Oleh: Dra., Hj., Sastri Yunizarti Bakry., Akt., MS.i., CA., QIA.*)
TIBA-tiba saya teringat kalimat Prof., Dr., H., Andi Mustari Pide, SH tatkala Syafruddin – teman satu kantor di Inspektorat Provinsi Sumbar dan sesama dosen di Universitas Eka Sakti Padang- meminta saya untuk menulis kenangan terhadap Prof., Andi Mustari Pide.
Tak mudah mengingat kenangan puluhan tahun yang lalu kecuali hal itu berkesan bagi kita.
Pikiran saya segera menjalar ke banyak kenangan bersama prof Andi. Di bidang pendidikan, politik, pemerintahan mau pun bidang sosial budaya. Hal itu seringkali lengket dalam aktifitas saya.
Siapa tak kenal Prof., Dr., H., Andi Mustari Pide, S.H, ahli hukum dan akademisi yang menjadi pendiri dan Rektor Universitas Ekasakti Padang, Sumatera Barat. Rasanya tak ada yang tak mengenalnya di masa itu. Banyak pemikiran-pemikirannya digunakan oleh pemerintah daerah untuk membangun Sumbar.
Meski ia lahir dari keturunan bangsawan Bugis di Soppeng, Sulawesi Selatan, ia merantau dan merintis karier di Sumatera Barat. Tak sedikit pun tampak kesombongan di dirinya. Wajahnya yang ramah dan selalu senyum membuat kesejukan ketika berada di dekatnya.
Namun, yang lebih menginspirasi dari Prof. Andi Mustari Pide adalah kepribadiannya yang sederhana, ramah, dan peduli terhadap orang lain. Meskipun beliau memiliki kekayaan yang luar biasa, ia tidak tampil esklusif.
Beliau bahkan sangat tidak berjarak dengan siapa pun. Ia tak segan-segan untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan. Kejujuran, ketulusan, dan integritas adalah nilai-nilai yang beliau pegang teguh dan menjadi contoh bagi orang lain.
Sebagai orang yang dikenal banyak lapisan dan dihormati saya merasa bangga pernah dekat almarhum. Beberapa kali saya datang ke kantor nya yang megah dan nyaman. Sekedar berbincang- bincang. Tentang politik, tentang, seni budaya dan tentang sastra.
Saya baru tahu ternyata beliau adalah menantu sastrawan terkenal Indonesia , Toelis Soetan Sati, Angkatan Balai Pustaka yang berasal dari Minang.
Kisahnya dengan istrinya Erawati Toelis, mungkin bisa dibuat novel bahkan film yang berdasarkan kisah nyata. Menjadi menantu orang Minangkabau, tentu banyak dinamikanya. Mungkin itu keterikatannya Prof Andi demikian intens tinggal dan membangun dengan penuh cinta di Sumatra Barat.
Beberapa hari ini saya seolah memutar kembali kaset lama. Mengingat dialog- dialog saya dengan beliau. Saya mulai dengan bidang-bidang yang sama- sama digeluti.
Orang Sosial yang Mudah Tersentuh
Banyak sekali orang mengatakan prof Andi adalah orang pemurah. Jika ada yang datang padanya meminta bantuan untuk kegiatan sosial dia dengan cepat turun tangan. Banyak kegiatan partai atau organisasi yang dibantunya.
Saya pun merasakannya. Terutama untuk membantu Sumbar Talenta, sebuah iven bergengsi di bidang seni budaya untuk remaja. Saya teringat ia pernah memberikan bea siswa kepada 10- 15 pemenang Grandfinalis Sumbar Talenta. Meski tak ada yang memanfaatkan hadiah itu setidaknya Prof Andi sudah menunjukkan kepeduliannya kepada seni budaya.
Hal yang berkesan bagi saya adalah ketika hari itu saya datang ke rumahnya di jalan Pancasila bersama Drg Hj Riflaini, almarhumah. Waktu itu bulan Ramadhan. Kami masuk ke rumahnya yang megah indah dan artistik, sungguh memesona. Kami meminta sponsor untuk kegiatan sosial organisasi yang saya pimpin seperti membantu fakir miskin, dan berbuka bersama anak yatim.
