“Ketika Surga Retak”

Oleh: Nurul Jannah*)

Negeri ini pernah terasa seperti surga.

Hutan-hutannya berzikir bersama angin.
Sungai-sungainya mengalir seperti doa yang tak pernah putus.
Gunung-gunungnya berdiri anggun, memeluk langit tanpa curiga.
Laut-lautnya berkilau, memantulkan cahaya pagi seperti harapan yang tak bertepi.

Kita hidup di atas tanah yang subur,
menghirup udara yang jernih,
menyebutnya anugerah,
namun jarang benar-benar merawatnya dengan cinta.

Lalu suatu hari,
surga itu bergetar.

Air bah datang.
Ia tidak mengetuk.
Ia tidak memberi aba-aba.

Ia menerjang.
Ia merobek.
Ia menggulung apa saja yang berdiri di hadapannya.

Ia menyapu nama-nama di pintu rumah,
menghanyutkan foto keluarga,
mengacak dapur yang semalam masih mengepul hangat.

Dan kita berdiri di atas atap,
menggigil,
menatap langit yang kelabu,
bertanya dengan suara yang pecah:

“Kenapa?”

Padahal bumi sudah lama memberi tanda.

Daun-daun menguning sebelum waktunya.
Angin berembus dengan suara yang tak lagi ramah.
Gunung menyimpan gemuruh di dadanya,
seperti amarah yang terlalu lama kita abaikan.

Tanah longsor bukan sekadar tanah yang jatuh.
Ia adalah akar yang kehilangan pegangan.
Ia adalah bukit yang lelah menahan beban keserakahan.
Ia adalah tubuh bumi yang dipaksa menanggung ambisi tanpa henti.

Laut naik perlahan.

Bukan untuk menaklukkan,
tapi untuk mengambil kembali
yang pernah dirampas darinya.

Rumah-rumah pesisir tenggelam,
dan harapan ikut hanyut bersama arus yang tak bisa ditawar.

Asap kebakaran hutan menutup matahari.
Langit berubah warna.

Bukan lagi jingga senja yang romantis,
melainkan abu-abu pekat
yang menggantung seperti vonis atas kelalaian kita.

Anak-anak batuk.
Burung-burung kehilangan arah.
Dan kita masih sibuk menghitung keuntungan.

Berapa harga satu pohon?
Berapa nilai satu sungai?
Berapa rupiah untuk satu generasi
yang harus tumbuh dengan udara yang patah?

Bencana tidak pernah datang tiba-tiba.

Ia tumbuh pelan,
disiram oleh keputusan-keputusan kecil
yang kita anggap sepele.

Plastik yang dibuang sembarangan.
Lahan yang dibuka tanpa jeda.
Tambang yang digali tanpa rasa.

Kesalahan-kesalahan kecil itu, akhirnya menjadi badai besar yang menghantam kita dengan paksa.

Kita sering lupa,

bumi bukan warisan nenek moyang
yang bisa kita habiskan sesuka hati,
melainkan titipan anak cucu
yang belum sempat bersuara.

Ketika banjir merendam kota,
itu bukan hanya air yang meninggi,
itu adalah rasa bersalah yang tak lagi mampu ditahan.

Ketika gempa mengguncang,
itu bukan hanya pergeseran lempeng,
itu adalah pengingat bahwa manusia tak ada kuasa, ia hanyalah tamu di bumi yang rapuh ini.

Kita kecil.
Sangat kecil.

Namun kesalahan kita sangat besar,
hingga mampu meratakan gunung,
mengeringkan sungai, bahkan sampai mematahkan masa depan.

Lihatlah negeri ini.

Ia kaya.
Ia subur.
Ia indah bagaikan surga yang diturunkan dari langit.

Namun surga pun bisa berubah wajah
ketika disentuh tanpa cinta
dan diolah tanpa nurani.

Lingkungan adalah napas.

Ia adalah air mata.
Ia adalah denyut yang menyambung hidup kita
dari detik ke detik.

Jika hutan habis,
kita kehilangan paru-paru.
Jika sungai mati,
kita kehilangan darah.
Jika tanah rusak,
kita kehilangan pijakan.

Dan jika kita terus menutup mata, yang hilang bukan hanya pohon, melainkan masa depan yang belum sempat lahir.

Maka sebelum bencana berikutnya datang
membawa jerit dan sirine panjang,
mari berhenti sejenak.

Dengarkan bumi.

Ia tidak pernah benar-benar diam.
Ia hanya menahan tangisnya, menunggu kita cukup berani untuk sadar.

Negeri ini masih bisa diselamatkan.

Bukan dengan wacana.
Bukan dengan tepuk tangan.
Bukan dengan janji-janji yang menguap di podium.

Melainkan dengan keberanian untuk berubah,
dengan tangan yang menanam kembali,
dengan langkah yang lebih bijak,
dengan hati yang mau mengakui salah.

Karena ketika surga retak, yang diuji bukan hanya alam, tetapi kemanusiaan kita sendiri.

Dan pada akhirnya, yang kita selamatkan bukan hanya lingkungan. Kita sedang menyelamatkan napas kita sendiri. ❤️🌹

Bogor, 17 Februari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version