Oleh : Randa Gusmanedi*)
SETIAP bangsa besar dalam sejarah dunia selalu dibangun di atas fondasi pendidikan yang kuat. Tidak ada peradaban agung yang lahir dari kebodohan, dan tidak ada kemajuan yang mampu bertahan tanpa ilmu pengetahuan serta moralitas yang kokoh.
Oleh sebab itu, Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar momentum tahunan yang dipenuhi seremoni formalitas, melainkan ruang refleksi kolektif untuk meninjau kembali: ke mana arah pendidikan kita bergerak, nilai apa yang sedang kita tanamkan, dan manusia seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk masa depan bangsa ini.
Dalam pandangan filosofis, pendidikan bukan hanya proses akademik untuk menghasilkan individu yang terampil bekerja atau mampu bersaing secara ekonomi.
Education, at its deepest level, is the process of humanizing human beings. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ia membentuk kesadaran intelektual, memperhalus akhlak, memperkuat spiritualitas, serta menanamkan tanggung jawab sosial kepada setiap generasi.
Sayangnya, di tengah arus modernisasi yang sangat cepat, pendidikan sering kali direduksi hanya menjadi instrumen kompetisi. Sekolah dipandang sebatas tempat mengejar nilai, ranking, sertifikat, dan prestise akademik.
Padahal hakikat pendidikan jauh lebih besar daripada itu. Pendidikan bukan sekadar menghasilkan manusia yang “siap kerja”, tetapi menghasilkan manusia yang mampu memberi makna bagi kehidupan.
The crisis of modern education is not merely the lack of intelligence, but the loss of wisdom.
Kita hidup pada zaman ketika kecerdasan berkembang sangat pesat, tetapi kebijaksanaan justru semakin sulit ditemukan. Teknologi melesat begitu cepat melampaui imajinasi manusia.
Artificial Intelligence kini mampu menulis, menganalisis data, bahkan menggantikan sebagian pekerjaan manusia. Dunia memasuki era digital civilization yang sangat kompleks. Namun di tengah kemajuan tersebut, kita juga menyaksikan gejala krisis moral yang mengkhawatirkan.
Banyak generasi muda tumbuh dengan akses informasi tanpa batas, tetapi minim ketahanan karakter. Mereka mampu menguasai teknologi modern, namun kesulitan mengendalikan emosi.
Mereka fasih berbicara di media sosial, tetapi mulai kehilangan kemampuan menghargai orang tua, memuliakan guru, dan menjaga etika dalam kehidupan sosial. In this era, knowledge is everywhere, but values are slowly fading away.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan modern menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibanding sekadar persoalan kurikulum atau metode pembelajaran. Tantangan terbesar pendidikan hari ini adalah bagaimana mempertahankan nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin mekanistik dan pragmatis.
Karena itu, pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya. Pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan. Sebab bangsa yang hanya membangun kecerdasan tanpa karakter pada akhirnya akan melahirkan generasi yang pintar secara intelektual tetapi rapuh secara moral.
Dalam tradisi Islam, konsep pendidikan memiliki dimensi yang sangat mendalam. Pendidikan tidak hanya bertujuan membentuk insan yang berilmu, tetapi juga insan yang beradab. Para ulama klasik selalu menempatkan adab di atas ilmu.
Imam Syafi’i pernah memberikan pesan bahwa siapa yang ingin mempelajari ilmu, maka hendaklah ia terlebih dahulu memperbaiki adabnya. Ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa adab bukanlah cahaya, melainkan potensi kehancuran.
Oleh sebab itu, seorang pendidik sejatinya bukan hanya transferor of knowledge, melainkan guardian of values. Guru adalah penjaga nilai-nilai kehidupan. Guru bukan hanya mengajarkan rumus, teori, atau hafalan, tetapi sedang membentuk pola pikir, sikap hidup, dan karakter generasi masa depan.
Menjadi guru pada hakikatnya adalah amanah peradaban. Seorang guru mungkin tidak selalu dikenang melalui namanya, tetapi pengaruhnya akan hidup dalam karakter peserta didik yang pernah ia didik. Every great civilization was once shaped by great teachers.
