Nabi Ibrahim AS, Hari Raya Idul Adha dan Ibadah Kurban

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *)

HARI Raya Idul Adh-ha setiap tahun hadir menghampiri umat Islam sedunia, walaupun kedatangannya berbeda situasi dan kondisinya.

Tidak dapat disangkal lagi, Hari Raya Idul Adh-ha tidak dapat dipisahkan dengan keluarga Nabi Ibrahim AS dan rentetan pelaksanaan ibadah haji di Makkatul Mukarramah, Madinatul Munawwarah dan Arafah.

Hadir di Arafah inilah puncak ibadah haji, siapa yang hadir, wuquf di Arafah maka sahlah ibadah hajinya. Bagi siapa yang tidak sempat hadir di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah, maka hajinya belum sempurna, maka hendaklah yang bersangkutan mengulangi untuk berhajji pada tahun depan.

Hari Raya Idul Adha yang jatuhnya setiap tgl 10 Zulhijjah, sehari setelah jamaah haji wuquf di Arafah, memiliki hubungan yang sangat erat dengan keluarga Nabi Ibrahim AS.

Apabila kita perhatikan secara seksama rangkaian ibadah haji yang dilakukan setiap tahun oleh umat Islam sedunia, dengan mengunjungi Baitullah, rumah Allah di Makkatul Mukarramah yaitu Ka’bah. Adalah tempat ibadah pertama dan perdana yang dibangunkan untuk umat manusia. Kenyataan ini dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al-Quran :

” Inna awwala baitiw wudhi’a linnaasi lalladziy bibakkata mubaarakaw wa hudal lil’aalamiina “.

Artinya : ” Sesungguhnya rumah ( ibadah ) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah ( Baitullah ) yang di Bakkah ( Mekah ) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam “. ( Q.S.3.96 ).

Nabi Ibrahim AS Merenovasi Ka’bah

Sementara itu Nabi Ibrahim AS sangat berjasa dalam membangun kembali Ka’bah, setelah kondisinya porak poranda akibat terjadinya banjir dahsyat di zaman Nabi Nuh AS. Banjir besar itu merupakan azab, sangsi keras yang diturunkan Allah Swt kepada umat Nabi Nuh AS yang kafir, mengingkari dakwah Nabi Nuh AS untuk mengesakan Allah Swt dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.

Nabi Ibrahim AS dibantu puteranya Nabi Ismail AS merenovasi Ka’bah yang telah rusak berat dilanda banjir dahsyat. Seperti ditegaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Wa idz yarfa’u Ibraahiimul qawaa’ida minal baiti wa ismaa’iialu “.

Artinya : ” Dan ( ingatlah ) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, ” ( QS.2.127 ).

Begitulah peran Nabi Ibrahim AS bersama puteranya Nabi Ismail AS yang telah berjasa membangun kembali Ka’bah.

Setelah Nabi Ibrahim AS dan puteranya Nabi Ismail AS berhasil merenovasi dan membangun Ka’bah dengan baik. Allah Swt menginstruksikan kepada Nabi Ibrahim AS agar memanggil manusia untuk melaksanakan ibadah haji.

Pada awalnya Nabi Ibrahim AS merasa pesimis dengan kemampuannya. Apakah suara saya yang tidak nyaring ini, didengar oleh umat manusia? Lalu Allah Swt memerintahkan panggil dan serulah manusia untuk berhajji, nanti Aku ( Allah ) yang menyampaikan kepada mereka. Lalu Nabi Ibrahim AS menaiki Bukit Abu Qubeis, dengan suara lantang memanggil manusia.

” Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah benar-benar telah memerintahkan kepadamu sekalian mengunjungi rumah ini, supaya Dia memberikan kepadamu surga dan melindungi kamu dari azab neraka, karena itu tunaikanlah olehmu ibadah haji itu “.

Maka suara itu diperkenalkan oleh orang-orang yang berada dalam tulang sulbi laki-laki dan orang-orang yang telah berada dalam rahim perempuan, dengan jawaban yang sangat syahdu sekali.

” Labbaikallaahumma labbaika “ yang artinya : “Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah “. Yang dikenal dengan talbiyah.

Demikianlah mulanya perintah Allah Swt kepada manusia beriman untuk berhajji ke Baitullah di tanah suci Makkah.

Panggilan untuk berhajji itu diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Wa adz-dzin fin naasi bilhajji ya’tuuka rijaalaw wa ‘alaa kulli dhaamiriy ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiqin “.

Artinya : ” Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh “. ( Q.S.22.27 ).

Berdasarkan ayat dan penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa panggilan untuk menunaikan ibadah haji itu, sungguh sudah sangat lama sekali. Yaitu tatkala Nabi Ibrahim AS bersama puteranya Nabi Ismail AS, selesai merenovasi, melakukan rehabilitasi berat pembangunan Ka’bah.

