Cerpen : A. Sabbani*)
Mengapa kalimat indah nan tampak meyakinkan itu merenggut apa yang seharusnya bisa Aku genggam? Mengapa mulut semanis mereka harus memuntahkan kotoran di sekitar telinga ku? Mengapa? Mengapa mereka selalu membohongi anak-anak polos sepertiku? Aku diam mendengkam di sudut khayalan. Bungkam.
Pikiranku terus menari-nari dalam keheningan merobek dan mencakar otak kecil ini. Bodoh! Parauku dalam bisu. Bulir air terus mengalir membentuk parit kecil di pipi tirus, meratapi dusta yang silih berganti menyayat leher.
“Apa salah anak kecil ini, Tuhan? Apa salah diriku? Mengapa harus Aku? Aku selalu patuh dan menurut bukan? Mengikuti apa yang Bu Guru itu katakan, dan apa yang Pak Guru ucapkan, tapi kenapa harus Aku?” Kutukku menatapi langit kamar usang. Keropos genteng menghiasi langit-langit kamar.
“Rasanya tak pernah sedikit pun diri ini membangkang,” gumamku lemah.
***
1963
Terik matahari menyelimuti bumi gersang tempat warga kampung bernaung. Panas. Tak sedikit pun angin menemani siang itu. Namun hiruk pikuk warga tetap memenuhi langit-langit kampung. Beberapa warga lari terbirit-birit menuju kantor lurah kampung tersebut, diiringi dengan kicauan mulut mereka.
“Pak Mulih, tidak ikut ke kantor lurah?” Tanya salah seorang warga kampung.
“Ada apa memangnya di sana?” Tanya Pak Mulih sembari bersandar pada kursi tua buatannya sendiri.
“Itu loh Pak, ada yang bagi-bagi sembako sama peralatan tani di sana, kita kan petani miskin, masa iya rezeki siang siang begini ditolak,” ucap salah seorang warga tersebut sambil tertawa ringan.
Tanpa pikir panjang, Pak Mulih bergegas mengikuti aliran warga yang terbirit-birit menuju kantor lurah. Menemui banyak wajah, menyapa dan tertawa sumringah. Kantor lurah sesak, penuh akan manusia-manusia yang haus akan sembako. Berbincang, tarik menarik, bahkan berteriak sesama warga.
Tak seorang pun yang bisa bersabar, hingga salah seorang dari kelompok pembagian bantuan berteriak, “DIAM!! Semua warga harus mengantri dan menandatangani nama masing-masing setelah mendapatkan sembako dan alat tani!”
Warga dibantu mengantri oleh sekelompok orang panitia, Pak Mulih pun mendapati antrian yang tak jauh dari kantor lurah. Memang antriannya panjang, tapi Pak Mulih tidak terlalu jauh di belakang.
“Nama?” Tanya kelompok tersebut.
“Mulih Sapri,”
“Tanda tangan di sini!” Telunjuk salah satu orang dari kelompok tersebut mencium kolom sebelah nama. Pak Mulih menyeringai, mengangguk dalam.
Setelah mendapatkan sembako dan alat-alat bertani, Pak Mulih berjalan menyusuri ruas jalan tanah kampung. Melewati antrian dan kerumunan warga yang lain. Hingga di penghujung antrian, Pak Mulih menyapa salah seorang dari kelompok tersebut yang berdiri rapih mengawasi.
“Maaf sebelumnya Pak, bantuan ini dari siapa sebenarnya, Pak?” Sapa Pak Mulih sembari menggendong sembako di pundak.
“Dari kelompok kami, Pak, kelompok yang akan membuat semua warga merasakan hal yang sama di negara ini, tak ada ketimpangan ekonomi dan sosial di antara kita,” senyumnya tipis.
Pak Mulih hanya mengangguk, matanya memancarkan sinyal takut. Pak Mulih berlalu tanpa salam meninggalkan kawasan kantor lurah. Sembako bertengger di kulit keriput Pak Mulih, tatih langkahnya menuju rumah. Pak Mulih Menunduk.
***
1979
“Siapa di sini yang tak mandi sebelum sekolah?” Tanya Bu guru usil. Anak-anak SD tertawa riang menunjuk ke arahku. Aku diam. Kaku. Tak membantah sedikit pun. Tawa mereka memenuhi langit-langit kelas, kelas tempatku belajar.
