Oleh : Refdinal Castera, S. Pd, SM*)
LEBARAN Idul Fitri telah datang. Suatu momen yang ditunggu oleh umat Islam, karena merupakan hari kemenangan setelah berpuasa selama bulan Ramadhan. Datangnya hari Raya Idul Fitri, juga suatu yang dirindukan oleh anak-anak. Mereka bergembira ria bisa berkumpul bersama dengan kawan-kawan dan sanak famili.
Khusus daerah Minangkabau Sumatera Barat, ada suatu “kebiasaan unik” untuk anak-anak yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Nama kebiasaan itu adalah “manambang” di hari Raya Idul Fitri.
Manambang berasal dari kata tambang yang berarti mencari sewa atau penumpang. Istilah yang sering dipakai oleh sopir angkutan kota atau angkot untuk mencari penumpang atau muatan. Entah siapa yang memulai, istilah manambang itu sampai pula ke anak-anak disaat hari Raya Idul Fitri.
Mereka manambang dengan cara berkunjung ke rumah-rumah warga, kembalinya berharap dikasih uang yang diberikan oleh tuan rumah. Umumnya yang pergi manambang itu tingkatan anak-anak usia SD, sebagian usia SMP. Besar dari usia itu, mereka telah merasa malu, tak mau pergi manambang lagi.
Menyoal mengenai kebiasaan manambang, berbeda daerah beda pula yang cara dilakukan. Seperti di Kota Padang, Padangpariaman menambang itu, dilakukan oleh anak-anak dengan datang berombongan 2 sampai 10 orang ke rumah orang lain.
Biasanya yang dikunjungi oleh anak-anak itu warga yang tinggal di perumahan. Adakalanya anak-anak yang datang dihari Raya Idul Fitri itu, dari kelurahan dan kecamatan yang berbeda jauh jaraknya. Mereka datang berombongan, mengucapkan salam sambil berdiri di depan rumah atau pagar.
Mereka enggan masuk rumah untuk mencicipi kue dan sirup lebaran. Sekalipun ada ditawari oleh yang punya rumah. Mereka akan bertahan berdiri sampai ada reaksi dari orang yang punya rumah. Untuk solusinya yang punya rumah, mendatangi anak-anak itu sambil membawa uang recehan. Uang diberikan dengan jumlah nominal yang sama, anak bersalaman dengan tuan rumah, lalu anak pergi lagi ke rumah yang lain.
Biasanya anak-anak berkabar dengan sesama teman, berapa uang yang dikasih. Orang di rumah mana yang mengasih uang lebih banyak, biasanya ditandai. Dan tak jarang anak itu memberitahu hal itu kepada temannya yang lain.
Bahkan, ada diantaranya yang mengulang kembali datang ke rumah yang sama dengan menukar anggota rombongan. Intinya hari bahagia bagi anak, karena mereka tak perlu meminta uang jajan harian kepada orangtuanya lagi.
Anak manambang hari Raya Idul fitri di daerah Kabupaten Agam, Solok, Tanah Datar dan daerah lainnya, berbeda pula cara dan rumah yang mereka datangi. Anak datang ke rumah sanak famili, karib kerabat orangtuanya, dan tetangga yang mereka kenal. Baik itu keluarga dan famili dari pihak ibu atau ayah yang disebut juga rumah bako.
Anak datang bersama dengan orangtua, nantinya disuguhi makan-minum dengan ciri khas masakan atau samba randang daging sapi, gulai bagageh (baga) dan sup tunjang. Selain dari rumah yang tak ada hubungan keluarga, famili, anak yang manambang, tidak mau singgah atau mendatanginya.
Alasannya mereka merasa malu. Jadi anak manambang dihari Raya Idul Fitri itu, pilih-pilih dan tidak mengunjungi setiap rumah yang ada.
Lalu saat belebaran itu oleh orangtua, dijelaskan kepada anak, system kekerabatan antara mereka dengan keluarga yang dikunjungi. Aturan anak memanggil Uda, Uni, Pak Tuo, Pak Angah, Pak Etek, Etek Mak Tuo, atau Mamak sehingga anak mengenali famili yang mereka kunjungi dihari Raya Idul Fitri itu.
Jika orangtua tidak ikut pergi, boleh juga anak yang memperkenalkan dirinya mereka kepada keluarga yang dikunjungi. Biasanya sianak menyebutkan nama dirinya, nama orangtua seperti ibu dan ayah mereka.
Bagi yang masih kategori anak-anak, mereka mau pulang disalekkan pitih atau diberikan uang oleh orang yang punya rumah. Namanya pitih hari rayo. Nah, itulah yang disebut dengan manambang dihari Raya Idul Fitri.
Kembali kepada tradisi “unik manambang” di ranah Minang, dilakukan anak-anak, juga ada yang datang bersama orangtua. Hakikatnya adalah baik untuk mempertemukan-memperkenalkan-saling mengunjungi-saling silaturrahmi antara kekerabatan dari pihak keluarga ibu serta kekerabatan dari pihak keluarga ayah yang ada.
Namun tradisi manambang itu ada yang telah kebablasan sekarang, karena anak-anak itu manambang mendatangi semua rumah. Istilah tangguak rapek atau mengunjungi semua rumah yang ada. Paling sering yang mengalami, mereka atau warga yang bermukim di perumahan.
Tiba lebaran Idul Fitri, rumah mereka ramai didatangi oleh anak-anak yang tidak mereka kenal. Ada kalanya baru pergi satu rombongan, telah tiba rombongan anak-anak baru lagi. Bagi anak itu yang penting dihari Raya Idul Fitri, dirinya manambang atau mencari tambangan. Dapat uang.
Lalu kemana digunakan anak-anak uang dari hasil manambang itu? Nah, disinilah pentingnya posisi orangtua, mengingatkan anak tentang uang yang diperoleh dari hasil manambang. Karena ada anak yang membelikan uang tambangan itu, kepada pistol mainan berisi peluru plastik, menembakkan kepada kawan-kawan atau orang yang lewat berkendaraan.
Ada juga yang membelikan mainan mercon, petasan dan membunyikannya ditempat keramaian. Itu merupakan sisi negatifnya. Ada juga sisi positifnya, anak memasukkan uang hasil menambangnya itu ke dalam tabungan.
Kembali kepada kebiasaan unik manambang, oleh anak-anak dihari Raya Idul Fitri di ranah Minang. Diantara sisi baiknya, berkunjung ke rumah keluarga, famili dari pihak ibu dan ayah. Anak mengetahui status hubungan dirinya dengan keluarga yang mereka kunjungi. Bagi yang masih anak-anak, pulangnya disalekkan pula pitih atau diberikan uang, sebagai uang hari raya.
Tapi sisi kebablasannya, ada anak-anak yang manambang dihari Raya Idul Fitri, tidak hanya mengunjungi rumah kerabat, dan famili orangtua. Tapi datang berombongan, mengunjungi setiap rumah, tanpa perlu kenal dengan rumah siapa yang mereka kunjungi itu.
Semoga tulisan ini menjadi masukan, pandangan, dan perbandingan, agar anak-anak kita terhindar dari kebiasaan buruk yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan. []
Penulis, motivator, guru, konten kreator, dan youtuber.*)
