Oleh: Nurul Jannah*)
Perhelatan akbar Indonesia Minangkabau Literacy Festival (IMLF) IV, yang diselenggarakan pada 3–7 Juni 2026, di Bukittinggi, yang diketuai oleh Uni Sastri Bakry, sejatinya telah saya persiapkan jauh-jauh hari.
Tiket telah direncanakan. Agenda telah dicatat. Kerinduan untuk kembali menyapa sahabat-sahabat literasi dari berbagai penjuru negeri bahkan telah tumbuh lebih dahulu sebelum keberangkatan itu tiba.
Namun Qadarullah….
Menjelang hari pelaksanaan, sebuah tugas besar datang pada waktu yang sama. Sebuah amanah yang tidak dapat ditinggalkan. Dan seperti banyak pilihan dalam hidup, saya harus merelakan satu kebahagiaan demi menunaikan tanggung jawab yang lain.
Maka kali ini, saya hanya menjadi penonton dari kejauhan. Menjadi bagian dari festival itu tanpa benar-benar berada di sana.
Jam Gadang.
Dua kata yang sederhana.
Namun bagi Minangkabau, ia jauh lebih dari sebuah bangunan tua yang berdiri di tengah kota. Ia adalah penanda zaman. Penjaga ingatan. Saksi perjalanan sebuah peradaban yang telah melewati begitu banyak musim kehidupan.
Sejak kecil saya mengenalnya melalui buku pelajaran, kartu pos, majalah wisata, dan cerita orang-orang yang pernah singgah ke Bukittinggi.
Lama sebelum kaki ini sempat menginjak pelatarannya, nama Jam Gadang telah lebih dahulu menetap di dalam imajinasi saya.
Dan tahun ini, Jam Gadang genap berusia seratus tahun.
Seratus tahun menjaga waktu. Seratus tahun menyaksikan generasi datang dan pergi. Seratus tahun mendengar tawa, doa, harapan, serta air mata yang berlalu di bawah bayang-bayangnya.
Ketika IMLF IV berlangsung, saya tidak berada di sana. Tidak berjalan menyusuri pelataran Jam Gadang. Tidak menikmati semilir udara Bukittinggi. Tidak mencium aroma nasi kapau yang begitu sering diceritakan para sahabat. Tidak mendengar riuh para peserta festival yang berkumpul merayakan literasi, budaya dan persahabatan.
Namun, hati saya terasa ikut berada di sana.
Barangkali karena begitu banyak foto dan cerita yang dikirimkan oleh sahabat saya, Shintalya Azis dan sahabat-sahabat literasi lainnya, melalui liputan-liputan hangat mereka di Hati Pena.
Begitu banyak wajah yang tersenyum. Begitu banyak kisah yang dibagikan. Begitu banyak tawa yang menyeberangi jarak melalui layar telepon.
Dan setiap kali foto Jam Gadang muncul di layar, saya selalu berhenti beberapa detik lebih lama.
Memandangnya dari jauh. Membiarkan pikiran berjalan menuju ke Bukittinggi.
Seolah bangunan tua itu sedang berbicara.
Tentang waktu.Tentang perjalanan.Tentang perjumpaan. Tentang orang-orang yang pernah datang, lalu pergi meninggalkan kenangan.
Jam Gadang tidak pernah mengejar siapa pun.
Ia hanya berdiri. Tetap tegak. Tetap setia. Tetap mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan.
Mungkin itulah sebabnya saya selalu menyukainya. Karena semakin bertambah usia, kita mulai memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat berlari.
Melainkan tentang jejak kebaikan apa yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan.
Dan Jam Gadang telah meninggalkan begitu banyak jejak.
Di sanalah orang bertemu sahabat lama. Di sanalah keluarga mengabadikan kebersamaan. Di sanalah anak-anak berlari mengejar tawa.
Dan di sanalah para penulis, penyair, budayawan, pegiat literasi serta para perindu kata berkumpul merayakan gagasan, persahabatan dan mimpi-mimpi yang terus hidup.
Barangkali itulah yang membuat saya merasa tetap hadir. Meski tubuh berada jauh. Meski tidak sampai ke Bukittinggi pada hari-hari itu.
Karena sesungguhnya, hati selalu memiliki jalannya sendiri. Ia mampu melintasi jarak yang tidak sanggup ditempuh kendaraan. Ia mampu hadir pada tempat-tempat yang tidak sempat kita datangi. Dan selama lima hari festival itu berlangsung, diam-diam hati saya berjalan di bawah bayang-bayang Jam Gadang.
Mendengar detaknya. Menyimpan ceritanya. Menitipkan rindu pada kota yang sedang merayakan literasi.
Memang saya tidak di sana. Memang nama saya tidak tercatat dalam daftar peserta yang hadir. Namun sebagian hati saya berada di sana.
Di antara detak Jam Gadang. Di antara halaman-halaman buku yang dibicarakan. Di antara sahabat-sahabat yang saling menguatkan melalui kata.
Dan ketika festival itu berakhir, saya menyadari satu hal, bahwa tidak semua perjalanan harus ditempuh oleh kaki. Ada perjalanan yang cukup dilakukan oleh hati.
Dan mungkin, ketidakhadiran ini bukanlah akhir dari perjalanan.
Barangkali ini hanyalah cara Allah menyimpan sebuah pertemuan pada waktu yang lebih indah.
Sampai suatu hari nanti, ketika takdir mengizinkan, saya ingin berdiri di bawah Jam Gadang yang sama.
Memandang jarumnya bergerak perlahan. Menyentuh dinding yang telah berusia seabad.
Lalu berbisik pada diri sendiri: “Aku memang tidak datang pada festival literasi itu. Tetapi hati ini tidak pernah terlambat sampai.”
Dan saat hari itu tiba, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada waktu. Karena telah mengajarkan bahwa tidak semua yang tertunda berarti hilang.
Bisa jadi semua itu sedang disimpan dan dipersiapkan oleh Allah dengan cara yang lebih indah.❤️
Wallahu a’lam bishshawab.
Bogor, 9 Juni 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