Kelas yang selalu menjadi saksi Aku lah anak paling rajin yang akan membanggakan masa depan. Aku duduk di depan. Tepat di bangku depan meja guru. Menyimak semua kata yang keluar dari mulut guru-guru.
Patuh akan semua perintah dan saran yang mereka berikan padaku. Bermain? Tertawa? Dua hal yang sangat ku benci. Itu hanyalah sesuatu yang akan membuatku gagal nantinya. Orang tak berpunya tak layak berleha-leha di masa belajarnya, itu yang selalu Aku tanam dalam di jiwa.
“Tenang anak-anak, jangan ribut ya! Tidak mungkin Jon tak mandi sebelum sekolah, Jon pasti ke sekolah dalam keadaan apa?” Tanya Bu guru. “RAPIH!!” Kompak murid kelas menyorakiku. Aku hanya menunduk.
“Dalam hidup ini, kita harus rajin, rajin mandi, rajin belajar agar mendapat masa depan yang cerah, kalau malas belajar sama hal nya dengan membuat masa depan yang suram, seperti pepatah ‘Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya,” Ucap Bu guru menuhi ruang telingaku.
Kata-kata itu menusuk tajam di hati serta jiwa. Mengiang-ngiang dalam benak. Aku tertegun. Menatap tajam mulut Bu Guru. Lantas,
“Apa rajin itu akan membuat ku sukses di masa depan, Bu?” Aku memotong penjelasan Bu Guru.
“Tentu, Jon. Rajin itu pondasi kuat seseorang untuk sukses, jadi untuk anak-anak sekalian, rajin-rajin lah dari sekarang, jangan sampai nanti di masa depan kita menyesal karena tidak rajin belajar, paham!!” Tegas Bu guru menutup sesi belajar hari ini.
Otakku seolah terus dipenuhi pepatah tadi. Kata yang terus berputar di kepala. Duduk di kamar usang mengenakan pakaian lusuh, Aku menatap cermin tua peninggalan kakek sejak delapan tahun yang lalu. Menatap dalam. Tampak wajah kusut yang harus mengubah keadaan keluarga. Diam. Sesekali mata ku berkedip.
“Apakah rajin belajar benar-benar bisa membuat seseorang sukses? Kata-kata Bu guru tadi tidak salah bukan?” Bisikku dalam hati. Cermin menjadi saksi bisu akan harapan ku hari ini.
“Jon, tolong beli telur sama garam di warung, Nak!” Pekik Ibu dari dapur.
Aku melangkah gontai ke dapur tua yang dibentengi dengan dinding seng. Sempit? Tentunya. Itu sudah menjadi hal biasa di keluarga ini. Asap tungku menyebar ke sela-sela lubang kecil dinding seng tadi, lubang bekas paku yang pernah tertancap di sana. Keropos. Aku memandangi Ibu dari kejauhan meniup-niup api. Seketika Aku meraih seratus tiga puluh rupiah di kotak penyimpanan dekat Ibu.
“Itu saja kan, Bu?”
“Iya, cepat sana ke warung, Jon, buat makan siang kamu itu,” ujar Ibu sambil meniup api tungku.
Tak lama, Aku berdiri kaku di samping Ibu. Diam menatap rambut kering Ibu yang sudah memutih sebagian. Ibu tak menyadari kehadiranku. Aku menatapnya lamat-lamat.
Sampai Ibu menoleh ke belakang, “Astaga Nak!! Kalau udah sampai bilang, Nak! Jangan diam saja begitu! Kamu buat Ibu terkejut, Jon,” sesak napas Ibu karena Aku berdiri diam bak patung bundaran HI.
“Bu, kenapa kita miskin?” Tanya ku polos.
Ibu terdiam sejenak. Semenit memandangi lantai tanah dapur. Lantas menimpal pertanyaanku.
“Mau bagaimana lagi, Nak, Ayah dan kakekmu meninggal dalam kurun waktu yang sangat dekat, tujuh tahun terakhir mereka pergi,” mata Ibu yang sudah redup itu berkaca-kaca. “Hanya kita berdua yang tersisa di rumah ini, Nak,”
Aku termangu.
“Apa Aku harus rajin belajar supaya kita tidak miskin lagi, Bu? Supaya sukses? Tadi di sekolah Bu Guru bilang, kalau ingin sukses di masa depan harus rajin belajar,” ucapku datar.
