Oleh : Shintalya Azis*)
Desa Tirta, sebuah desa kecil yang berada di kaki gunung, selama ini hidup dalam keterbatasan. Akses jalan sulit, sinyal telepon sering hilang, dan bantuan jarang datang. Karena itu, ketika bantuan hewan qurban tiba berupa seekor sapi dan lima ekor kambing, warga menyambutnya dengan penuh syukur.
Pemotongan qurban berjalan lancar. Daging dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan dengan tertib dan merata. Namun, setelah seluruh proses selesai, tersisa tiga ekor kambing yang sejak awal memang disiapkan sebagai cadangan.
Hari-hari setelah Idul Adha berlalu. Pertanyaan mulai muncul: apa yang harus dilakukan dengan kambing-kambing itu?
Sebagian orang berpendapat bahwa kambing tersebut sebaiknya tidak perlu dilaporkan. Ada pula yang menyarankan agar hewan itu dimanfaatkan saja oleh pengurus atau dibagikan terbatas.
Muncul saran agar keberadaan kambing tersebut tidak perlu diceritakan dan dikembalikan. Alasannya terdengar masuk akal: jika diketahui masih ada sisa, bisa saja tahun depan jumlah bantuan qurban untuk Desa Tirta dikurangi. Padahal, jumlah penerima daging qurban kemungkinan akan semakin bertambah.
Pak Badrun berada dalam dilema. Sebagai kepala kampung, ia memahami kebutuhan masyarakat di masa mendatang. Ia juga sadar bahwa mengajukan bantuan qurban bukan perkara mudah. Namun di sisi lain, nuraninya terus bertanya: apakah benar menyimpan sesuatu yang bukan haknya hanya demi berjaga-jaga untuk masa depan?
Lama berpikir, ia lalu memutuskan untuk membuat laporan kepada pihak terkait untuk memberitahukan keberadaan kambing-kambing tersebut.
Dengan penuh tanggung jawab, kambing-kambing itu dikembalikan sesuai prosedur, meskipun ia memahami bahwa keputusan itu mungkin membuat pengajuan bantuan qurban tahun depan menjadi lebih sulit.
Keputusan itu tidak mudah. Namun setelah semuanya selesai, Pak Badrun merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ia memilih menjaga amanah daripada mencari pembenaran. Ia tidak menyalahgunakan wewenang, tidak mengambil yang bukan haknya, dan tidak membiarkan kepentingan sesaat mengalahkan integritas.
Bagi Pak Badrun, kehilangan peluang lebih baik daripada kehilangan kejujuran. Sebab ia percaya, bantuan dapat dicari kembali, tetapi kepercayaan dan nurani yang bersih adalah sesuatu yang tak ternilai. (*)
Pesan hari ini:
Integritas sering kali diuji bukan ketika seseorang diawasi, melainkan ketika ia memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan tanpa diketahui siapa pun.
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi #biasakanyangbenar Ig@aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
