu isi ke pikiranmu pagi ini?”
Karena ketika pikiran sudah penuh, sangat sulit mengosongkannya kembali. Dan sering kali yang membuat hari lelah bukan aktivitasnya, tapi pikiran yang sudah lelah duluan sejak pagi.
Pagi tidak pernah salah. Kitalah yang sering menyambutnya dengan cara yang keliru.
Kita membiarkan dunia masuk terlalu cepat ke kepala kita, sebelum sempat masuk ke dalam diri sendiri. Dan dari situlah hari berjalan, dengan hati yang sudah berat.
Maka, mulai besok pagi, sebelum tangan mencari ponsel, coba tahan sebentar. Biarkan pagi benar-benar datang. Biarkan sang pikiran sarapan yang baik-baik dulu: syukur, tenang, hening dan doa.
Jangan sampai yang membuat hari kita terasa berat adalah karena sarapan pikiran kita yang salah. Isinya sampah semua🙏.
Bogor, 7 Februari 2026
