Oleh : Nurul Jannah*)
Sebelum Waktu Berkata: Sudah Tidak Ada Lagi Kesempatan
Hidup jarang runtuh karena keputusan besar. Ia lebih sering retak karena kalimat kecil. Kalimat yang terdengar ringan. Tidak kasar. Tidak menyakitkan. Bahkan terasa sangat wajar “Nanti saja.”
Kita mengucapkannya hampir setiap hari. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah. Padahal ia pelan-pelan menggeser yang penting menjadi tidak prioritas.
Suatu pagi, Naufal, anak laki-laki usia lima tahun, berdiri di depan Mamanya dengan wajah bahagia menunjukkan gambar karyanya.
“Ma, lihat ini. Tadi aku berani maju presentasikan gambar ini…”
Mamanya sedang membalas pesan kantor. “Bagus ya, Nak. Nanti Mama dengar ceritanya. Sekarang Mama lagi banyak chat.”
Sang Anak mengangguk. “Iya, Ma.”
Ia tidak marah. Ia hanya belajar satu hal kecil hari itu. Ceritanya ternyata harus menunggu.
Setelah hari itu, Naufal tidak pernah lagi bercerita.
Sampai suatu hari Mamanya bertanya, “Kok sekarang Adik jarang cerita sih?”
Naufal, sang anak, tersenyum tipis. “Ah, biasa saja kok, Ma. Nanti saja”
Kalimat pendek “Nanti saja” sering lahir dari kelelahan. Dari kesibukan tiada henti. Dari merasa waktu masih panjang. Dari yakin bahwa besok masih ada. Dari yakin bahwa kesempatan akan kembali. Dari yakin bahwa orang-orang akan tetap di tempatnya.
Dan, kita lupa… hidup tidak pernah bisa menjanjikan apapun.
Seorang perempuan muda, Nina menatap layar ponselnya. Nama sahabatnya, Rara, terpampang jelas di sana. Sudah lama sebenarnya ia ingin menghubungi. Sudah lama ia ingin berkata, “Maafkan aku ya…”
Tapi egonya lebih cepat berbicara. “Ah, nanti saja. Masih ada waktu.”
Waktu ternyata tidak pernah menunggu. Kabar duka datang lebih dulu. Tanpa dialog. Tanpa kesempatan ulang. Ia terduduk lama.
“Kenapa aku merasa besok pasti ada…”
Tangisnya bukan karena kehilangan saja, tapi lebih karena kalimat yang terlalu sering ia tunda.
Refleksi
Ada yang menunda menjaga kesehatan.
“Nanti saja olahraga.”
“Nanti saja periksa. Medical Check Up.”
“Nanti saja istirahatnya.”
Tubuh memang diam. Ia tidak pernah memaksa kita untuk istirahat. Ia hanya memberi tanda kecil. Sampai suatu hari ia berkata tanpa suara: “Aku sudah lama kau abaikan.”
Dan kita terkejut, padahal kita sendiri yang terus berkata nanti saja.
Ada juga yang menunda memeluk orang tua.
“Ah, nanti saja pulangnya. Lagi sibuk.”
“Nanti saja video call. Lagi capek.”
“Nanti saja ngomong lebih lama.”
Sampai suatu hari rumah itu tetap berdiri, tapi orang yang biasa menyambut sudah tidak ada. Yang tersisa hanya kursi kosong. Dan kenangan yang tidak bisa diajak berbicara lagi.
Kita sering menunda kebaikan kecil. Menunda bersyukur. Menunda memuji pasangan.
Menunda berkata, “Aku bangga sama kamu.”
Menunda berkata, “Aku sayang.”
Kita pikir cinta itu otomatis, begitu saja. Padahal ia juga perlu diucapkan.
Dan yang paling sering kita tunda…adalah urusan dengan Allah.
“Nanti saja lebih khusyuk.”
“Nanti saja mulai berubah.”
“Nanti saja berhenti dari kebiasaan ini.”
“Nanti saja serius ibadahnya, sekarang masih sibuk.”
Kita merasa waktu selalu berpihak. Padahal waktu adalah makhluk Allah yang paling taat. Ia tidak pernah mundur. Ia tidak pernah menunggu. Ia hanya berjalan.
Bayangkan suatu hari…
Kita berdiri di hadapan Allah. Sendiri. Tanpa jabatan. Tanpa gelar. Tanpa kesibukan. Dan Allah bertanya dengan lembut, “Bukankah Aku sudah memberimu waktu?”
Lalu kita menjawab, “Ya Allah, aku memang mau berubah… tapi nanti….”
Dan, di hadapan-Nya, sudah tidak ada lagi kata nanti. Yang ada hanya apa yang sudah kita lakukan. Dan apa yang sudah kita tunda.
“Nanti saja” adalah kalimat paling berbahaya karena ia terasa aman.
Ia tidak membuat kita takut. Ia tidak membuat kita panik. Ia hanya membuat kita lalai. Dan kelalaian tidak terasa membuat kita lupa dan terlena. Ia terasa seperti hal biasa. Sampai akhirnya, waktu pun tiada lagi. Waktu habis.
Hari ini, mungkin ada pesan yang belum kita balas. Kata maaf yang belum kita ucap. Doa yang belum kita panjatkan sungguh-sungguh. Atau
pelukan kecil yang belum kita tunaikan.
Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu mood. Jangan tunggu longgar. Karena hidup bukan tentang menunggu waktu yang tepat.
Hidup adalah tentang berani melakukan yang benar, sebelum waktu berkata: Sudah tidak ada lagi kesempatan…
Dan ketika saat itu tiba, yang paling menyakitkan tentu saja bukan kehilangan kesempatannya, melainkan kesadaran bahwa kita sendiri yang berkali-kali menundanya. Dengan dua kata sederhana, nanti saja.🥲
Bogor, 13 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
