Perpisahan Haru di SMAN 12 Padang, Di Balik Bencana Lahir Prestasi Dunia

Plt Kepala SMAN 12 Padang Gusnaldi M.Pd disaksikan Kepala SMAN 12 yang lama Dr. Ikhwansyah dan pejabat Disdik Sumbar menandatangani naskah sertijab, Rabu (15/4/2026). (Foto Hendri Parjiga/Fokussumbar.com)

RUANG itu sederhana. Tak ada dekorasi mewah, hanya kursi-kursi yang disusun rapi dan wajah-wajah yang menyimpan cerita. Namun siang menjelang petang itu, Rabu (15/4/2026), di SMAN 12 Padang, suasana terasa hangat—bahkan perlahan berubah menjadi haru.

Hari itu, tongkat estafet kepemimpinan resmi berpindah. Dari Dr. Ikhwansyah S.Kom, M.Kom kepada Plt Kepala Sekolah, Gusnaldi, M.Pd.

Ikhwansyah berdiri dengan tenang. Pria yang mulai menjabat sebagai kepala SMAN 12 Padang sejak Mei 2025 itu hanya sempat menghabiskan waktu sekitar 11 bulan. Bahkan, di tengah masa jabatannya, ia juga sempat merangkap sebagai Plt di SMAN 11 Padang.

Belum genap setahun, ujian besar datang.
Sekitar enam bulan sejak ia memimpin, SMAN 12 Padang diterjang banjir bandang. Air datang tanpa kompromi, merusak fasilitas sekolah, menyisakan lumpur dan kelelahan.

Namun dari situ, cerita justru berubah arah.

Bantuan berdatangan. Dari berbagai pihak. Ada yang skala kecil, ada pula yang besar. Seolah bencana membuka pintu solidaritas yang tak pernah diduga sebelumnya.

Dan benar saja, badai itu tidak mematahkan semangat.

Namun, saat sebagian orang mungkin masih berkutat dengan pemulihan, SMAN 12 Padang justru mencatat prestasi yang membanggakan. Sebanyak 31 siswa berhasil menembus perguruan tinggi luar negeri—29 orang ke China, satu ke Amerika Serikat, dan satu lagi ke Eropa.

Sebuah capaian yang membuat sekolah ini disebut sebagai salah satu yang paling “melangit” di Sumatera Barat tahun ini.

“SMAN 12 ini sangat potensial untuk berkembang lebih jauh,” menjadi kesan yang tertinggal dari perjalanan singkat Ikhwansyah.

Kini, ia melanjutkan pengabdian di Pemerintah Kota Padang.

Di sisi lain, Gusnaldi, M.Pd menerima amanah itu dengan nada yang rendah hati.

Tak hanya memimpin sebagai Plt SMAN 12, ia juga mengemban tugas sebagai Kepala di SMAN 15 Padang. Dua sekolah, satu komitmen.

“Amanah ini luar biasa. Saya akan mengabdikan jiwa dan raga untuk kemajuan SMAN 12 dan SMAN 15,” ujarnya.

Ia tak lupa meminta dukungan. Dari guru, komite, hingga seluruh warga sekolah. Baginya, membangun sekolah bukan pekerjaan satu orang, melainkan kerja bersama.

Harapannya sederhana, tapi dalam: SMAN 12 terus melangkah maju.

Ketua Komite SMAN 12 Padang, Drs. H. Darmadi, ikut larut dalam suasana. Ia mengingat kembali perjalanan panjang sekolah yang berdiri sejak 1993 itu.

“Banyak keberhasilan yang sudah diukir,” katanya, memberi apresiasi.

Meski begitu, pria yang salah seorang saksi sejarah berdirinya SMAN 12 itu jujur mengakui, masih ada rasa ingin agar Ikhwansyah tetap bertahan.

Namun hidup, seperti sekolah itu sendiri, selalu punya dinamika.

“Banyak cobaan, tapi Allah juga memperlihatkan kekuasaannya. Di balik bencana, bantuan justru datang dari mana-mana,” ujarnya, penuh makna.

Sementara itu, Plt Kepala Cabang Dinas Wilayah II Disdik Sumbar, Monika Nur, melihat momen ini dari sudut yang lebih luas.

Menurutnya, melepas sosok seperti Ikhwansyah bukan hal mudah. Ia menyebutnya sebagai kepala sekolah potensial.

“Tapi untuk maju, kita memang harus berani keluar dari zona nyaman,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, serah terima jabatan bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, ini adalah titik awal tanggung jawab baru.

“Kepala sekolah adalah ujung tombak kemajuan sekolah. Yang utama itu akhlak, kemudian mutu, dan hubungan baik dengan komite,” pesannya.

Namun puncak suasana sore itu bukan pada sambutan.

Melainkan saat tiga perwakilan siswa maju ke depan.

Dengan suara yang sempat bergetar, mereka membacakan puisi berjudul “Selamat Jalan”. Kata demi kata mengalir pelan, namun menghujam. Tentang perpisahan, tentang terima kasih, tentang sosok pemimpin yang pernah hadir dan memberi arti.

Di tengah bait-bait puisi itu, suara mulai pecah.

Ada jeda-jeda kecil, bukan karena lupa, tapi karena air mata yang tak bisa lagi ditahan.

Sebagian hadirin menunduk. Beberapa guru terlihat menyeka mata. Suasana yang tadinya hangat, berubah menjadi isak yang lirih.

Ikhwansyah pun tak kuasa menyembunyikan haru.

Puisi itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia menjadi suara hati—tentang kenangan yang singkat, namun begitu membekas.

Tentang kebersamaan yang lahir di tengah ujian.

Acara pun berakhir sederhana. Tanpa gemerlap, tanpa hingar-bingar.

Namun dari ruang itu, tersimpan cerita tentang ujian, keteguhan, dan harapan.

Tentang bagaimana sebuah sekolah yang sempat terendam banjir, justru mampu melahirkan mimpi hingga ke luar negeri.

Dan tentang sebuah perpisahan… yang tak hanya dilepas dengan jabat tangan, tapi juga dengan air mata. (hendri parjiga)

Exit mobile version