Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana Bongkar Rahasia di Balik Prestasi Olahraga

Dari kanan: Dr Aqua Dwipayana, Hendri Parjiga, Hamdanus, Firdaus Abie, Revdi Iwan Syahputra disela-sela diskuski. (Foto ist)
Dari kanan: Dr Aqua Dwipayana, Hendri Parjiga, Hamdanus, Firdaus Abie, Revdi Iwan Syahputra disela-sela diskuski. (Foto ist)

DI sebuah sudut Kota Padang, tepatnya di kawasan Lolong S. Parman, Senin (30/3/2026) pagi mengalir seperti biasa. Tidak ada panggung megah, tidak pula forum resmi dengan deretan kursi berbaris rapi. Hanya obrolan santai, canda ringan, dan secangkir minuman hangat yang menemani.

Namun dari kesederhanaan itulah, lahir percakapan yang sarat makna.

Di antara yang hadir, tampak sosok Dr Aqua Dwipayana, dikenal luas sebagai motivator dan pakar komunikasi yang telah menjelajah berbagai penjuru negeri hingga mancanegara.

Duduk bersama Ketua KONI Sumatera Barat Hamdanus, Wakil Ketua Umum Revdi Iwan Syahputra, Sekretaris PWI Sumatera Barat Firdaus Abie, serta Kabid Humas KONI Sumbar Hendri Parjiga, suasana terasa akrab tanpa sekat.

Tak ada jarak antara pembicara dan pendengar. Semua larut dalam diskusi yang mengalir alami, tentang organisasi, olahraga, hingga hal paling mendasar: komunikasi.

Dr Aqua berbicara dengan gaya khasnya. Ringan, hangat, dan penuh energi positif. Ia tidak menggurui, melainkan mengajak berpikir bersama. Sesekali diselingi tawa, namun setiap kalimatnya mengandung makna yang dalam.

“Komunikasi itu terlihat sederhana, tapi dampaknya luar biasa,” ujarnya pelan, namun tegas.

Dalam suasana seperti itu, kata-kata terasa lebih jujur. Tidak dibuat-buat. Dr Aqua mengingatkan bahwa banyak organisasi sebenarnya diisi oleh orang-orang hebat, tetapi gagal berkembang hanya karena komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Baginya, komunikasi bukan sekadar bicara. Ada seni mendengar, memahami, dan merasakan. Ada ketulusan yang tidak bisa dibuat-buat.

“Kalau kita bicara dengan hati, orang lain akan merasakannya,” kata Staf Khusus KONI Pusat itu.

Secara khusus, Dr Aqua juga menyoroti pentingnya komunikasi yang konsisten antara KONI Sumatera Barat dengan seluruh insan olahraga di daerah. Menurutnya, hubungan yang terbangun tidak boleh hanya formal atau saat ada kepentingan tertentu saja.

“Komunikasi KONI dengan para atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, hingga stakeholder lainnya harus terus dijaga. Jangan hanya aktif saat ada event atau persoalan. Justru komunikasi yang rutin dan tulus itulah yang akan memperkuat kepercayaan dan soliditas,” tegasnya.

Ia menambahkan, keterbukaan informasi dan kemauan untuk saling mendengar menjadi kunci agar tidak terjadi miskomunikasi yang berpotensi menghambat prestasi.

“Kalau komunikasi lancar, koordinasi jadi mudah. Kalau koordinasi kuat, energi tim tidak terbuang. Dari situlah prestasi bisa lahir,” ujar Dr Aqua.

Pagi beralih menjelang siang, obrolan semakin hidup. Dari komunikasi, pembahasan mengalir ke soal hubungan dan silaturahmi. Aqua menekankan bahwa di balik setiap keberhasilan, selalu ada jaringan relasi yang terjaga dengan baik.

Silaturahmi, menurut putra Bungus Teluk Kabung, Padang, yang lahir di Padang Sidempuan, Sumatera Utara itu, bukan sekadar tradisi, melainkan kekuatan..

“Dari silaturahmi lahir kepercayaan, dari kepercayaan lahir kolaborasi,” ujar Dr Aqua.

Kalimat itu seperti menggema di antara mereka yang hadir. Terutama dalam konteks olahraga, di mana banyak pihak harus berjalan bersama—pengurus, atlet, pelatih, pemerintah, hingga media. Semuanya membutuhkan satu benang merah: komunikasi yang sehat.

Hamdanus mengangguk setuju. Baginya, prestasi olahraga memang tidak pernah lahir dari kerja individu.

“Kerja tim itu kuncinya. Dan kerja tim hanya kuat kalau komunikasinya baik,” ujarnya.

Revdi Iwan Syahputra menimpali dengan perspektif organisasi. Ia melihat komunikasi sebagai penguat koordinasi, sesuatu yang sering kali dianggap sepele, tetapi menentukan arah gerak sebuah tim.

Sementara Firdaus Abie, dari sudut pandang media, mengingatkan bahwa hubungan harmonis antara organisasi dan media juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem olahraga yang sehat. Informasi yang tersampaikan dengan baik akan membangun kepercayaan publik.

Di sisi lain, Hendri Parjiga melihat peran humas sebagai jembatan, menghubungkan semua kepentingan agar tetap berada dalam satu frekuensi yang sama.

Dalam diskusi itu tidak ada kesimpulan formal. Tidak ada notulen rapat. Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Obrolan mengalir, ide bermunculan, dan hubungan semakin erat.

Bagi Aqua, pertemuan seperti ini bukan hal baru. Ia justru percaya, banyak gagasan besar lahir dari ruang-ruang sederhana.

“Sering kali ide besar lahir dari obrolan kecil,” ucapnya sambil tersenyum.

Dan pagi menjelang siang di Lolong itu menjadi bukti, bahwa di balik upaya besar membangun prestasi, ada hal-hal sederhana yang tak boleh dilupakan: komunikasi yang tulus, hubungan yang hangat, dan kebersamaan yang dijaga.

Kadang, yang dibutuhkan bukan forum besar. Cukup duduk bersama, saling mendengar, dan berbicara dari hati. (jiga)

Exit mobile version