“Iya, Nak, kamu harus rajin belajar dari sekarang sampai kuliah supaya kamu bisa jadi PNS, Nak! Kalau jadi PNS, gajimu udah aman sampai mati, dan kamu tidak akan miskin lagi seperti sekarang, ditambah PNS itu pekerjaan yang bagus di masa ini,” senyum Ibu menyapu bulir-bulir air yang terus membanjiri pipi keriputnya. Senyum tertoreh di wajah tuanya. Aku mengangguk semangat.
Waktu terus berlari sekilat cahaya. Membuat siapapun tak menyadari bahwa waktu terus mengubah apapun. Dua tahun, tiga tahun, enam tahun, puluhan tahun. Tubuh kecil ini telah disulap menjadi tubuh yang tinggi namun tetap saja diselimuti kulit kusam. Tidak berisi.
Tahun demi tahun terus ku lalui dengan kata ‘Rajin’ di benakku. Hanya itu. Berbagai gelar mengalungi leher kering ini. Berbagai sertifikat menghiasi dinding kayu tua rumah. Berbagai piala memenuhi lemari sekolah-sekolahku.
Tak seorang pun yang tak mengenal kehebatan diriku. Namun kehebatan itu tak selalu menumbuhkan senyum di wajah orang-orang yang ku kenal. Aku selalu juara dibidang akademik, akan tetapi Aku kalah dalam hal membuat siapa pun suka padaku sehingga sebutan ‘Si Batu Nomor Satu’ melekat erat.
Awalnya, perasaan gundah menggerogoti benak karena sebutan itu. Kadang badan ini terasa panas dingin ketika teman-teman sebaya ataupun tetangga memanggilku dengan istilah tersebut seakan percuma saja menempuh waktu yang telah lewat. Namun, ketika dapur tak lagi berasap, di sana lah semangatku untuk ‘Rajin’ selalu muncul.
1990
“Bu, hari ini Aku ada tes PNS guru, tes tulis, mohon doanya, Bu,” pintaku pada Ibu di halaman rumah sembari duduk terdiam bersandar di kursi kayu tua buatan almarhum kakek, memandangi lalu lalang warga. Ibu hanya diam.
“Bu…” panggilku pelan. Ibu senyap mengulum kata-kata. Sekali lagi, “Bu, Ada apa, Bu?” Aku menyentuh tangan keriput Ibu, Ibu tertegun. Gagap.
“Apa, Nak?” Ibu bertanya balik. Aku tersenyum tipis.
“Ibu kenapa? Kok diam terus?”
“Bukan apa-apa Nak, Tadi Pak Bah datang, tapi bukan apa-apa kok, Kamu sekarang fokus saja ke ujian PNS mu, moga-moga lulus ya, Nak,” Ibu menutupi kesedihan dengan senyum rapuh, tersirat nestapa yang amat dalam di jiwa tua itu. Pak Bah? Siapa Pak Bah? Mengapa Pak Bah datang? Kenapa Ibu tampak sedih. Ah, entahlah. Tak sedikit pun kisah sedih itu tertulis di lembaran hidupku.
Hari-hari datang silih berganti seusai ujian masuk PNS. Aku selalu menantikan pengumuman kelulusannya. Jantungku berdetak kencang setiap hari.
Perasaan tak karuan. Aku sangat berharap namaku tertulis di koran pengumuman ujian masuk PNS tahun ini. Agar Aku dan Ibu tak lagi menangis dikala tak ada yang bisa diasapi di dapur dan tak lagi menahan raungan lambung dikala Aku dan Ibu harus mengikat perut dengan batu.
Aku berjalan pelan ke penghujung jalan kampung, menanti pengirim koran lalu lalang. Warga kampung tak terlalu antusias. Namun, ada juga yang bertanya, apakah Aku lulus atau tidak. Aku melirik kiri kanan, mengamati hiruk pikuk jalanan kampung.
Tak sedikit derik kayuhan sepeda tua melewati jalan tanah tersebut. Gelak tawa anak-anak pecah, mereka kejar-kejaran di sekitaran tempat ku berdiri. Aku tersenyum tipis.
Dari kejauhan tampak seorang sepuh mengayuh sepeda tuanya pelan. Melempar-lempar koran ke halaman rumah-rumah warga. Bapak tua itu selalu menyapa pelanggan koran.
“Kamu pasti menunggu koran dari saya kan?” Bapak tua pengirim koran itu memamerkan gigi palsunya.
Aku mengangguk pelan. Senyum tipis.
