PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Dua buku diluncurkan dan dibedah Perpustakaan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5 Padang, masing-masing berjudul “Pemikiran Gen Z dari Kota Padang: Dari Isu Rumah Tangga, Hingga Persoalan Dunia (Kumpulan Esai Siswa/i SMAN5 Padang)” dan “Suara Hati Dari SMANLI (Kumpulan Puisi Siswa/i SMAN5 Padang).”
Peluncuran buku oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMAN 5 Padang Nurjanah Rahmadesi, S.Hum, M.Pd di ruang Perpustakaan SMAN 5 Padang, Kamis (9/4/2026), disaksikan Kepala Perpustakaan Ridha, S.Sos., M.M, majelis guru dan siswa yang karyanya dimuat dalam buku yang diluncurkan.
Turut hadir Sekretaris DPD Satupena Sumatera Barat Armaidi Tanjung yang sekaligus editor buku bersama Ridha.
“Peluncuran buku dan bedah buku yang dilanjutkan dengan pembinaan siswa dalam menulis ini sangat penting dalam meningkatkan dan mendorong kemampuan menulis siswa. Sekolah mengapresiasi siswa yang sudah menyumbangkan tulisannya sehingga karya siswa tersebut menjadi buku. Tulisan-tulisan di buku tersebut dapat dibaca bagi pengunjung perpustakaan SMAN 5 Padang,” kata Nurjanah.
Dikatakan, sekalipun siswa yang menulis dalam buku tersebut sudah tamat, meninggalkan SMAN ini, namun pemikiran yang dituangkan dalam tulisan di buku tersebut masih bisa dibaca adik-adiknya nanti. Mudah-mudahan ke depan akan terbitkan lagi buku-buku karya dari SMAN 5 Padang ini, harap Nurjanah.
Sebagai pembicara pada sesi Pembinaan Siswa Dalam Menulis usai peluncuran buku, Armaidi Tanjung menyebutkan, tulisan yang ditampilkan memang beragam. Tidak saja isu-isu kekerasan di rumah tangga yang ditulis siswa-siswi ini, tapi juga banyak isu-isu nasional dan internasional.
Tentu fenomena prilaku kalangan remaja juga disorot melalui tulisan “Balap Liar, Siapa yang Dibahayakan?” Isu-isu nasional lumayan banyak menjadi sorotan. Begitu pula isu global seperti “Ketegangan Israel – Hizbullah yang Mengganggu Penerbangan Rute Lebanon.”
“Ada 45 tulisan yang ditulis oleh 45 siswa/siswi SMA Negeri 5 Padang yang terletak di Balai Baru Kecamatan Kuranji Kota Padang. Awal-awal berdiri tahun 1980-an – 1990-an, sekolah ini dijuluki sekolah pinggiran. Karena berada di pinggir Kota Padang,” tutur Armaidi, alumni SMAN 5 Padang tahun 1988 ini.
Sebagai editor, menurut Armaidi Tanjung, tidak hanya membaca rangkaian kalimat, tetapi juga menyaksikan proses tumbuh: bagaimana kegelisahan dirangkai menjadi argumentasi, bagaimana pengalaman personal diolah menjadi refleksi sosial, dan bagaimana keberanian berpendapat mulai menemukan bentuknya. Di sana ada emosi, ada ketidaksempurnaan, tetapi juga ada kejujuran—dan kejujuran adalah fondasi utama tulisan yang bernilai.
Ditambahkan Armaidi Tanjung, beberapa esai memperlihatkan sensitivitas emosional yang kuat—terutama ketika membicarakan persoalan rumah tangga dan tekanan psikologis generasi muda. Di sana terasa bahwa isu domestik bukan hal kecil; ia adalah fondasi yang menentukan bagaimana seorang remaja memandang dunia.
“Sementara pada esai-esai bertema global, tampak bahwa keterhubungan digital membuat batas geografis nyaris lenyap. Siswa-siswi ini hidup di Padang, tetapi pikiran mereka menjangkau Palestina, perubahan iklim, ketidakadilan ekonomi, hingga masa depan demokrasi,” kata Armaidi yang sudah menulis puluhan buku ini.
Diakhir acara, Armaidi Tanjung menyerahkan sumbangan buku untuk perpustakaan SMAN5 Padang dan memberikan buku kepada tiga siswa/i yang menyampaikan pengalaman awal menulis sampai menghasilkan tulisan. (R)