Setelah Ka’bah selesai diperbaiki, maka Allah Swt langsung memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyeru, memanggil manusia untuk berhajji.

Jadi, dengan demikian tidak ada alasan bagi mereka yang telah memiliki dana untuk berhajji, mengatakan:

” Kami belum mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji “.

Nabi Ibrahim AS Diperintahkan Allah Swt Menyembelih Puteranya Nabi Ismail AS

Setelah Nabi Ibrahim AS bersama putera satu-satunya Nabi Ismail AS sukses dalam merenovasi Ka’bah. Allah Swt berfirman kepada Nabi Ibrahim AS dalam mimpi yang berturut-turut. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Swt untuk menyembelih puteranya yang semata mayang.

Ada pun mimpi yang pernah dialami oleh para Nabi dan Rasul-Nya dikenal dengan ” Rukyatun shadiqatun “, mimpi yang benar. Bahkan dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW :

” ‘An Ibni ‘Abbaasin qaala, Qaala Rasulullah SAW : ” Rukyal Anbiyaa-i fil manaami wahyi “.

Artinya : ” Dari Ibni Abbas dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW : ” Mimpi para Nabi dalam tidur itu adalah wahyu “. ( H.R. Ibnu Abbas ).

Nabi Ibrahim AS setelah mengalami mimpi secara berturut-turut beberapa malam, selaku seorang utusan Allah Swt, tentu telah mengetahui apa betul maksud dari mimpi ini. Meskipun beliau telah paham betul mimpi itu, adalah benar perintah Allah Swt.

Namun demikian, beliau selaku Ayah yang baik, yang memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang baik, kuat dan berintegritas. Rasanya tidak tega, dan tidak mungkin mengeksekusi perintah Allah Swt tanpa memperbincangkannya dengan puteranya Nabi Ismail AS dan isterinya Siti Hajar.

Lama juga, Nabi Ibrahim AS termenung dan terlihat gusar untuk menyembelih putera satu-satunya. Apalagi, untuk mendapatkan seorang bayi laki-laki sebagai pelanjut kepemimpimpiannya, kini tengah memasuki usia muda belia.

Ditambah lagi bisikan dan godaan setan, yang ingin menggagalkan tekad Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putera kesayangannya. Setiap kedatangan setan untuk menepis rencana Allah Swt selalu dipatahkan oleh Nabi Ibrahim AS dengan

melempar setan dengan batu, sambil menyebut bismillah Allaahu Akbar. Setelah gagal menggoda Nabi Ibrahim AS, setan tidak putus asa, lalu setan mendatangi isteri Nabi Ibrahim AS  ibunya Nabi Ismail AS.

“Wahai Siti Hajar, kenapa engkau biarkan Ibrahim membunuh anakmu satu-satunya yang sangat ganteng dan cerdas itu? Padahal untuk mendapatkannya, alangkah sulit dan butuh waktu lama? “. Alhamdulillah, Siti Hajar pun menyadari, kelicikan setan untuk menggagalkan rencana Allah Swt. Akhirnya Siti Hajar melempar setan, iblis dengan batu kerikil dengan ucapan :

“Bismillah Allaahu Akbar ” membuat setan lari tunggang langgang. Setelah upaya setan tidak mempan menaklukkan Nabi Ibrahim AS dan isterinya Siti Hajar. Akhirnya setan mendatangi Nabi Ismail AS, kenapa engkau perturutkan rencana gila ayahmu Ibrahim yang biadab itu?

Walau bagaimana pun upaya dan kerja keras setan untuk meluluh lantakkan keimanan, kepatuhan dan kesetiaan Nabi Ismail AS kepada Allah Swt dan kecintaan kepada Ayahnya Nabi Ibrahim AS. Tidak bisa membobolkan kekuatan tauhid yang dimiliki Nabi Ismail AS. S

etiap datangnya godaan, serangan setan kepada Nabi Ismail AS, lalu Nabi Ismail AS menangkis dan melontarkan batu kerikil kepada setan terlaknat dengan ucapan ” Bismillah Allaahu Akbar “.

Alhasil, setan bisa ditaklukkan oleh Nabi Ibrahim AS sekeluarga dengan keteguhan iman, ketaatan, kesetiaan, integritas, keikhlasan dan kesabaran yang tiada tara.

Peristiwa spektakuler yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya, diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran, yang berasal dari do’a, permohonan Nabi Ibrahim AS kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Setelah berusia 80 tahun lebih Nabi Ibrahim AS dengan dua orang isterinya, Siti Sarah dan Siti Hajar belum juga ada tanda-tanda untuk memperoleh keturunan sebagai pelanjut perjuangan dalam mengembangkan agama tauhid, menyelamatkan umat manusia dari menyembah berhala, melakukan syirik, mempersekutukan Allah Swt dengan yang lain.