“Ini, ada pengumuman kelulusan PNS hari ini, mudah-mudahan ada namamu di sini,” Bapak itu menyerahkan satu koran padaku. Lantas meninggalkan ku sendiri. Hmm…Dari mana Bapak itu tahu kalau Aku memang menunggu kelulusan PNS. Ah, sudahlah.
Tanpa pikir panjang, mata ku tertuju ke halaman pengumuman. Mata ku naik turun memindai nama-nama orang yang lulus. Hingga disatu kolom.
“Jon Mulia – II/a Pengatur Muda – Guru SD – 15/05/1990 – 1990 – SPG Negeri A – SPG/CPNS 1990/Prajabatan,”
Format koran tersebut membuat mata ku berbinar. Aku seketika berlari ke rumah. Senyum lebar. Kebahagiaan terlukis jelas di wajahku. Sembari menggenggam erat koran, Aku berlari kencang tanpa menghiraukan orang sekitar. Warga kampung sedikit bingung. Namun tujuanku hanya satu, memberi tahu Ibu bahwa anaknya lulus jadi PNS.
“Bu, syukur Bu, Aku lulus jadi PNS, Bu, Aku bisa jadi guru, Bu,” Aku terhuyung berlari mendekati Ibu. Mengembangkan halaman koran tadi dan menunjukan kolom namaku. Haru. Ibu memelukku erat. Bilur air matanya terjun bebas membanjiri baju lusuhku.
Meskipun itu tangis Ibu, namun kebahagiaan dirinya terpancar jelas dari senyumnya. Ibu tak berkata apa pun. Ibu bisu dalam hangatnya pelukan. Tangis. Haru. Senang. Bahagia. Bercampur aduk dalam satu waktu. Suasana rumah penuh akan kegembiraan. Ibu menangis bahagia selama tiga puluh menit. Aku pun tak sanggup berkata-kata.
“Apa lagi yang harus kamu persiapkan untuk CPNS ini, Nak?” Tanya Ibu menyeka air mata.
“Banyak Bu, memastikan berkas-berkas sudah aman, misal Ijazah, surat keterangan sehat, surat bebas narkoba, surat keterangan lingkungan dll, habis itu Aku ikut Diklat Prajabatan seperti pelatihan CPNS lah Bu, setelah itu nunggu SK dan tanggal mulai tugas, Bu,” jelasku panjang lebar.
Ibu mengangguk-ngangguk seolah Ibu memahami semua yang Aku katakan. Namun begitulah Ibu, meski tidak memahami sedikit pun, Ibu selalu mengiyakan celotehku.
“Persiapkan lah, Nak, teliti, dan hati-hati ya!!”
Aku mengangguk semangat. Lantas memeluk Ibu erat.
“Ternyata benar ya, Bu, kalau rajin itu bisa membuat siapa pun sukses,” bisikku pelan. Ibu tak membalas.
***
Hari-hari meninggalkanku tanpa jejak.
“Sialan! Bangsat! Bajingan! Kenapa harus Aku!!” Umpatku memukul lemari pakaian. Aku terjatuh. Berlutut menempelkan kepala ke lemari. Kertas di tangan ku genggam erat. Air mata tak dapat lagi kutahan. Aku memukul-mukul kepala.
“Bodoh! Jon Bodoh! Tak ada gunanya Aku rajin selama ini,” Aku terus berteriak mengerang. Kepalaku tak lepas dari pukulan.
“Ada apa, Nak? Mengapa kamu begini? Apa yang terjadi?” Ibu menahan tangan ku yang terus memukul kepala. Aku melawan. Ibu terkejut, pucat. Wajah ibu pucat. Takut. Cemas.
“Aku goblok, Bu! Aku tolol!!” Teriakku keras.
“Goblok apa? Tidak ada yang goblok! Kamu kenapa, Nak?”
“Aku gagal jadi PNS, Bu! Aku gagal!”
“Gagal?! Kamu kan udah lulus?!” Ibu terkejut tak kepalang. Ibu melihat kiri kanan, memutar kepala tuanya. Mencari dan meraba koran kelulusan kemarin. Ibu mencari halaman namaku. “Lihat ini Nak, ada nama mu kan,”
“Bu, Aku sudah dinyatakan gagal oleh negara, Bu! Padahal Aku tidak buat kriminal apa pun, Bu, Aku tidak narkoba, tidak membunuh, tidak mengambil hak orang lain, Bu,” Aku memukul dadaku, sesak.
