Dilatih Menaklukkan Detik Kritis, PMI Padang Panjang Turunkan Standar Baru Penyelamatan

Ketua PMI Kota Padang Panjang, Maria Feronika. (foto; ist)

PADANG PANJANG, FOKUSSUMBAR.COM – Tidak ada ruang untuk ragu ketika napas berhenti dan waktu menipis. Itu yang coba dijawab Palang Merah Indonesia Kota Padang Panjang melalui pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan water rescue bagi relawan, yang digelar di Pemandian Lubuk Mata Kucing.

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan rutin. Ia menjadi penegasan bahwa kesiapsiagaan penyelamatan tak bisa lagi bersifat sporadis,harus terlatih, terukur, dan siap diuji di lapangan.

Ketua PMI Kota Padang Panjang, Maria Feronika, menegaskan relawan tidak cukup hanya hadir di lokasi kejadian. Mereka harus mampu menjadi penentu dalam menit-menit pertama yang kerap menentukan hidup atau mati korban.

“Di situasi darurat, keterlambatan beberapa menit saja bisa berakibat fatal. Relawan harus tahu persis apa yang dilakukan,” ujarnya.

Untuk materi BHD, PMI menghadirkan Defriman Drakkar dan Zulfikar Rida dari PMI Sumatera Barat. Keduanya menekankan satu hal: respons awal adalah kunci. Kesalahan prosedur atau kepanikan justru bisa memperburuk kondisi korban sebelum tenaga medis tiba.

Sementara itu, materi water rescue diberikan oleh tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan unit USAR Tanah Datar. Pelatihan diarahkan pada teknik evakuasi cepat di air,medan yang sering kali berubah menjadi jebakan mematikan tanpa kesiapan yang memadai.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang, dr Sonnya, menilai pelatihan ini sebagai bagian penting dari sistem respons kesehatan daerah. Relawan, kata dia, bukan pelengkap, melainkan lapisan awal yang menentukan keberhasilan penanganan korban.

“Ini bukan sekadar kemampuan tambahan. Ini kebutuhan dasar dalam penyelamatan,” ujarnya.

Ketua PWI Padang Panjang, Supriyato, menyoroti pentingnya konsistensi pelatihan semacam ini. Ia menilai, tanpa kesiapan yang terbangun secara sistematis, upaya penyelamatan akan selalu kalah cepat dari kejadian itu sendiri.

“Keselamatan tidak bisa bergantung pada spontanitas. Harus ada sistem, ada latihan, dan ada kesadaran kolektif,” katanya.

Puluhan relawan mengikuti pelatihan ini dengan satu tujuan: memangkas jarak antara kejadian dan pertolongan. Di tengah meningkatnya risiko kecelakaan dan potensi bencana, langkah ini menjadi sinyal bahwa kesiapsiagaan tak lagi bisa ditunda.

Dari Padang Panjang, pesan itu ditegaskan, penyelamatan bukan soal keberanian semata, tetapi soal kesiapan yang dilatih berulang,karena pada akhirnya, nyawa manusia tak pernah memberi kesempatan kedua. (paulhendri)

Exit mobile version