Berkat kesabaran, kegigihan dan kesetiaan Nabi Ibrahim AS berdo’a kepada Allah Swt, akhirnya Allah Swt memberikan kabar gembira melalui Makaikat Jibril dengan kedatangan seorang putera yang sangat didambakan, seorang anak yang amat sabar ( penyantun ).

Seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran, bagaimana do’anya dan jawaban Allah :

” Rabbi habliy minash shaalihiina, fa basy-syarnaahu bighulaamin haliimin “.

Artinya : ” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ( seorang anak ) termasuk anak yang saleh. Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan ( kelahiran ) seorang anak yang sangat sabar ( Ismail ).

Kalau kita cermati secara lebih dekat, Nabi Ibrahim AS hanya meminta seorang anak yang saleh, yang baik dalam pengertian umum. Sedangkan Allah Swt Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, mengabulkan do’a Nabi Ibrahim AS dengan memberikan seorang anak yang halim, penyantun.

Kata halim itu berarti amat sabar, lemah lembut, rendah hati dan cerdas. Begitulah Allah Swt mengabulkan do’a Nabi Ibrahim AS yang juga menyandang gelar ” Khalilullah ” yang berarti ” Kekasih Allah “.

Seandainya Allah Swt memberikan Nabi Ibrahim AS anak yang saleh, baik saja. Boleh jadi Nabi Ismail AS yang akan disembelih oleh Ayahnya, dipastikan akan melawan, meronta dan tidak akan menerima, serta tidak mengakui mimpi yang berturut-turut yang pernah dialami oleh Ayahnya Nabi Ibrahim AS, bahwa itu adalah perintah dari Allah Swt.

Karena Allah memberikan seorang anak yang penyantun, yang memiliki sifat sabar yang tinggi. Apapun yang diperintahkan oleh Ayahnya Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah Swt, maka Nabi Ismail AS tanpa banyak pertimbangan, dia telah meyakini semuanya itu adalah perintah Allah Swt.

Setelah beberapa tahun berlalu, Nabi Ismail AS kecil yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, penuh perhatian oleh Ayah dan Ibunya, juga mendapatkan asupan gizi yang sempurna oleh Ibunya Siti Hajar.

Nabi Ismail AS mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang amat pesat

Memiliki wajah yang tampan, bodi atletis, santun, cerdas, rendah hati dan lemah lembut, telah memasuki usia remaja.

Pada usia remaja inilah Nabi Ibrahim AS melalui mimpinya secara berturut-turut, dia diperintahkan Allah Swt untuk segera menyembelih putera kesayangannya. Hal ini dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

“Falammaa balagha ma’ahus sa’ya qaala yaa bunayya inniy araa fil manaami anniy adzbahuka fanzhur maa dzaa taraa, qaala Yaa aabatif’al maa tukmaru, satajiduniy Insya Allahu minash shaabiriina “.

Artinya : ” Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, ( Ibrahim ) berkata,  ” Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! “.

Dia ( Ismail ) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan ( Allah ) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar “. ( Q.S.37.102 ).

Berkat keimanan, kepatuhan, ketaatan, kesetiaan dan keikhlasan yang dimiliki oleh keluarga Nabi Ibrahim AS. Dan juga satu bahasa, seiya sekata dalam menyikapi apa yang diperintahkan Allah Swt dalam mimpinya, dan yang diyakini kebenarannya, bahwa itu adalah benar perintah dari Allah Swt.

Maka Nabi Ismail AS yang telah mengikhlaskan dirinya disembelih oleh Ayahnya, segera merebahkan tubuhnya, sekaligus memiringkan wajahnya ke arah kiblat dan membuka bajunya untuk dijadikan kain kafan.

Beberapa detik Nabi Ibrahim AS yang telah menghunuskan pisau ke leher putera kesayangannya itu, maka dari kejauhan terdengar suara Malaikat Jibril memanggil Nabi Ibrahim AS. Peristiwa ini pun dinyatakan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Falammaa aslamaa wa tallahuu liljabiini, wa naadainaahu ay yaa Ibraahiimu qad shadaqtar rukyaa, innaa kadzaalika najzil muhsiniina. Inna haadzaa lahuwal balaa-ul mubiinu. Wa fadainaahu bidzibhin ‘azhiimin “.

Artinya : ” Maka keduanya telah berserah diri dan dia ( Ibrahim ) membaringkan anaknya atas pelipisnya, ( untuk melaksanakan perintah Allah ). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ( Q.S.37.103-103 ).

Demikianlah secuil ujian yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dengan puteranya Nabi Ismail AS serta isterinya Siti Hajar. Ini merupakan sebuah ujian yang besar dan amat berat bagi keluarga ini.

