Kapten Rahmad

Cerpen: Yunardi Sikumbang*)

Langit senja di pesisir itu tampak muram. Matahari perlahan tenggelam di balik laut, menyisakan cahaya jingga yang redup. Angin asin berembus pelan, menyapu halaman rumah dinas Koramil yang sederhana.

Di beranda, Kapten Rahmad duduk termenung.

“Sudah pergi orang itu, Pak?” tanya Risda, istrinya, dari balik pintu.

“Sudah, Ma,” jawabnya singkat.

Nada suaranya datar, tapi wajahnya menyimpan kesal.

“Mereka kira saya bisa dibeli,” tambahnya lirih.

Risda mendekat. “Mau apa mereka?”

Rahmad menghela napas panjang. “Bawa televisi, kulkas… dan amplop. Katanya hadiah lebaran.”

Risda tak langsung menjawab. Ia hanya duduk di samping suaminya. Dalam diam, ia tahu: itu bukan sekadar hadiah.

Itu awal dari tekanan.

*

Sejak ditugaskan di kawasan industri pesisir itu, Rahmad mulai merasakan atmosfer yang berbeda. Kota itu hidup dari lalu lintas barang—legal dan ilegal.

Pelabuhan tak pernah benar-benar tidur.
Kapal datang dan pergi, siang dan malam. Bersama mereka, mengalir pula berbagai kepentingan.

Rahmad bukan perwira baru. Lebih dari dua puluh lima tahun ia mengabdi. Ia pernah ditempa di medan konflik, dikirim sebagai pasukan perdamaian ke luar negeri, hingga bertugas di wilayah rawan.
Ia tahu satu hal: musuh tidak selalu bersenjata.

Kadang, musuh datang dengan senyum.
Dan membawa uang.

“Pak, kita harus realistis…” suara Risda suatu malam terdengar berat.

Rahmad menoleh.

“Biaya kuliah anak belum lunas. Uang kos juga. Kita bahkan belum punya rumah sendiri.”

Rahmad diam.

“Yang datang tadi… mereka kan tidak memaksa. Mereka hanya memberi.”

Rahmad menggeleng pelan. “Tidak ada yang benar-benar ‘memberi’, Ma. Selalu ada yang diminta kembali.”

“Tapi kita butuh, Pak…”

Rahmad menatap istrinya dalam. “Kalau saya terima, saya tidak bisa lagi menegakkan hukum. Saya akan terikat.”

Risda menunduk.

“Dan kalau itu terjadi,” lanjut Rahmad pelan, “saya bukan lagi prajurit.”
Malam itu, percakapan berakhir tanpa kesepakatan. Tapi seperti biasa, Risda memilih diam.

Ia tahu, suaminya tidak akan berubah.

Beberapa hari kemudian, operasi besar digelar.

Rahmad memimpin langsung pemeriksaan kapal di pelabuhan.

Informasi intelijen menyebutkan adanya penyelundupan besar-besaran.

Dan malam itu, kebenaran terbuka.

Sebuah kapal yang tampak biasa menyimpan muatan tak biasa.

Minuman keras. Narkotika. Obat-obatan terlarang.

Jumlahnya besar.

“Segel semua!” perintah Rahmad tegas.

Anak buahnya bergerak cepat. Tak ada yang berani main-main.

“Pak… mungkin ini bisa diselesaikan baik-baik…” salah satu awak kapal mencoba bicara.

Rahmad menatap tajam.

“Baik-baik menurut kamu itu apa?” suaranya dingin.

Orang itu diam.

“Ini merusak masa depan anak-anak bangsa. Tidak ada kompromi.”

Kapal disita. Awak diperiksa. Proses hukum berjalan.

Malam itu, Rahmad tahu: ia baru saja menyentuh sesuatu yang besar.

Dan berbahaya.

*

Keesokan harinya, tamu kembali datang.
Kali ini lebih serius.

Lima orang. Satu di antaranya berpakaian rapi, berdasi. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.

“Pak Kapten, kita bisa bicara baik-baik,” katanya sambil duduk tanpa diminta.

Rahmad tetap berdiri.

Tas besar diletakkan di meja.

Saat dibuka—uang memenuhi isinya.

“Ini baru awal,” kata pria itu. “Kami bisa beri lebih. Villa, kendaraan… apa pun.”

Ruangan terasa sunyi.