Dia tanya berapa dana yang saya butuhkan. Saya menyebutkan angka sambil berkata
“Keluarkan dari zakat bapak aja pak”
“Zakat saya sudah saya bagi semua, untuk yang membutuhkan” Jawabnya tersenyum, tapi muka saya kecut.
Sedikit kaget lalu berpikir dia pasti tak mau membantu. Lebih kaget lagi ketika beliau berkata:
“Ini uang buat Sastri, harus digunakan untuk kepentingan Sastri, beli alat make up, baju, apa saja yang Sastri butuhkan. Jangan hanya ngurus orang lain, tapi urus juga diri sendiri”
Kami berdua terpana. Rasa tak percaya. Kemudian saya menolaknya dengan halus, sambil introspeksi diri apakah saya tak berdandan menemui beliau atau bahkan tak merawat diri?. Ia meyakinkan saya untuk menerima uang itu.
Akhirnya setelah perdebatan panjang uang itu saya terima . Tetapi lama saya tak berani menggunakan uang itu. Saya mendiskusikan kepada senior, takut salah dan merusak kredibilitas saya. Ini tentang hak dan batil.
Sampai akhirnya kami bertanya pada ustadz, saya lupa namanya. Apa uang itu halal digunakan pribadi? Ustadz mengatakan halal, karena itu amanah si pemberi maka harus digunakan sesuai amanah. jika mau dikasih ke orang lain. Itu adalah uang anda.
Dunia Politik di Golkar
Dunia politik adalah panggung besar kehidupan, di mana aktor-aktornya memainkan peran-peran penting dalam menentukan arah dan masa depan masyarakat. Saya meyakini, kata-kata bisa menjadi senjata, dan keputusan-keputusan menjadi penentu nasib bangsa dan negara.
Dunia politik adalah arena dinamis yang penuh dengan intrik, strategi, dan visi, di mana para pemimpin berusaha untuk mencapai tujuan dan mewujudkan cita-cita mereka. Namun satu kalimat kunci mesti jadi pedoman yakni pengabdian untuk rakyat. Itu juga yang saya pegang dalam hati.
Puluhan tahun yang lalu, saya sempat tiga periode di kepengurusan DPD Golkar Sumbar. Dua periode di antaranya sebagai pengurus inti. Kemudian di era reformasi saya memilih kembali jadi PNS, setelah sempat menjadi anggota DPRD Sumbar
Saat itu saya tak mengerti kenapa saya bisa diangkat sebagai koordinator Cenlitbanglhesa yang terdiri dari bidang Cendekiawan, penelitian , pengembangan, lingkungan hidup, energi dan sumber daya alam . Ini adalah bidang yang berat. Tetapi sebagai pengurus inti di Golkar secara struktur saya mesti siap menerimanya
Saya masih muda yang tak begitu tahu apa- apa pun untuk mengkoordinasikan tokoh-tokoh hebat antara lain Arman Danau, Bupati Solok, Ir., Surya Anwar, pembantu Rektor Unand termasuk pak Andi Mustari Pide, Rektor UNES. Itu menjadi kenangan dan pembelajaran bagi saya. Ternyata orang-orang hebat yang di bawah koordinasi saya itu sangat menghormati posisi saya. Tak segan- segan berdiskusi untuk keputusan yang akan diambil.
Mereka membesarkan saya setiap membahas isu seolah saya lah yang penting dalam keputusan itu. Mereka telah membuat saya yang tak percaya diri menjadiadi orang yang percaya diri. Saya ingat peran Prof Andi dan Pak Arman lah yang juga ikut membuat saya mampu berbicara di hadapan banyak orang dan belajar serta menata organisasi secara struktural.
Mengabdi di Dunia Pendidikan
Prof., Andi Mustari Pide adalah contoh nyata dari dedikasi dan komitmen terhadap pendidikan. Beliau telah mengabdikan dirinya seumur hidup untuk membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat.
