Oleh : Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein.*)
DIKSI “minal aidin wal faizin” laksana hujan meteor yang luruh di cakrawala Syawal; indah, berpijar, dan memenuhi angkasa dengan buhul tali harapan.
Ia bukan sekadar deret kata, melainkan sebait mantra suci yang melangit, memohon agar kita ditarik kembali ke dalam pelukan golongan mereka yang pulang ke muara kesucian (fitrah) dan mereka yang memetik mawar kemenangan.
Meski kata “fithr” (suci) dan “ifthar” (berbuka) ada makna yang dihazafkan —disembunyikan– namun berdenyut kuat. Secara tekstual, ia adalah tanda usainya puasa Ramadhan. Namun jauh menukik secara filosofis, ia adalah kerinduan jiwa untuk kembali kepada hakikat penciptaan manusia yang murni (QS. Ar-Rum: 30). Inilah fitrah Allah, sebuah warna asli yang telah ditorehkan Sang Khalik ke kanvas ruh manusia sejak mula.
Fitrah: Cahaya Murni dari Rahim
Fitrah adalah asal kejadian, sebuah kristal kesucian yang belum tersentuh debu dunia. Pemahaman dari Al-Qur’an, ia digambarkan sebagai bawaan murni sejak manusia masih meringkuk di kegelapan rahim—sebuah tauhid yang tegak dan kesiapan jiwa untuk mendekap cahaya Islam.
Meskipun badai lingkungan dan pola asuh mencoba mengaburkan warna aslinya, fitrah Allah bersifat abadi. Ia adalah kompas kebaikan yang tak pernah patah; sebuah kecenderungan alami untuk berbuat kebajikan dan mengakui keagungan Tuhan.
Inilah sejatinya insan beriman: mereka yang hatinya senantiasa diteduhkan oleh ketenangan dan dibasuh oleh kebahagiaan.
Zikir: Menuju Tuma’ninah
Al-Qur’an mengisahkan bahwa hati orang beriman adalah telaga yang tenang (tuma’ninah). Kebahagiaan ini tidak tumbuh di atas permukaan yang dangkal, melainkan bersumber dari iman yang menghujam, tawakal yang bulat, serta kerelaan merangkul takdir. Inilah yang membuat jiwa tidak mudah koyak oleh belati gelisah, takut, atau kekhawatiran atas ujian duniawi yang fana.
Namun, ketenangan itu tidak jatuh dari langit tanpa ikhtiar. Ia harus dijemput. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Ra’d: 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ketenangan ()sakinah) adalah embun yang diturunkan Allah secara khusus ke dalam palung hati mereka yang beriman (QS. Al-Fath: 4). Sabar dan tawakal menjadi sayap yang melapangkan dada, mengubah himpitan ujian menjadi keluasan samudera kedamaian.
Cakrawala Akhirat yang Abadi
Membaca, menghayati, dan merenung bersama ayat-ayat Al-Qur’an adalah penyembuh bagi psikis yang lelah; ia mengusir kabut pikiran negatif dan menggantinya dengan cahaya pemahaman. Fokus yang kita bangun bukan lagi sekadar mengejar bayang-bayang duniawi, melainkan menatap jauh ke cakrawala akhirat.
Dengan pemahaman yang komprehensif, kita menyadari bahwa kenikmatan dunia hanyalah fatamorgana yang semu. Dan ketika hati telah berlabuh pada Yang Maha Abadi, ia tak akan lagi mudah retak oleh kekecewaan, karena ia tahu ke mana arah pulang yang sejati.
Maka bila diksi “minal aidin wal faizin” merayap tuntas dan melebur ke jiwa dan hati, tentulah jiwa puasa Ramadhan akan abadi di dalam kehidupan masing-masing diri.
Penulis adalah Pengamat dan Pembelajar Pascasarjana Universitas Muammadiyah Sumatera Barat, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah 2025-2022 ; 2000-2005.*)