Ki Hajar Dewantara memahami hal ini dengan sangat mendalam ketika beliau menyampaikan filosofi pendidikan: “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Kalimat tersebut bukan sekadar slogan pendidikan nasional, melainkan filosofi kepemimpinan pendidikan yang sangat progresif. Guru harus menjadi teladan ketika berada di depan, menjadi penggerak ketika berada di tengah, dan menjadi penguat ketika berada di belakang.
Artinya, pendidikan bukan tentang dominasi kekuasaan, tetapi tentang proses membimbing manusia menuju kedewasaan berpikir dan kematangan akhlak.
Namun tantangan guru hari ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Seorang pendidik modern bukan hanya menghadapi perubahan kurikulum, tetapi juga menghadapi perubahan budaya, perubahan pola pikir generasi digital, serta perubahan cara manusia memandang ilmu pengetahuan.
Kita hidup pada masa ketika peserta didik dapat memperoleh jawaban hanya dalam hitungan detik melalui internet atau Artificial Intelligence.
Tetapi ironisnya, kemudahan akses informasi tidak selalu melahirkan kedalaman berpikir. Banyak peserta didik menjadi cepat mendapatkan jawaban, tetapi lambat memahami makna. Mereka terbiasa menerima informasi instan, namun kurang terbiasa menjalani proses intelektual yang panjang.
This is why education today must focus not only on information delivery, but on critical thinking, ethical awareness, and spiritual maturity.
Pendidikan masa depan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah karakter manusia itu sendiri. Artificial Intelligence may process data faster than humans, but it can never replace conscience, empathy, sincerity, and moral wisdom.
Maka pendidikan abad ini membutuhkan keseimbangan antara intellectual excellence and moral excellence. Kita memerlukan generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas spiritual dan budaya. Generasi yang modern dalam wawasan, tetapi tetap santun dalam perilaku. Generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, namun tetap rendah hati dalam kehidupan.
Sekolah harus kembali menjadi ruang tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Ruang di mana peserta didik belajar menghargai perbedaan, belajar bertanggung jawab, belajar jujur, belajar disiplin, dan belajar memahami makna kehidupan. Sebab sesungguhnya keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari tingginya angka kelulusan, tetapi dari kualitas manusia yang dihasilkan.
The true success of education is measured by the quality of character it builds, not merely by the quantity of information it delivers.
Sebagai pendidik, saya meyakini bahwa setiap anak adalah amanah besar bagi masa depan bangsa. Tidak ada anak yang terlahir tanpa potensi. Terkadang yang dibutuhkan seorang anak bukanlah hukuman yang keras, melainkan kehadiran guru yang mampu memahami, membimbing, dan percaya pada kemampuannya.
Pendidikan sejati selalu dibangun dengan kesabaran. Sebab mendidik manusia berbeda dengan membentuk mesin. Manusia memiliki perasaan, harapan, luka, mimpi, dan perjalanan hidup yang berbeda-beda. Karena itu pendidikan harus dilakukan dengan hati, bukan hanya dengan sistem.
A teacher does not simply teach lessons; a teacher shapes destinies.
Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas manusia yang lahir dari ruang-ruang pendidikan. Apa yang kita tanam hari ini melalui pendidikan akan menentukan wajah bangsa ini beberapa dekade mendatang.
Jika pendidikan berhasil melahirkan generasi yang berintegritas, maka bangsa ini akan memiliki masa depan yang bermartabat. Namun jika pendidikan gagal menjaga nilai dan moralitas, maka kemajuan teknologi sekalipun tidak akan mampu menyelamatkan peradaban.
Karena itu, marilah kita menjadikan pendidikan sebagai gerakan moral dan gerakan peradaban. Pendidikan harus kembali menjadi jalan untuk membangun manusia yang utuh: cerdas pikirannya, lembut hatinya, kuat spiritualnya, dan luas manfaatnya bagi sesama.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Mari terus menjaga cahaya ilmu, merawat akhlak, dan membangun masa depan Indonesia melalui pendidikan yang memanusiakan manusia.
“For every child we educate with wisdom and compassion, we are actually building the future of civilization itself.” []
Penulis adalah Guru Kelas dan Humas SDIT Darul Azzam Rao, Pasaman. *)
