Man Jadda Wa Jada

Oleh: Nurul Jannah*)

“Bu, saya tidak sepintar teman-teman yang lain.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Salsa, salah satu mahasiswa bimbingan saya, pada suatu sore setelah perkuliahan berakhir.

Wajahnya tampak murung. Matanya menyimpan keraguan yang sulit disembunyikan. Barangkali ia baru saja melihat nilai yang tidak sesuai harapan. Atau mungkin ia sedang membandingkan dirinya dengan teman-teman yang terlihat lebih cemerlang.

Saya tersenyum, mencoba menenangkan gelombang kecil yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

“Siapa yang bilang keberhasilan hanya milik orang yang paling pintar?”

Ia menatap saya. Seolah ingin mencari jawaban yang selama ini tidak pernah ia temukan.

“Tahukah kamu?” lanjut saya, “Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang biasa yang melakukan usaha luar biasa.”

Salsa masih diam.

Namun saya melihat matanya mulai mendengarkan. Keraguan yang semula memenuhi ruang pikirannya bergeser memberi tempat bagi harapan.


Ada satu kalimat yang sejak lama menjadi bahan bakar semangat bagi banyak orang.

Man Jadda Wa Jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Kalimat itu pendek. Sederhana. Mudah dihafal. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan kekuatan yang telah mengubah kehidupan banyak orang.

Bukan hanya di ruang kelas. Bukan hanya di kampus. Tetapi juga di ruang penelitian, dunia usaha, lapangan pekerjaan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang mengira keberhasilan lahir karena bakat. Padahal bakat hanyalah pintu masuk. Yang membuat seseorang bertahan hingga mencapai tujuan adalah kesungguhan.

Ada mahasiswa yang sejak awal tampak cemerlang. Nilainya tinggi. Cepat memahami pelajaran. Mudah menjawab soal.

Namun ada pula mahasiswa yang harus membaca satu materi berulang kali. Harus mencoba berkali-kali. Harus jatuh bangun sebelum menemukan cara yang tepat.

Dan, kehidupan sering menghadirkan kejutan yang tidak diduga. Tidak selalu yang paling pintar menjadi yang paling berhasil. Sering kali yang berhasil adalah mereka yang paling gigih bertahan ketika orang lain memilih menyerah.

Setetes air yang jatuh dari atap rumah tampak lemah. Tidak memiliki kekuatan besar. Namun tetesan yang sama, jika jatuh di tempat yang sama, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, mampu melubangi batu. Karena ia tidak pernah berhenti. Begitulah cara kesungguhan bekerja.

Diam. Perlahan. Hampir tidak terlihat. Namun diam-diam sedang membentuk masa depan.


Suatu hari, Niken, mahasiswa bimbingan saya tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi, datang dengan wajah lelah.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

“Bu, saya sudah mencoba berkali-kali, tetapi tetap gagal.”

“Berkali-kali itu berapa kali?” tanya saya.

“Tiga kali.”

“Niken, kalau Thomas Edison berhenti pada percobaan ketiga, mungkin malam ini kita masih belajar ditemani lampu minyak.”

Ia masih belum bergeming. Masih ada beban yang menggantung di wajahnya.

*”Kadang masalahnya bukan karena kita tidak mampu.”

“Lalu karena apa Bu?”

“Karena kita berhenti terlalu cepat.”, lanjut saya.

Ia terdiam.

Dan saya tahu, pada saat itu, yang sedang diuji sebenarnya bukan kecerdasannya, melainkan ketabahannya.

**

Lihatlah seorang bayi yang sedang belajar berjalan.

Apakah ia langsung bisa jalan?

Tentu saja tidak. Ia jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Bangun lagi. Berkali-kali.

Namun tidak pernah ada bayi yang berkata, “Sudahlah. Berjalan bukan bakat saya.”

Ia masih akan terus mencoba. Karena di dalam dirinya belum ada pilihan untuk menyerah.

*Sayangnya, semakin dewasa usia kita, semakin kita takut mencoba.

Baru gagal sekali, sudah ingin berhenti.

Baru ditolak sekali, sudah ingin mundur.

Baru salah sekali, sudah merasa tidak berharga.

Padahal sering kali keberhasilan berdiri sangat dekat.

Dekat sekali. Hanya dipisahkan oleh satu usaha terakhir yang tidak jadi dilakukan.

Dunia memang tidak selalu ramah.