Dengan visi dan misi yang kuat, Prof., Andi tidak hanya berbicara tentang pentingnya pendidikan, tetapi juga mengambil tindakan nyata untuk mewujudkannya. Beliau membangun kampus dengan dana sendiri dan mendirikan Perguruan Tinggi Universitas Eka Sakti, yang menjadi bukti nyata dari komitmennya terhadap pendidikan.
Penghargaan-penghargaan yang beliau terima dari pemerintah dan masyarakat adalah bukti dari kerja keras dan dedikasinya yang tidak kenal lelah. Beliau juga sering diminta sebagai narasumber dan pemikir untuk membangun Sumatera Barat, terutama dalam bidang pendidikan.
Apalagi saya waktu itu sebagai Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan , Badan Litbang Prof Sumbar, sering bermitra dengan dunia kampus untuk membicarakan strategi pembangunan Sumbar sesuai bidang saya. Kepala Balitbang pada waktu itu adalah Prof., H. Ir., Nurzaman Bakhtiar.
Dr Agus Salim, pejabat penting UNES waktu itu sering hadir dalam diskusi dan kajian ilmiah di kantor saya, Balitbang di jalan Rasuna Said.
Suatu saat Prof Andi dan Dr Agus Salim menawarkan saya untuk mengajar di UNES , sebagai dosen terbang, karena katanya praktisi juga dibutuhkan di kampus. Sebagai PNS yang juga Akuntan saya merasa ini kesempatan bagus. Saya sempat mengajar beberapa tahun di Fakultas Ekonomi.
Lama-lama Prof Andi juga mendorong saya untuk mengambil S3. UNES akan membiayai sepenuhnya. Tapi ada syaratnya, saya harus mengajar full.
“Berhenti jadi Pegawai Negeri, PNS tak menjanjikan apa-apa, sebagai orang cerdas kamu layak meraih profesor, setelah itu Sastri bisa disiapkan jadi Rektor UNES.”
Saya tersenyum dan tidak percaya dengan diri saya sendiri atas optimisme yang dimotivasi pak Rektor. Seolah tak ada orang lain di kampus itu. Padahal banyak orang-orang hebat teman- teman saya di kampus itu.
Lagian Dr Agus Salim waktu itu yang membuka ruang untuk saya mengajar di UNES. Tentu dia akan berharap jadi rektor. Makanya saya hanya ketawa saja. Lalu perbincangan itu terputus begitu saja. Saya tetap mengajar di Fekon UNES untuk beberapa mata kuliah Akuntansi seperti Akuntansi Manajemen dan segala turunannya. Tentunya tetap sebagai dosen tamu sampai kemudian saya pindah tugas ke kementrian Dalam Negeri di Jakarta.
Kepergian beliau yang tiba-tiba membuat saya tak sempat hadir di pemakamannya.
Kenangan manis, kebaikan hati, kepedulian dan pemikirannya masih membekas di dalam pikiran dan hati saya. Prof Andi turut membentuk karakter saya. Pengaruhnya cukup besar bagi saya dan masyarakat Sumbar. Tak ada yang tak mengenal beliau.
Prof. Andi Mustari Pide bukan hanya seorang tokoh pendidikan, tetapi juga seorang inspirator dan teladan bagi generasi muda. Beliau membuktikan bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan komitmen yang kuat, kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam masyarakat.
Menuliskan kembali tentang tokoh sekelas Prof Andi sangat penting. Saya patut mengucapkan rasa bangga dan salut saya pada penggagas buku ini. Buku ini InsyaAllah akan menjadi buku inspiratif bagi kita semua. Bagi anak muda, mahasiswa, dosen, politikus, budayawan, seniman, wartawan dan birokrat agar kita bisa mengambil hikmah. Selamat membaca!
Semoga Prof., Dr., H., Andi Mustari Pide., SH., bahagia di sana sesuai amal ibadahnya. Aamiin
Mantan Birokrat, Aktivis, Sastrawan, Founder YSTI dan IMLF *)
