Dibalik Pemerintah Hentikan Sementara SPOBNAS, Nasib PPLP Bergantung APBD

Plt. Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kemenpora, Usman Ali Mustofa. (Foto ist)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM — Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang menghentikan sementara kegiatan Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Nasional (SPOBNAS) tahun anggaran 2026 menimbulkan ketidakpastian terhadap kelanjutan pembinaan atlet usia muda, termasuk di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat bernomor B/PR.03.00/4.13.8/SET/IV/2026 tertanggal 13 April 2026, yang mengatur penghentian sementara kegiatan pembinaan sebagai bagian dari langkah penghematan anggaran negara.

Seluruh kegiatan pembinaan SPOBNAS untuk sementara dihentikan mulai tanggal 25 April 2026 sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut.

Adapun sejumlah komponen dinyatakan tidak dialokasikan, meliputi pengadaan peralatan latihan, seragam, pelaksanaan tes seleksi atlet, hingga kegiatan try out atau uji coba.

Plt. Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kemenpora, Usman Ali Mustofa, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggelar rapat koordinasi secara daring bersama Dinas Pemuda dan Olahraga dari 38 provinsi pada Jumat (24/4/2026) untuk mencari solusi atas kebijakan tersebut.

“Prinsipnya, pembinaan atlet usia muda diharapkan tetap berjalan dengan mengoptimalkan pendanaan dari APBD,” ujar Usman yang dikonfirmasi fokussumbar.com, Sabtu (25/4/2026).

Namun, Usman mengakui langkah tersebut tidak mudah diterapkan di semua daerah, karena kondisinya berbeda-beda. Bahkan, peluang pemerintah pusat kembali menggelontorkan anggaran pembinaan seperti sebelumnya dinilai masih belum pasti.

“Masih abu-abu. Kalau diperkirakan, peluangnya hanya sekitar 70:30 untuk bisa kembali seperti sediakala,” katanya.

Di tengah situasi ini, pemerintah pusat tetap memberikan perpanjangan bantuan terbatas berupa uang konsumsi bagi atlet hingga 30 Juni 2026. Sebelumnya, anggaran ini sudah diputus per 25 April 2026. Sementara itu, seluruh pembiayaan di luar kebutuhan konsumsi dihentikan sepenuhnya.

Kondisi ini juga berdampak pada penerimaan calon siswa atlet baru di PPLP yang sejatinya dilaksanakan dalam waktu dekat. Usman menyebutkan bahwa proses seleksi tetap diperbolehkan, namun seluruh pembiayaan diserahkan kepada pemerintah daerah.

“Tergantung kebijakan daerah. Silakan seleksi tetap berjalan, tapi pembiayaan ditanggung daerah,” jelasnya.

Usman juga mengapresiasi sejumlah daerah, termasuk Sumatera Barat, yang telah melakukan langkah antisipatif dengan mengalokasikan dana daerah untuk menjaga keberlangsungan pembinaan atlet, lewat Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Daerah (SPOBDA)

Meski disebut hanya bersifat sementara, Usman belum dapat memastikan kapan program SPOBNAS akan kembali berjalan normal. Ia menilai kondisi keuangan negara saat ini menjadi faktor utama yang mempengaruhi kebijakan tersebut.

Dampak penghentian ini dipastikan akan terasa terhadap pembinaan dan prestasi atlet dalam beberapa tahun ke depan.

“Sudah pasti berdampak, terutama dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” ujarnya.

Tak hanya di daerah, diakui Usman, dampak pengurangan anggaran juga dirasakan di tingkat pusat. Anggaran pembinaan yang pada 2025 mencapai Rp198 miliar, turun drastis menjadi Rp48,5 miliar pada 2026.

Akibatnya, sejumlah program strategis terpaksa dibatalkan, termasuk pelaksanaan Pra Popnas, pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah ASEAN School Games (ASG) 2026, serta ketidaksiapan mengirim atlet ke ajang tersebut, serta sejumlah agenda strategis lainnya.

Padahal sebelumnya, Indonesia direncanakan menjadi tuan rumah event olahraga pelajar tingkat Asia Tenggara itu.

Diketahui, Usman Ali Mustofa merupakan salah satu figur yang cukup lama terlibat dalam pengelolaan SPOBNAS. Sebelum menjabat sebagai Plt. Asisten Deputi, ia pernah menjabat sebagai Ketua Tim Pengelolaan SPOBNAS pada Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda.

Kebijakan ini menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sistem pembinaan atlet muda nasional yang selama ini menjadi fondasi prestasi olahraga Indonesia di masa depan. (jiga)

Exit mobile version