DHARMASRAYA, FOKUSSUMBAR.COM – Luar biasa dan pantas diacungi jempol. Bagaimana tidak, semangat literasi di kalangan remaja kembali menunjukkan geliat positif. Sebanyak 12 siswa SMA IT Andalas Cendekia, Kabupaten Dharmasraya, berhasil menerbitkan sebuah buku kumpulan feature bertajuk “Kisah Ramadhan Kami”.
Buku setebal 100 halaman ini, diterbitkan dan dicetak oleh MRI Pres, Padang dan telah pula diedarkan secara terbatas.
Yang mencengangkan, buku tersebut merupakan hasil dari pelatihan menulis feature yang dilaksanakan bagi siswa SMP dan SMA IT Andalas Cendekia pada pertengahan Desember 2025.
Artinya apa? hanya dalam dua bulan pasca pelatihan itu, para siswa yang dibimbing untuk menuliskan pengalaman pribadi mereka selama bulan Ramadhan dalam bentuk feature, gaya penulisan yang menggabungkan fakta, pengalaman nyata, serta sentuhan narasi yang hidup berhasil diterbitkan.
Berbeda dengan cerpen yang bersifat fiksi, tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan pengalaman otentik para siswa itu sendiri.
Ada kisah tentang tarawih kilat yang membuat jamaah terkejut, cerita lucu bocah-bocah di shaf belakang, pengalaman haru saat tarawih di masa pandemi, hingga momen sederhana namun membekas seperti mukena polkadot yang basah sebelum tampil kultum.
Ketua Yayasan Andalas Cendekia Dharmasraya, Yusuf Effendi kepada tribunrakyat, Minggu (15/2/2026), menyampaikan rasa bangga atas terbitnya buku tersebut.
Menurutnya, karya ini bukan sekadar kumpulan cerita, tetapi bukti keberanian para siswa untuk mengekspresikan diri mereka melalui sebuah tulisan.
“Saya sangat bangga dengan terbitnya “Kisah Ramadhan Kami”. Ini adalah bukti bahwa anak-anak kita memiliki potensi besar dalam literasi. Mereka hanya perlu ruang, bimbingan, dan dorongan,” ujar Yusuf Effendi serius.
Yusuf berharap, kehadiran buku ini mampu menjadi pemantik semangat bagi seluruh siswa untuk terus berlatih menulis dan mengembangkan kemampuan literasi mereka.aa
“Saya yakin kehadiran buku ini akan memompa semangat mereka. Ketika mereka melihat nama dan tulisannya tercetak menjadi buku, rasa percaya diri itu akan tumbuh. Harapan kami, budaya menulis ini terus hidup dan berkembang di lingkungan sekolah,” tambahnya.
Sementara itu, pimpinan MRI Pres Padang, Dr. Muharika Dewi, juga menyampaikan apresiasi dan rasa harunya terhadap para penulis muda yang masih berstatus pelajar tersebut.
Menurutnya, tidak semua remaja memiliki keberanian dan kemauan untuk membagikan pengalaman pribadi dalam bentuk tulisan.
“Saya terharu melihat keberanian dan kemauan para remaja ini. Mereka mau menulis, mau belajar, dan mau membagikan kisah Ramadhan mereka dalam bentuk tulisan yang kemudian dikumpulkan menjadi buku berjudul “Kisah Ramadhan Kami”. Ini langkah besar dalam perjalanan literasi mereka,” ungkapnya.
Muharika menambahkan, proses penyuntingan dilakukan dengan tetap menjaga suara asli para penulis muda tersebut, agar kejujuran dan kepolosan pengalaman mereka tetap terasa.
Pelatihan menulis feature yang menjadi cikal bakal terbitknta buku ini, bertujuan untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam bercerita.
Para peserta tidak hanya diajarkan teknik dasar menulis, seperti menyusun lead, membangun alur, dan memperkaya diksi, tetapi juga diajak memahami bahwa setiap pengalaman memiliki nilai jika dituliskan dengan jujur dan reflektif.
Hasilnya, dalam waktu beberapa minggu setelah pelatihan, terkumpul belasan tulisan yang kemudian melalui proses kurasi dan penyuntingan hingga akhirnya layak diterbitkan.
Buku “Kisah Ramadhan Kami”, diharapkan tidak hanya menjadi kenangan bagi para penulisnya, tetapi juga inspirasi bagi remaja lain di Dharmasraya dan sekitarnya.
Kehadiran buku ini menunjukkan bahwa budaya literasi dapat tumbuh dari lingkungan sekolah ketika ada kolaborasi antara siswa, guru, yayasan, dan penerbit.
Di tengah tantangan era digital yang kerap membuat remaja lebih akrab dengan gawai dari pada buku, terbitnya karya ini menjadi angin segar bagi gerakan literasi daerah.
Ramadhan yang biasanya hanya dikenang lewat memori, kini diabadikan dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca kembali di masa depan.
Sebagaimana disampaikan pihak yayasan, buku ini bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah panjang membangun tradisi menulis di kalangan pelajar.
Dengan dukungan berkelanjutan, bukan tidak mungkin akan lahir karya-karya berikutnya dari tangan-tangan generasi muda Dharmasraya.
“Kisah Ramadhan Kami” menjadi bukti bahwa ketika remaja diberi kesempatan dan dibimbing dengan sungguh-sungguh, mereka mampu melahirkan karya yang membanggakan. (teddy)