Untuk sesaat, Rahmad hanya menatap.

Pikirannya berputar.

Utang koperasi. Biaya anak. Masa pensiun.

Semua terasa begitu dekat.

Sangat dekat.

Suara lain muncul dalam dirinya.

Terima saja. Tidak ada yang tahu.

Namun suara itu segera ditepis.

Ia menarik napas dalam.

“Maaf,” katanya akhirnya.

Pria itu mengernyit.

“Saya tidak bisa.”

“Pikirkan lagi, Pak. Ini kesempatan.”

Rahmad menggeleng. “Ini jebakan.”

Wajah pria itu berubah.

“Bapak bisa menyesal.”

Rahmad menatap lurus. “Lebih baik menyesal karena miskin, daripada menyesal karena menjual diri.”

Hening.

Beberapa detik yang terasa panjang.

Lalu mereka berdiri dan pergi.

Sebelum keluar, salah satu dari mereka berbisik, “Tidak semua orang sekuat yang Bapak kira.”

Pintu tertutup.

Rahmad berdiri sendiri.

Ia tahu, ini belum selesai.

*

Hari-hari berikutnya terasa berbeda.

Ada tatapan-tatapan asing. Gerak-gerik mencurigakan. Seolah ia sedang diawasi.
Namun Rahmad tetap menjalankan tugas seperti biasa.

Hingga suatu malam, ia mendapat panggilan mendadak.

“Pak, ada laporan penting. Mohon segera ke lokasi,” suara di telepon terdengar terburu-buru.

Rahmad berangkat tanpa curiga.

Ia tak tahu, itu perjalanan terakhirnya.

Dua hari kemudian, Risda gelisah.

Telepon suaminya tak aktif.

Ajudan pun kehilangan kontak.

Perasaan tak enak menggerogoti.

Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan menyalakan televisi.

Namun justru di sanalah semuanya berubah.

“…seorang perwira militer ditemukan tewas di sebuah vila…”

Risda terpaku.

“…dikenal sebagai sosok jujur dan tegas…”

Jantungnya berdegup kencang.

“…Kapten Rahmad…”

Dunia seakan runtuh.

Ia menjerit.

Tangisnya pecah.

Kota itu gempar.

Jenazah Rahmad ditemukan dengan luka serius. Tanda-tanda kekerasan jelas terlihat.

Namun keanehan mulai terasa.

Penyelidikan berjalan lambat.

Informasi simpang siur.

Dan perlahan, kasus itu menghilang dari pemberitaan.

Seolah sengaja dilupakan.

Di kampung halaman, pemakaman berlangsung sederhana.

Langit mendung.

Tanah basah.

Risda berdiri di samping pusara, menggenggam tanah yang baru saja menutup tubuh suaminya.

Air matanya tak lagi deras.

Hanya sunyi.

Anak-anaknya berdiri di belakang. Wajah mereka menyimpan luka yang tak terucap.

Seorang warga tua mendekat dan berkata pelan,

“Bapakmu orang baik. Dunia mungkin tidak adil… tapi Tuhan tidak.”

Risda menatap pusara itu lama.

Ia teringat kata-kata Rahmad:

“Yang penting kita hidup dari yang halal.”

Kini ia mengerti.

Harga dari kalimat itu— ternyata sangat mahal.

Di pesisir itu, angin tetap berembus.

Kapal tetap datang dan pergi.

Bisnis tetap berjalan.

Namun satu hal hilang.

Seorang prajurit yang memilih tetap lurus, meski harus berjalan sendirian.

Nama Kapten Rahmad mungkin akan pudar dari ingatan banyak orang.

Tapi bagi mereka yang tahu kisahnya—
ia adalah bukti bahwa integritas masih ada. Meski harus dibayar, dengan nyawa. []

Sekilas Tentang Penulis

Yunardi Sikumbang, lahir di Parak Jigarang, Kelurahan Anduring, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, 13 Juli 1964. Alumni IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang) ini telah mengabdikan diri di dunia pendidikan, mengajar di sejumlah SMP di Sumatera Barat, dan purna tugas sebagai Pengawas SMP Disdik Kota Padang pada awal 2025.

Selain menjadi pendidik, ia aktif menulis cerpen, artikel, serta kritik sastra di berbagai media: Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, dan Mingguan Canang. Saat ini tetap produktif menulis di media online fokusumbar.com.*)

Exit mobile version