Pagi itu, suasana Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Semarang terlihat seperti hari biasa. Warga datang silih berganti, membawa map berisi dokumen yang selama ini identik dengan proses panjang dan melelahkan. Namun, anggapan itu pelan-pelan mulai berubah.
Suparmi (61), warga Kecamatan Suruh, datang dengan perasaan campur aduk. Ini kali pertama ia mengurus sendiri urusan tanahnya. Tanpa perantara, tanpa calo.
Hanya berbekal informasi yang ia kumpulkan beberapa hari sebelumnya.
Ia tiba sekitar pukul sembilan pagi. Tak ada antrean panjang yang mengular, tak ada wajah-wajah gelisah menunggu berjam-jam. Ketika nomor antreannya dipanggil, Suparmi melangkah ke loket dengan sedikit ragu, tapi juga penuh harap.
Lima menit kemudian, semuanya selesai.
“Prosesnya cepat sekali, tidak sampai lama,” ujarnya sambil tersenyum lega.
Penghapusan hak tanggungan atau roya yang dulu ia bayangkan rumit, ternyata bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Cerita Suparmi bukan satu-satunya. Di Kantah Kabupaten Semarang, layanan bernama Roya Layanan Lima Menit (RALALI) memang dirancang untuk memangkas waktu tunggu.
Setelah berkas dinyatakan lengkap dan pembayaran dilakukan melalui Surat Perintah Setor (SPS), proses di loket hanya memakan waktu sekitar tiga hingga lima menit.
Bagi warga seperti Suparmi, perubahan ini terasa nyata. Ia bahkan sempat datang sebelumnya hanya untuk memastikan persyaratan yang dibutuhkan. Dengan informasi yang jelas, ia bisa menyiapkan semuanya tanpa kebingungan.
Yang menarik, Kantah juga menyediakan jalur khusus bagi pemohon yang mengurus sendiri tanpa kuasa. Jalur ini dilengkapi karpet merah—bukan sekadar simbol, tapi juga bentuk penghargaan bagi masyarakat yang ingin mandiri dan transparan dalam mengurus haknya.
Di sudut ruangan, beberapa warga tampak berbincang ringan. Ada yang baru pertama kali datang, ada juga yang sudah selesai dan bersiap pulang. Ekspresi mereka serupa: lega.
Program seperti RALALI menunjukkan bahwa layanan publik tak harus identik dengan proses panjang. Ketika sistem dibenahi dan informasi dibuka seluas-luasnya, masyarakat pun bisa merasakan kemudahan yang nyata.
Bagi Suparmi, pengalaman hari itu sederhana, tapi berkesan. Ia datang dengan keraguan, pulang dengan keyakinan bahwa mengurus sendiri urusan pertanahan bukan lagi hal yang menakutkan.
“Kalau begini, tidak perlu pakai orang lain lagi,” katanya ringan.
Dan mungkin, itulah perubahan terbesar yang sedang terjadi. (DR/JR/jiga)