“Bu, lihat kertas ini, Bu! Karna kertas keterangan lingkungan ini, Aku gagal Bu, padahal Aku tidak pernah gabung partai terlarang itu, Bu, Aku dibilang ada hubungan sama partai itu, padahal, ah, mana pernah Aku menentang negara, Bu, tapi Aku, ah bajingan!” Kata-kata kotor itu selalu Aku muntahkan.
Ibu tertegun. Wajahnya pucat. Tak percaya. Ibu mengelus dada.
“Siapa yang memeriksa surat ini, Nak?” Tanya Ibu gemetar.
“Pak Bah namanya, Bu,”
“Pak Bah?” Ibu semakin terkejut. “Kenapa harus Pak Bah, Nak?”
“Emangnya kenapa Pak Bah, Bu? Toh Dia kepala sekolah SD tempat Aku seharusnya kerja, makanya ku titip langsung ke dia, Bu,” ujarku serius.
“Bodoh kamu, Nak, Bodoh! Kamu seharusnya tanya dulu, dia siapa, Pak Bah itu orangnya paling benci sama kakek, sama ayah,” Ibu menunduk meremas rambut putihnya.
“Benci kenapa, Bu? Apa yang Ayah sama Kakek perbuat, Bu? Kalau pun iya, kenapa sampai melibatkan ku, Bu?!” Amarahku semakin memanas. Aku kesal, kenapa harus melibatkan Aku sekarang. Kenapa Ayah? Kenapa Kakek? Ah, sialan.
“Ayah pernah membawa lari uang Pak Bah di tahun sebelum ayah mu meninggal. Uang yang dilarikannya cukup banyak kala itu, sekitar satu jutaan, dan Ibu lah yang menyicil uang itu sampai sekarang. Ayah mu tergila-gila dengan wanita dan judi, hingga ia tak punya uang seperser pun. Namun hari itu ia meninggalkan Ibu dan pergi ke kota besar untuk menemui perempuannya, namun naasnya ia ditikam perempuan tersebut, lalu meninggal. Hutangnya? Hah, Ibu lah yang harus bayar ke Pak Bah,” Ibu menunduk. Aku termangu. Bungkam.
Ibu melanjutkan, “Kakek? Mungkin ini yang membuat mu gagal jadi PNS, Nak, Pak tua malang itu. Ia hanyalah seorang tua ringkih miskin, namun kehidupan tak sekali pun berpihak padanya,”
“Kakek kenapa, Bu?”
“Kakek mu pernah mendapat bantuan di tahun enam puluhan dari kelompok yang mengatasnamakan partai itu, dan setiap yang menerima bantuan harus tanda tangan atau cap jempol. Kakek tua itu tak tahu sedikit pun kalau bantuan itu akan mencelakakannya, Ah, Kek Mulih yang malang.
Untungnya ketika razia besar-besaran setelah tahun enam lima, siapa pun yang berkaitan dengan partai, walaupun hanya sebatas menerima bantuan, semua ditangkap kecuali kakekmu.
Entah bagaimana ia bersembunyi. Hingga warga kampung membenci kakek karena selamat sendirian kala itu, termasuk keluarga Pak Bah, juga membenci kakek karena itu,” detail Ibu menjelaskan. Ibu menunduk menyeka air mata.
“Kenapa baru cerita sekarang, Bu?” Sesak napasku bertanya. Mataku memerah.
Ibu diam sejenak.
“Kenapa, Bu?!!” Pekik ku memecahkan gendang telinga.
“Ibu tak sanggup Nak, kisah ini terlalu berat untuk diceritakan, Nak,”
“Tapi karna kisah ini Aku gagal jadi PNS, Bu!! Aku gagal sukses, Bu! Aku gagal loh, Bu!! Percuma saja Aku rajin belajar selama ini, Bu! Lelah-lelah belajar, tidak punya teman dengan siapapun, menahan diri agar tidak main-main, karna bagiku orang miskin tak boleh hidup santai.
Aku belajar setiap hari, angkat-angkat barang di pasar, selalu berpikir dengan rajin ini akan membuat kita keluar dari garis kemiskinan. Tapi apa, Bu? Aku malah gagal? Gagal yang bukan Aku sebabkan sendiri,” Aku membanting pintu lemari marah, menangis.