Bagaimana pun Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Segalanya tentu memiliki kapasitas dan hak prerogatif untuk memberikan ujian yang setimpal buat hamba-Nya. Tidak terkecuali bagi Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya yang sangat hebat dan harmoni.

Namun demikian, berkat keimanan, kepatuhan, kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dari keluarga Nabi Ibrahim, akhirnya Allah Swt mengganti sembelihan Ismail AS, dengan seekor sembelihan yang besar berupa seekor domba besar yang putih bersih, tanpa ada cacat sedikit pun. Demikianlah balasan Allah Swt terhadap hamba-Nya yang patut, taat, memiliki loyalitas yang tinggi, kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa.

Disyariatkannya Ibadah Kurban

Dari peristiwa penyembelihan seekor kambing oleh Nabi Ibrahim AS inilah yang menjadi dasar disyariatkan Allah Swt pelaksanaan ibadah kurban, yang tujuan beribadah, untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dan dilanjutkan oleh syariat Nabi Muhammad SAW sampai hari akhir.

Pelaksanaan ibadah kurban ini dilakukan pada Hari Raya Haji atau Hari Raya Idul Adh-ha, juga disebut Idul Kurban dan dilanjutkan pada hari tasyriq tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah.

Syariat untuk melakukan kurban atau penyembelihan hewan kurban, Insya Allah akan berlanjut sampai akhir zaman.

Dalam hal ini Allah Swt mengingatkan dalam Al-Quran, bahwa Allah Swt telah memberikan apresiasi, penghargaan dan nikmat yang amat banyak kepada manusia.

Maka dirikanlah shalat dan berkurbanlah, seperti dalam firman Allah Swt ini :

” Innaa a’thainaa kal kautsara, fashalli lirabbika wanhar, inna syaani-aka huwal abtaru “.

Artinya : ” Sungguh, Kami telah memberimu ( Muhammad ) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah ( sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ). Sungguh, orang-orang yang memberimu dialah yang terputus ( dari nikmat Allah ) “. ( Q.S.108.1-3 ).

Adapun tujuan dari ibadah kurban yang merupakan kelanjutan syariat Nabi Ibrahim AS itu, adalah dalam rangka beribadah dan dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Bagi umat Islam yang memiliki kesempatan untuk berkurban, hendaklah dia melakukan penyembelihan hewan kurban. Meskipun hukum menyembelih hewan kurban itu adalah sunnah muakkadah atau sunat muakkad, tetapi Rasulullah Muhammad SAW sangat menekankan dan pernah menegaskan :

” Siapa yang punya kesempatan untuk berkurban, tetapi dia tidak melakukannya, maka jangan didekati tempat ibadah kami “.

Begitu penting dan urgennya ikut berkurban pada hari raya Idul Adh-ha dan pada hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah.

Walaupun demikian  meskipun ikut berkurban, tetapi yang akan dinilai dan akan sampai kepada Allah Swt bukanlah daging, darah hewan kurban tersebut. Tetapi, yang akan sampai kepada Allah Swt adalah ketakwaaan dan keikhlasan dari mereka yang berkurban.

Sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Quran :

” Lay yanaalallaaha luhuumuhaa wa laa dimaa-uhaa wa laakiy yanaaluhut taqwaa minkum “.

Artinya : “Daging ( hewan kurban ) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaaan kamu “. ( Q.S. 22.37 ).

Demikianlah sekelumit hubungan yang sangat erat pelaksanaan ibadah haji, hari raya Idul Adh-ha dan pelaksanaan ibadah kurban dengan kisah perjalanan hidup dan kehidupan Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya, terutama dengan Nabi Ismail AS dan Ibunya Siti Hajar, yang banyak mendapatkan ujian berat dan besar. Namun keluarga Nabi Ibrahim AS adalah keluarga teladan, yang memiliki keimanan yang kuat, kepatuhan, ketaatan, kesabaran yang luar biasa serta memiliki keikhlasan yang tiada tara.

Semoga secuil kisah keluarga Nabi Ibrahim AS bersama puteranya Nabi Ismail AS dan isteri Nabi Ibrahim AS Siti Hajar, yang banyak mendapatkan ujian, cobaan yang berat bersama puteranya Nabi Ismail AS diharapkan mampu memotivasi, meng inspirasi umat Islam untuk mengambil hikmah, mendapatkan pelajaran yang berharga dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sepanjang hayat.

Apalagi, tantangan dan rintangan yang dihadapi umat Islam dalam mendidik, membina, membimbing putera puterinya kepada jalan yang diridhai Allah Swt, sungguh sangat berat. Perlu sekali meneladani sosok Nabi Ibrahim AS sebagai Ayah yang demokratis, Ibu yang penyayang serta Nabi Ismail AS yang sangat penyantun.

Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya *)

Exit mobile version