Ada mahasiswa yang harus belajar sambil bekerja. Ada yang kuliah dengan keterbatasan biaya. Ada yang membantu orang tua sepulang kuliah. Ada yang menyimpan masalah keluarga yang tidak pernah diketahui teman-temannya. Ada yang setiap hari berjuang melawan rasa lelah, cemas, dan ketidakpastian.

Namun sejarah berkali-kali membuktikan bahwa banyak tokoh besar lahir bukan dari kemudahan.

Mereka lahir dari perjuangan. Mereka tumbuh dari keterbatasan. Mereka ditempa oleh kesungguhan.

Karena itu saya sering mengatakan kepada mahasiswa,

“Jangan iri pada hasil yang dicapai orang lain.”

“Lalu kami harus bagaimana, Bu?”

“Tanyakan berapa banyak malam yang mereka korbankan untuk sampai ke sana.”

Sebab kita sering melihat wisuda, namun tidak melihat perjuangan panjang menjelang wisuda.

Kita melihat jabatan, namun tidak melihat kegagalan yang pernah mereka alami.

Kita melihat keberhasilan, namun tidak melihat air mata yang pernah jatuh di sana.

Ada satu kesalahan yang sering dilakukan banyak orang.

Mereka menunggu semangat untuk bergerak.

Padahal justru sebaliknya.

Bergeraklah terlebih dahulu. Semangat akan menyusul di belakangmu.

Seorang pelari tidak menjadi kuat karena bersemangat. Ia menjadi bersemangat karena terus berlari.

Seorang penulis tidak menghasilkan buku karena menunggu inspirasi. Ia menemukan inspirasi karena terus menulis.

Seorang mahasiswa tidak menjadi percaya diri. Ia menjadi percaya diri karena terus belajar.


Man Jadda Wa Jada bukan mantra ajaib.

Ia harus diwujudkan dalam tindakan. Dalam disiplin. Dalam keberanian untuk bangkit setelah jatuh. Dalam kemampuan untuk terus berjalan meskipun hasil belum terlihat.

Bayangkan dua orang berdiri di kaki gunung.

Yang pertama berkata,

“Gunung ini terlalu tinggi.”

Lalu ia pulang.

Yang kedua berkata,

“Gunung ini memang tinggi, tetapi saya akan mendakinya selangkah demi selangkah.”

Setahun kemudian, siapa yang sampai di puncak?

Tentu saja bukan mereka yang paling banyak mengeluh. Bukan juga mereka yang paling alasan. Melainkan mereka yang terus melangkah, meskipun kakinya lelah.

Maka,

Kepada para mahasiswa saya. Kepada siapa pun yang sedang berjuang. Kepada mereka yang hari ini merasa tertinggal. Kepada mereka yang sedang kehilangan kepercayaan diri. Kepada mereka yang merasa tidak memiliki kelebihan apa pun.

Dengarkan baik-baik ya.

Tidak semua orang lahir dari titik awal yang sama. Tidak semua orang memiliki fasilitas yang sama. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Namun setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersungguh-sungguh.

Dan sering kali, kesungguhan mampu mengalahkan bakat.

Ketekunan mampu mengalahkan kecerdasan. Konsistensi mampu mengalahkan keberuntungan.


Jika hari ini merasa berat, jangan berhenti. Jika hari ini merasa gagal, jangan menyerah. Jika hari ini merasa belum berhasil, jangan putus asa.

Karena tidak ada yang tahu seberapa dekat kita dengan keberhasilan ketika kita memilih untuk tetap berjalan.

Mungkin satu langkah lagi. Satu usaha lagi. Satu doa lagi. Satu malam belajar lagi. Atau, mungkin hanya satu kali bangkit lagi.

Maka hari ini, jika ada satu kalimat yang layak ditulis besar-besar di dinding hati, kalimat itu adalah: MAN JADDA WA JADA. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Karena mereka yang terus melangkah pada akhirnya akan tiba.

Dari keraguan menuju keyakinan. Dari keterbatasan menuju kesempatan. Dari kegagalan menuju keberhasilan. Dari titik nol menuju versi terbaik dirinya.

Dan ketika hari itu tiba, mereka akan menoleh ke belakang sambil tersenyum haru. “Ternyata perjuangan tidak pernah mengkhianati kesungguhan. Karena pohon besar yang hari ini menjulang ke langit pun dahulu hanyalah benih kecil yang nyaris tidak terlihat”.

“Yang membedakan bukan di mana kita memulai, melainkan apakah kita terus bertumbuh atau memilih berhenti.”

Jakarta, 14 Juni 2026❤️

Exit mobile version