Oleh: Nurul Jannah*)
Ada banyak kisah tentang Idul Adha yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Tentang ketaatan Nabi Ibrahim AS.
Tentang keteguhan Nabi Ismail AS.
Tentang kesabaran Siti Hajar RA.
Namun ada satu sisi yang sering luput disentuh:
Idul Adha sesungguhnya adalah kisah tentang cinta yang rela terluka demi tetap taat kepada Allah.
Bukan cinta yang sibuk memiliki.
Bukan cinta yang takut kehilangan.
Tetapi cinta yang tetap menggenggam keimanan… meski hati sedang hancur perlahan.
Dan itulah bentuk cinta paling berat di dunia.
Nabi Ibrahim AS menunggu sangat lama untuk memiliki anak.
Bukan penantian singkat yang mudah dilalui. Bukan harapan yang datang dalam hitungan bulan.
Usia beliau telah menua.
Rambutnya memutih.
Tubuhnya melemah dimakan waktu.
Lalu, ketika banyak manusia mulai berhenti berharap,
Allah menghadiahkan Ismail.
Bayangkan besarnya rasa cinta yang terpendam dalam hatinya seumur hidup.
Seorang anak yang hadir bukan di masa muda, bukan ketika tenaga sedang kuat,
melainkan setelah penantian panjang yang melelahkan jiwa.
Maka Ismail bukan hanya anak bagi Nabi Ibrahim AS.
Ia adalah doa yang hidup.
Harapan yang akhirnya pulang.
Dan cahaya yang menghangatkan rumah yang lama sunyi.
Namun justru ketika cinta itu tumbuh begitu dalam bersamaan dengan usia Ismail yang mulai bisa berjalan,…
Allah memerintahkan melalui wahyu, agar Nabi Ibrahim AS mengorbankan anaknya untuk menunjukkan besarnya cinta Nabi Ibrahim AS dan ketaatannya atas perintah Allah.
Di situlah banyak hati mulai sulit memahami.
Karena ternyata,
ujian paling berat bukan kehilangan harta. Bukan kehilangan jabatan. Bukan pula kehilangan kemewahan dunia.
Tetapi ketika Allah SWT meminta kita menyerahkan hal yang paling kita cintai.
Dan yang paling menggetarkan…, Nabi Ibrahim AS tidak hanya diuji sebagai nabi.
Ia diuji sebagai seorang ayah.
Bagaimana hati seorang ayah yang berjalan membawa anak yang sangat dicintainya, menuju tempat penyembelihan?
Bagaimana langkah kaki itu mampu tetap tegak?
Bagaimana dada itu tidak runtuh sebelum sampai?
Karena pengorbanan paling berat tidak terjadi di tangan,
melainkan di dalam hati.
Lalu ada Ismail.
Seorang anak kecil yang mengetahui dirinya akan dikorbankan.
Dan yang membuat kisah ini terasa begitu menghancurkan bukan ketajaman pisaunya. Bukan pula tempat penyembelihannya.
Tetapi saat ayahandanya bertanya kepada Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk menyembelihmu dan saat itu Ismail menjawab dengan ketenangan:
“Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang-orang sabar” (QS as saffat: 102)
Dialog itu terdengar singkat. Namun di dalamnya tersimpan cinta yang luar biasa besar.
Ismail tidak sedang menyerahkan tubuhnya. Ia sedang menjaga hati ayahnya agar tidak hancur oleh rasa bersalah di dalam menjalankan perintah Allah.
Betapa lembut jiwa seorang anak yang lebih memikirkan kekuatan hati ayahnya dibanding keselamatan dirinya sendiri.
Dan sering kali dunia hanya berbicara tentang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS… tetapi melupakan Siti Hajar RA.
Padahal mungkin, pengorbanan paling sunyi justru hidup di hati seorang ibu.
Bayangkan seorang ibu yang sudah tua, yang pernah berlari antara Shafa dan Marwah, demi setetes air, kini harus menghadapi kemungkinan kehilangan anak yang sama.
Tidak ada tangisan panjang yang diceritakan. Tidak ada keluhan yang dipertontonkan.
Namun justru di situlah keteguhan Siti Hajar RA terasa begitu besar.
Karena banyak ibu menangis dalam diam. Banyak ibu menyimpan luka tanpa suara. Banyak ibu rela hatinya retak…asal orang yang dicintainya tetap hidup dalam ridha Allah.
Idul Adha akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat dalam; bahwa cinta tertinggi bukan tentang memiliki selamanya.
Tetapi tentang kesiapan untuk berkorban karena Allah.
Dan mungkin itulah sebabnya kisah ini tetap hidup ribuan tahun.
Karena setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing.
Ada yang berupa anak.
Ada yang berupa pasangan.
Ada yang berupa cita-cita.
Ada yang berupa jabatan.
Ada pula rasa cinta yang terlalu sulit dilepaskan.
Dan hidup pada akhirnya akan membawa kita pada satu pertanyaan yang sama: “Apakah kita akan ridha dan ikhlas dengan keputusan Allah; untuk mengambil dan memberi, tanpa kita sadari semua itu untuk kebaikan kita. Seharusnya cinta kita kepada Nya melebihi apapun”
Itulah Idul Adha.
Bukan hanya tentang hewan kurban. Bukan hanya tentang darah yang mengalir.
Tetapi tentang hati yang belajar ikhlas…meski harus retak perlahan. Tentang cinta tanpa syarat.
“Cinta yang tetap taat, yang pada akhirnya bersatu dan tidak dipisahkan. Cinta antara nabi Ibrahim AS dengan sang putra tercintanya”.💙
Jakarta, 27 Mei 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