Ibu membuka selembar kertas yang tadinya Aku genggam kuat. Ibu membaca pelan kertas tersebut. Hitam matanya melirik dari kiri ke kanan. Surat tersebut menyatakan Aku gagal jadi PNS karena terlibat sebagai keturunan antek-antek partai yang dilarang negara.
Tapi, kakek hanya menerima bantuan bukan? Kakek tidak pernah mendukung partai itu bukan? Kakek hanya orang miskin yang diberi bantuan bukan? Tapi kenapa imbasnya harus kepadaku? Kenapa?
“Sukses, sukses, sukses, sukses taik anjing! Apanya yang sukses?! Percuma saja Aku rajin, toh Aku orang gagal,” Aku tertawa seringai. Mata berkaca-kaca. “Pembohong!! Kalian semua pembohong! Mana ada rajin belajar bikin kita sukses!
Lihat itu anak Pak Jamal, dia murid paling bodoh di kelasku, namun sekarang dia bisa kerja perusahaan ternama di ibu kota. Kenapa dia bisa, Bu? Rajin? Tidak! Pintar? Tentu tidak! Tapi mengapa anak paling bodoh itu bisa kerja di ibu kota? Karna bapaknya yang punya saham terbesar di perusahaan itu. Baru satu contoh, Bu! Satu lagi, mana ada hemat pangkal kaya!
Toh, Ibu tetap miskin, seberapa hemat Ibu sejak Aku kecil, tetap saja kita miskin kan. Ibu ingat Manaf? Teman SMA ku paling kaya dulu, seberapa boros hidupnya dari dulu sampai sekarang, tiap hari main judi. Sekarang miskin kah dia?
Tidak, Bu! Dia tetap kaya, Bu, dan dia bisa jadi polisi sejak tamat SMA, Bu, bukan karna rajin, bukan karna berprestasi, tapi karna duit bapaknya, Bu! Tidak perlu belajar dan latihan, cukup dengan duit banyaknya jadi polisi, Bu. Ah, dasar Pembohong!
Pembohong kalian semua! Guru-guru pembohong! Orang-orang yang menyuruhku rajin sejak kecil juga pembohong! Dan Ibu pun ikut-ikutan bohong padaku kan?! Jujur, Bu!!” Teriakku memukul kepalaku sendiri.
Ibu mengurut dada. Bisu. Mata tuanya basah. Namun Ibu hanya memandangiku. Ibu meremas-remas kertas tadi. Aku meringkuk di lantai semen rumah. Memukul-mukul kepala dan terus bergumam, “Gagal, gagal, gagal,” tak sedikit pun Aku bisa menahan amarah dan air mata ini.
“Apa orang miskin tak boleh sukses, Bu? Apa orang miskin seperti kita harus terperangkap dalam kemiskinan struktural ini, Bu?”
Hening. Aku lelah mengumpat. Ibu bersandar di dinding kayu kamar. Menahan sesak di dadanya. Tak berkata sedikit pun. Lima menit berlalu. Lantas,
“Gagal menjadi PNS bukan berarti gagal menjadi seorang yang sukses. Mungkin dulu Ibu salah meminta mu untuk rajin, namun rajinnya kamu bukanlah sebuah kesalahan,” Ibu menyeka air mata. “Memang, kalau ingin berhasil tak selalu dengan cara yang benar.
Memang, orang bodoh dan orang malas sekali pun bisa lebih sukses dari pada yang rajin. Mungkin cara mereka lebih licik, cara yang hanya memikirkan diri sendiri. Ibu tau itu semua. Ibu tau kita terjebak dalam pola ini. Ibu tau Ibu sendiri tak akan bisa melepas diri dari rantai kemiskinan ini.
Tapi, dengan kata ‘Rajin’ yang selalu kamu salah-salahkan itu, kamu jadi tau bedanya antara yang baik dan yang buruk. Kamu jadi tau dengan orang-orang yang selalu menjadikan perut mereka kenyang dengan cara apa pun dan kamu tau itu salah.
Kamu pun tau kalau orang-orang yang terus menjilat agar memiliki uang yang banyak itu salah dimatamu. Kamu tau hal itu. Tapi begitu lah cara orang bertahan hidup di zaman ini. Jadi, percumakah kamu rajin? Apakah sia-sia rajin mu selama ini? Kamu mungkin gagal dalam materi, namun bagi Ibu, kamu sudah sukses dengan ‘Rajin’ tadi.
