Oleh : Prof. Dr. Elfindri, SE, MA *)
SETIAP saya melihat data ketenagakerjaan, setiap itu pula kita heran, kok jumlah pencari kerja di Indonesia termasuk besar, 7.5 juta orang. Satu juta diantaranya merupakan tamatan Perguruan Tinggi.
LPEM UI juga menemukan tamatan Pascasarjana banyak yang juga menganggur. Fenomena ini belum termasuk mereka yang berstatus tidak sekolah, tidak mencari pekerjaan dan tidak sedang menjalani masa training.
Sehingga kalau dijumlahkan secara kasar jumlahnya bisa mencapai 15 juta orang lebih, belum termasuk mereka yang bekerja, namun dari segi prodiktivitas kerja rendah dan atau mereka bekerja dengan jumlah jam kerja yang terbatas. Ini kita kenal dengan manusia dengan rendah kapasitas terpakai “inderutilized”.
Kenyataan dari data demikian juga terlihat secara kasat mata dalam keseharian di kelurahan atau di kampung kampung, siang atau malamnya, anak muda berkumpul tak tentu arah. Padahal di sekelilingnya banyak lahan yang dibiarkan semak tumbuh, banyak sumberdaya yang masih bisa diolah menjadi nilai tambah. Itu kenyataan lapangan.
Pemerintah kita sekarang berupaya membuka lapangan kerja, lewat program utamanya: MBG, Koperasi Merah Putih, Kemandirian Pangan dan Energy serta program Magang Kerja bagi alumni PT .
Upaya pengangkatan mereka menjadi pegawai tidak tetap hanya berlaku secara sementara. Karena akan memberikan tekanan fiskal yang serius.
Memang dapat dipastikan, fenomena “over supply” tenaga kerja ini selain melemahnya aktifitas ekonomi, pergeseran struktur ekonomi akibat kemajuan digital, faktor supply tenaga kerja masih dirasa penting untuk didalami.
Apa gerangan yang menghalangi tidak mudahnya anak muda untuk masuk ke pasar kerja, baik masuk ke lapangan kerja formal, maupun pekerja mandiri. Jelas yang terjadi dari sisi supply adalah tenaga kerja yang tidak terlatih untuk ambil tindakan, secara mandiri.
Mereka mungkin terpelajar, mungkin mrmiliki emosional yang baik, patuh dan pandai bicara, tapi berpangku tangan. Berpangku tangan bisa karena malas dan tak terbiasa, juga tidak menguasai untuk mengerjakan sesuatu tugas.
Hasilkan X-skills
Ketika keluarnya prediksi keperluan tenaga kerja yang diterbitkan oleh World Economic Forum 2025, saya akhirnya berkesimpulan bahwa masih sangat diperlukan keseimbangan genedasi yang memiliki “high order thingking”, refleksi kepintaran yang mampu hasilkan apa yang akan dikerjakan “What to do”.
Komponen ini masuk klasifikasi “hard skills”, yang difungsikan melalui kekuatan cara berfikir. Orang hebat belim tentu bisa.
Selain diperlukan banyak masyarakat yang berilmu, dilengkapi dengan emosional yang baik, agar selain tau apa yang akan dikerjakan, namun juga paham bagaimana memerankan agar “what to do” dengan “how to do”.
Unsur emosional melekat ke dalam karakter manusia, seperti kejujuran, kemampuan untuk mengkomunikasikan, ketepatan waktu, daya tahan, dan saling berkolaborasi. Dipercaya setelah tahun 1990 unsur emosional ini mendominasi diskusi pembentukan manusia. Training training kepemimpinan laris manis diikuti ketika itu.
Namun pada periode sekarang keseimbangan menjadi penting, mesti kuat selain “cognitive”, pintar emosi, apalagi menguasai teknologi termasuk hal utama yang diperlukan pada masa depan pekerjaan.
Terpenuhinya unsur emosional, dan apalagi pintar masih hanya akan berputar disitu situ saja. Manusianya masih memerlukan apa yang nyata diperlukan “who to do”. Jika individual berpangku tangan dan tidak mengambil eksekusi terhadap apa yang terbaik dilakukan, maka ilmu, dan karakter menjadi tanpa amalan.
Dimensi ini yang kami maksud sebagai X talent, talenta eksekusi terhadap keputusan ilmiah teknis dan mampu dilaksanakan secara teknis administrative.
Tantangan Dunia Pendidikan
X talent itu mereka yang terbekali dengan kebiasaan dalam mengeksekusi dalam perhitungan yang pas, dengan cara dan metode yang benar.
Inilah yang perlu direproduksi lingkungan rumah, alam sekitar, sekolah dan tempat kerja.
Memanjakan anak akan kesenangan, membantu mereka dengan serba kemudahan merupakan akar masalah awalnya manusia miskin X talent.
Di rumah ibu dan ayah mesti membiasakan anak anaknya untuk terbiasa mengerjakan tugas tugas harian yang berkaitan dengan “home economics”, memasak, membersihkan rumah, membantu orang tua dan sejenisnya. Ini selalu diupdating dan dikenalkan orang tua kepada anak.
Di sekolah untuk seluruh level juga demikian, setiap mata ajar bisa dibiasakan ada unsur pembentuk X talent, apakah organisasi sekolah, kepramukaan, dan aktifitas extra curikuler sejenis. Dilengkapi dengan pembiasaan akhlak yang terpuji.
Pembiasaan di sekolah dan di rumah, apalagi anak anak diperkenalkan dengan masalah dan tindakan praktis yang mereka perlu lakukan itu tersusun dan jelas ke dalam kurikulum.
Masalahnya apakah dunia pendidikan mampu mengakomodasi kelengkapan unsur yang mesti disiapkan agar peserta didiknya semakin kuat ‘leadership’nya? Jadi ini diperlukan oleh guru dan dosen mengerti dan sadar mengaplikasikannya.
Jadi pedagogi orang tua serta guru dan dosen memang tidaklah sesederhana yang selama ini diketahui oleh dunia pendidikan.
Artinya keterampilan untuk mampu mengerjakan sesuatu merupakan kelemahan mendasar yang tidak diperoleh oleh anak anak dalam mengkuti jenjang pendidikan. Inilah tantangan ke depan kita. []
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas *)
