PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Suku Tanjung bersama Jamaah Surau Lurah menggelar kegiatan gotong royong membersihkan area pemakaman keluarga di TPU Suku Tanjuang yang terletak di belakang Surau Lurah, Sungai Sapih, Kota Padang.
Sejak pagi hari, para ninik mamak, tokoh masyarakat, pemuda, hingga kaum ibu tampak bahu-membahu membersihkan rumput liar, merapikan pusara, serta memperbaiki akses jalan menuju kuburan.
Kegiatan ini menjadi tradisi tahunan yang sarat makna, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus persiapan spiritual dalam menyambut bulan penuh berkah.
Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa gotong royong ini bukan sekadar membersihkan makam, tetapi juga mempererat silaturahmi antaranggota suku dan jamaah.
“Momentum Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membersihkan hati. Kita awali dengan membersihkan lingkungan dan makam orang tua serta pendahulu kita,” ujar Syamsuir Malin Sampono, ninik mamak Suku Tanjuang, Sungai Sapih, Padang.
Jejak Sejarah Surau Lurah dan Syech Umar Khalil
Surau Lurah memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Sungai Sapih. Surau ini didirikan oleh seorang ulama kharismatik Minangkabau, Syech Umar Khalil, yang dikenal sebagai tokoh penyebar dakwah dan pembina pendidikan agama di wilayah tersebut.
Syech Umar Khalil berasal dari Sungai Sapih dan hidup pada masa ketika surau menjadi pusat pendidikan Islam, tempat pembinaan akhlak, serta wadah musyawarah adat dan agama.
Melalui Surau Lurah, beliau membina generasi muda dalam ilmu fikih, tauhid, tasawuf, serta memperkuat nilai “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” dalam kehidupan masyarakat.
Warisan perjuangan beliau tidak hanya berupa bangunan fisik surau, tetapi juga tradisi keagamaan yang terus hidup hingga kini—termasuk kegiatan gotong royong, doa bersama, dan makan bajamba menjelang Ramadan.
Doa dan Syukuran Menyambut Ramadan
Usai kegiatan pembersihan makam, jamaah berkumpul di atas Surau Lurah untuk melaksanakan doa bersama. Tahlil dan doa dipimpin oleh tokoh agama setempat, memohon ampunan bagi arwah para pendahulu serta keberkahan dalam menjalani ibadah Ramadan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama sebagai bentuk syukuran menyambut bulan suci. Hidangan tradisional Minangkabau disajikan secara sederhana namun penuh kehangatan. Suasana kekeluargaan terasa kental, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dalam masyarakat Suku Tanjung.
Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap semangat kebersihan lahir dan batin dapat menjadi bekal dalam menyambut Ramadan. Tradisi yang diwariskan sejak masa Syech Umar Khalil ini menjadi bukti bahwa nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan penguatan ukhuwah Islamiyah tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Acara ini disponsori oleh salah seorang putra Sungai Sapih yang sukses jadi pengusaha di Jakarta. Ia berharap acara ini diberikan keberkahan oleh Allah Swt. (mep)