Kamu sudah sukses menjadi anak Ibu, Nak. Tak usah pikirkan PNS itu lagi. Memang dulu Ibu sangat berharap kamu jadi PNS karna itu pekerjaan yang gajinya stabil. Namun, banyak usaha yang benar di luar sana, Nak. Meskipun kita miskin sekarang, dengan caramu, Ibu yakin kita tak akan miskin lagi. Sukses tak selalu dalam hal menjadi seorang PNS,” panjang lebar Ibu menimpal sumpah serapahku.
“Tak sepatutnya kamu mengumpat menyalah-nyalahkan ‘Rajin’ yang kamu lakukan selama ini. Begitu pun orang-orang yang menyuruhmu untuk rajin sejak kecil. Tujuan mereka tak lain untuk kebaikan mu juga, Jon. Lihat, kamu bisa memahami banyak hal di luar yang bisa perempuan tua ini pahami.
Sebab apa? Rajin. Kamu juga bisa membedakan mana yang seharusnya baik, mana yang sudah terjadi itu buruk. Sebab apa? Kalau bukan karna sifat ‘rajin’ yang kamu kutuk itu. Gagal? Kamu hanya gagal di bidang ini.
Ya, itu kebetulan yang menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi? Itu tak bisa kita hindari. Dari Ibu satu saja Jon, maafkan ayah dan kakek mu karna membuat mu terpuruk seperti sekarang,”
Aku termenung. Meringkuk. Menatap lantai semen diam. Bungkam. Hening. Ibu mendekat, membelai rambutku. Tangan Ibu terasa sangat nyaman di kepala. Namun Aku memilih tak berkata apa-apa. Ceramah Ibu yang begitu panjang berkeliaran tak karuan di benakku. Merenung. Kertas tanda kegagalanku remuk tak jelas. Gagal?
Benar juga kata Ibu, Aku tak sepenuhnya gagal. Aku hanya tak diterima sebagai PNS. Masih banyak cara untuk menjadi sukses. Namun, masih terbesit kekecewaan dalam jiwa karena Aku gagal. Ah, berat rasanya, tapi ya sudahlah.
“Ibu mau masak buat makan malam kita, kamu tenangin diri dulu, tidur, nanti kalau sudah tenang, kamu Ibu bangunkan untuk makan,”
Aku berbaring telentang, mengangguk pelan sembari menatap kosong ke langit-langit kamar. Apa Aku seburuk itu? Mengumpat? Mengutuk? Menyalah-nyalahkan semua orang. Ah, perasaan yang bercampur aduk ini membuat benakku meraung.
Aku menutup kepalaku dengan lengan kurus ini. Tapi kan Aku gagal bukan karena diriku, mengapa harus Aku? Ah, mengapa harus Ibu yang minta maaf kepada ku? Aku diam sejenak. Mataku pejamkan. Merebahkan tubuh cakung ini di lantai semen kamar. Terlelap.
Tak lama Aku sudah duduk di karpet rajut di tengah rumah. Karpet lusuh dengan sobekan yang sudah mejadi ciri khasnya. Dua piring plastik yang berisi nasi terhidang di hadapanku. Satu mangkok dengan sayur garam di dalamnya.
Aku memandangi makanan yang tersaji. Diam. Ibu datang dari dapur membawa ceret dengan air panas di dalamnya. Di tangan kanannya bertengger dua gelas plastik. Ibu tersenyum.
“Yok, dimakan, Nak,”
“Bu,” sapaku pelan. Muka ku pucat.
“Ya, kenapa, Nak?”
“Maafkan Aku, Bu,” bisikku pelan.
“Ya, tidak apa-apa, Nak. Hal biasa itu untuk anak muda seperti mu, Nak.” Balas Ibu tenang.
“Maafkan semua kesalahan ku selama ini, Bu,” Aku meraih tangan keriput Ibu, menangis. Ibu tersenyum manis padaku. []
Nb : Cerita hanya fiksi belaka.
A. Sabbani lahir di Apa Jaya, suatu simpang kecil di Pesisir Selatan, 23 Oktober 2002. Menulis yang merupakan acuan pertama kali baginya dalam dunia sastra menjadikannya jatuh cinta dengan merangkai kisah. Tak hanya cerpen, dia kerap meluapkan kisah dalam novel, naskah film, dan terkadang puisi pun tertoreh dalam selembar kertas. Berbagai karyanya dimuat di laman daring, wattpad A. Sabbani. Ingin mengenalnya? Bisa kunjungi instagram @a.sabbani *)
