Paradoks Sa‘ādah: Antara Statistik dan Sujud

Oleh : Shofwan Karim Elhussein, Dr., MA., Drs., BA.,*)

KETIKA The Global Flourishing Study (GFS) 2025 merilis laporannya, dunia seakan mencoba memotret pelangi dengan kamera hitam-putih. Melibatkan 207 ribu jiwa dari 23 negara, kolaborasi antara Harvard, Baylor, dan Gallup ini berusaha menyingkap apa yang mereka sebut sebagai human flourishing—sebuah simfoni kesejahteraan yang terdiri dari enam dimensi: tubuh yang sehat, jiwa yang tenteram, makna yang mendalam, moral yang teguh, relasi yang hangat, serta materi yang mencukupi.

Indonesia, dalam lanskap angka itu, tampil sebagai anomali yang memesona—salah satu bangsa paling bahagia di dunia. Namun di balik senyum yang terekam, Presiden Prabowo Subianto menyuarakan nada getir: keharuan yang bercampur keprihatinan. Ia tahu, di balik wajah ceria rakyatnya, masih ada gubuk sunyi yang belum tersentuh kemakmuran.

Di sinilah paradoks itu berdiri: apakah kebahagiaan adalah capaian, ataukah penerimaan?

Kemilau harta tidak selalu menjamin benderangnya jiwa. Alexander Freund pernah bertanya: apakah bahagia itu bersemayam dalam pelukan keluarga, atau sekadar bayangan samar yang menari di dinding harapan?

Di negeri-negeri yang serba berkecukupan, gedung pencakar langit sering menjadi monumen kesepian. Materi melimpah, namun makna menguap. Manusia tetap musafir yang dahaga, mencari oase ketenteraman di tengah arus kapital yang menderu.

Kebahagiaan, pada akhirnya, bukanlah deretan angka statistik. Ia adalah tafsir batin atas setiap tarikan napas, setiap langkah kecil, setiap perjuangan sunyi. Namun ada ruang gelap yang belum sepenuhnya tersinari oleh instrumen ilmiah: di manakah letak spiritualitas dalam bangunan kebahagiaan itu?

Bagi masyarakat Indonesia yang religius, agama bukan sekadar variabel kontrol; ia adalah sumsum kehidupan. Dalam cakrawala Islam, kebahagiaan (sa‘ādah) bukan sekadar tawa lahiriah, melainkan harmoni kosmik antara dunia yang fana dan akhirat yang abadi. Al-Qur’an telah membisikkan rahasia: “Alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub”—hanya dengan mengingat Allah, hati menemukan pelabuhan paling tenang.

Bahagia, dengan demikian, bukan soal memiliki, melainkan soal menjadi. Ia bukan tentang menikmati, melainkan tentang memahami. Hidup bukan sekadar garis lurus menuju kemakmuran material, melainkan ziarah spiritual menuju puncak makna.

Barangkali inilah rahasia yang luput dari statistik global. Di tengah keterbatasan, manusia Indonesia masih memiliki auditorium batin yang luas, dipenuhi gema iman, syukur, dan sabar. Di ruang itu, kebahagiaan bukan angka, melainkan doa yang berdenyut.

Maka teks ilmiah tentang kebahagiaan baru menemukan ruhnya ketika bersentuhan dengan tradisi, nilai, dan keyakinan. Angka mulai bernapas ketika bertemu iman. Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diukur dengan mistar manusia, melainkan sesuatu yang direnungi dalam sujud. Ia adalah titik temu antara hiruk-pikuk dunia dan kesadaran akan Yang Maha Ilahi.

Mungkin, dalam diam yang paling sunyi, kebahagiaan itu tak perlu dicari di ufuk jauh. Ia telah lama bersemayam di hati—menunggu untuk disadari, disyukuri, dan pada waktunya dipersembahkan kembali kepada Sang Pemilik Jiwa.***

Shofwan Karim Elhussein, Dr., MA., Drs., BA., adalah Penulis Esai, Pengamat dan Pembelajar Pascasarjana UM Sumbar; Ketua PWM 2015-2022, 2000-2005; Wk Ketua MLH PP Muhammadiyah 2022-2027.*)

Exit mobile version