PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Pagi itu, 23 Mei 2026 Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) hadir memenuhi undangan dari Kepala SLB Autis Harapan Bunda – Elmiza Yetti, S.Pd yang akrab dipanggil Bu Adek untuk memberikan edukasi dan simulasi evakuasi untuk ancaman gempa berpotensi tsunami.
Walaupun KOGAMI sudah terbiasa melakukan edukasi dan simulasi evakuasi di SLB tapi khusus untuk SLB Autis benar-benar dibutuhkan pendampingan extra, karena di SLB 1 Autis, satu guru bertanggung jawab terhadap satu anak.
Untuk itu, KOGAMI menurunkan tim berjumlah lima orang, yaitu Tommy Susanto, Patra Rina Dewi, Melly Kartika, Monalisya dan Rika Yuliza untuk mendampingi proses, terutama saat simulasi evakuasi.
Patra menjelaskan tentang potensi ancaman bencana gempabumi berpotensi tsunami di Sumatera Barat khususnya kota Padang. Bahwa, jika terjadi gempa dengan getaran yang lama (20 detik atau lebih) apalagi terasa kuat, biasanya berpotensi tsunami.
Maka setelah getaran gempa berhenti, warga sekolah harus segera evakuasi mandiri ke lokasi yang telah disepakati dalam waktu 20 menit. Dalam hal ini, SLB Autis Harapan Bunda akan evakuasi ke blue line di Dadok Tunggul Hitam.
Selanjutnya, Tommy Susanto melatih guru teknik penyelamatan diri dari gempa. Ketika gempa dirasakan, setiap orang harus segera melindungi kepala. Jika ada meja maka bisa berlindung di bawah meja dengan memegangi kaki meja.
Setelah gempa berhenti, maka dengan tetap melindungi kepala, seluruh warga sekolah berjalan ke luar bangunan atau ke lapangan terbuka (titik kumpul) dengan tertib.
Di titik kumpul, dilakukan pengecekan jumlah dan kondisi guru dan siswa. Jika lengkap, kepala sekolah langsung memerintahkan evakuasi.
Selama proses edukasi dan simulasi, guru-guru membimbing siswa didik dengan sungguh-sungguh. Mereka sadar bahwa ketika jam sekolah, tanggung jawab atas keselamatan siswa berada di pundak mereka.
Selanjutnya, Kepala Sekolah juga berencana akan rutin melaksanakan simulasi ini agar siswa terbiasa dan juga mengkomunikasikan tempat evakuasi sementara kepada orang tua, sehingga jika gempa berpotensi tsunami benar-benar terjadi, orang tua diharapkan menjemput anak di lokasi aman atau tidak lagi mencari ke sekolah, karena SLB Autis Harapan Bunda berada di zona merah dengan jarak 800m dari pinggir pantai Air Tawar Barat.
Selanjutnya bu Adek berharap agar SLB juga menjadi perhatian pemerintah daerah untuk kegiatan mitigasi bencana. (patra)
