Oleh : Nurul Jannah*)
Menulis tentang cinta yang baru kita pahami setelah terlambat
Dulu, kita pernah berdiri di ambang pintu kamar, menahan air mata karena merasa dunia tidak berpihak.
Merasa tidak didengar. Merasa dibatasi. Merasa orang tua terlalu banyak aturan.
Kita pernah berkata dalam hati, dengan suara yang hampir memberontak, “Kenapa sih mereka nggak percaya?”
Kita merasa cinta seharusnya memberi ruang. Bukan pagar. Bukan batas. Bukan juga pertanyaan yang datang berulang-ulang setiap hari.
Kita ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Kita ingin dipercaya tanpa harus membuktikan diri.
Dan ketika orang tua berkata,
“Nanti kamu mengerti”. Kita menganggap itu kalimat paling menyebalkan di dunia.
Seolah-olah perasaan kita dianggap berlebihan. Seolah-olah pilihan kita belum pantas dihargai. Seolah-olah kita belum cukup dewasa untuk menentukan arah hidup sendiri.
Kita merasa mereka tidak tahu apa yang kita rasakan.
Lalu sang waktu pun berjalan terus.
Hingga tanpa kita sadari, suatu hari, hadir rasa yang dulu tidak pernah kita kenal, yaitu rasa takut.
Takut kalau dunia melukainya.
Takut kalau suatu hari tangan kecil itu terlepas, dan kita tak lagi bisa menjadi tempat berlindung.
Dan ketika anak mulai besar, mulai punya rahasia, mulai punya pilihan, mulai menutup pintu kamarnya lebih lama dari biasanya, kita pun mulai mengawasi dalam diam.
Ketika anak belum pulang, dan jam sudah lewat dari biasanya,
kita duduk menunggu dengan dada yang tak benar-benar tenang. Imajinasi kita berjalan liar membayangkan kemungkinan terburuk.
Ketika pilihan anak tidak sesuai harapan, kita ingin berteriak, demi melindungi.
Padahal kita tahu hidup mereka milik mereka.
Di situlah hati kita terbelah: antara melepas dan memayungi.
Menjadi orang tua adalah belajar mencintai dengan risiko dibenci. Belajar menerima bahwa anak bukan milik kita, melainkan titipan yang suatu hari harus kita lepaskan.
Mungkin suatu hari anak kita akan berkata, “Kenapa sih Mama nggak pernah ngerti aku?”
Kita hanya bisa diam. Karena dulu… kita juga pernah mengatakan hal yang sama.
Dulu aku pernah berjanji, “Aku tidak akan seperti orang tuaku.”
Dan hari ini, aku berdiri di titik yang sama. Dan, kalimat yang dulu aku benci pun, tetiba keluar begitu saja dari bibir ini: “Nanti kamu mengerti.”
Dan saat kalimat itu terucap, ada sesuatu yang runtuh pelan di dalam dada. Memahami dan menjadi paham memang sering kali datang terlambat. Datang ketika orang tua sudah tidak lagi bisa mendengar permintaan maaf kita.
Dada ini pun terasa sangat berat.
“Ibu… aku mengerti sekarang, waktu itu Ibu hanya takut.”
“Bapak… aku tahu sekarang, waktu itu Bapak hanya ingin aku selamat.”
Namun, sang waktu tidak pernah mau diputar ulang.
Menjadi orang tua bukan lagi tentang menjadi benar. Ia tentang tetap mencintai meski disalahpahami.*
Semoga suatu hari nanti, ketika anak kita berdiri di tempat kita sekarang, mereka tidak hanya mengerti, namun juga memaafkan.
Karena memang cinta orang tua tidak selalu terlihat lembut. Kadang ia keras. Kadang ia membatasi. Kadang terasa seperti pagar. Tapi di balik pagar itu, ada doa yang tak pernah berhenti gemetar.
Kita pun sadar, orang tua kita dulu mungkin juga memikul sesak yang sama. Dan ketika kita benar-benar memahami semuanya, yang pengin kita peluk …tinggal menjadi rindu.🌹❤️
Bogor, 22 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
