“SUARA AIR”

Oleh: Nurul Jannah

Air yang tenang sering membuat kita merasa aman. Padahal sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa banyak bencana justru datang ketika semuanya tampak baik-baik saja.

Pagi itu saya berdiri di tepi sebuah waduk besar di Jawa Barat.

Kabut menggantung rendah di atas permukaan air. Matahari masih enggan menampakkan wajahnya. Di kejauhan, perahu-perahu kecil mulai bergerak perlahan. Beberapa nelayan telah lebih dulu menembus dinginnya pagi. Dari arah kampung terdengar suara anak-anak bersiap berangkat ke sekolah.

Semuanya tampak damai.

Begitu damai hingga sulit membayangkan bahwa tempat yang indah itu termasuk objek dengan kategori Risiko Tinggi.

Namun justru itulah alasan saya berada di sana.

Bersama tim auditor, saya sedang melaksanakan Audit Lingkungan Hidup Wajib Risiko Tinggi Berkala Periode II. Audit yang dilakukan setiap lima tahun untuk memastikan bahwa pengelolaan lingkungan, pengendalian risiko, serta kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat benar-benar berjalan sebagaimana mestinya.

Ketika banyak orang memandang waduk sebagai hamparan air yang indah, auditor melihat hal yang berbeda. Kami melihat kemungkinan. Kemungkinan yang tidak pernah diharapkan terjadi.
Kemungkinan yang tidak pernah ingin terjadi.

Namun harus selalu dipersiapkan.

Karena tugas audit bukan menunggu bencana datang.

Tugas audit adalah memastikan semua orang siap sebelum bencana datang.

Salah satu bidang yang menjadi tanggung jawab saya adalah Komunikasi Risiko.

Awalnya saya mengira pekerjaan ini akan dipenuhi dokumen, laporan, matriks risiko, dan berbagai data administratif.

Ternyata saya keliru.

Semakin lama berada di lapangan, semakin saya memahami bahwa komunikasi risiko jauh lebih dekat dengan kehidupan daripada yang pernah saya bayangkan.

Ia berbicara tentang rasa aman. Tentang kepercayaan. Tentang keluarga yang menunggu kepulangan orang yang mereka cintai.

Tentang anak-anak yang berlari menuju sekolah setiap pagi.

Tentang para lansia yang menghabiskan hari-harinya di rumah sederhana di tepi waduk.

Dan pada akhirnya, tentang keselamatan kita semua.

Hari pertama audit kami mewawancarai berbagai pihak.

Petugas bendungan. Pemerintah desa. BPBD. Balai Bendungan. Kelompok masyarakat. Relawan kebencanaan.

Saya masih mengingat sebuah percakapan sederhana yang hingga hari ini terus tinggal di kepala saya.

Di sebuah desa yang menghadap langsung ke waduk, saya berbincang dengan Pak Gani, seorang tetua kampung yang masih aktif menjadi relawan.

Usianya hampir tujuh puluh tahun.

Kulitnya legam karena matahari. Tatapannya teduh.

Ia lahir, tumbuh, dan menua bersama waduk itu.

Barangkali ia lebih mengenal perubahan air dibanding banyak orang yang datang dan pergi.

“Pak, kalau suatu saat sirene keadaan darurat berbunyi, Bapak harus bagaimana?”

Beliau tersenyum.

“Lari saja, Bu.”

Jawabannya spontan.

Kami tertawa kecil bersama.

Namun saya melanjutkan.

“Lari ke mana, Pak?”

Beliau terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa pelan.

“Nah… itu saya belum tahu juga, Bu.”

Saya ikut tersenyum.

Namun jauh di dalam hati, saya justru sedang berpikir keras.

Karena jawaban sederhana itu membuka sebuah kenyataan yang sering luput dari perhatian.

Mungkin masyarakat pernah mendengar tentang risiko. Mungkin pernah mengikuti sosialisasi.

Mungkin pernah menerima brosur. Mungkin pernah menghadiri pertemuan.

Namun apakah mereka benar-benar memahami apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi?

Pertanyaan itulah yang terus menemani langkah saya selama audit berlangsung.

Selama bertahun-tahun bekerja di bidang lingkungan hidup, saya sering melihat perusahaan sangat serius membangun infrastruktur. Membangun sistem. Membangun prosedur. Membangun teknologi.

Dan semua itu memang penting. Sangat penting.

Namun pengalaman lapangan mengajarkan satu hal.

Dalam keadaan darurat, yang diuji bukan hanya teknologi.

Yang diuji adalah manusia. Ketika listrik padam.
Ketika hujan turun berhari-hari tanpa jeda.

Ketika jaringan komunikasi terputus. Ketika kepanikan mulai menyebar.

Yang menentukan keselamatan sering kali bukan kecanggihan sistem.

Melainkan apakah masyarakat tahu apa yang harus dilakukan.

Dan di situlah inti persoalannya.

Hari berikutnya kami berdiskusi dengan Balai Bendungan.

Pembicaraan berlangsung panjang dan serius.

Kami membahas curah hujan ekstrem. Perubahan iklim. Sedimentasi. Keselamatan bendungan.
Sistem peringatan dini.
Rencana Tindak Darurat. Peta genangan.

Jalur evakuasi. Desa-desa yang berada di wilayah terdampak.

Semua sangat teknis.
Semua sangat penting.
Namun di tengah berbagai istilah teknis itu, saya kembali menyadari satu hal.

Risiko tidak pernah datang kepada dokumen.

Risiko datang kepada kita. Dokumen tidak akan berlari ketika sirene berbunyi.

SOP tidak akan menggendong anak kecil menuju titik kumpul.

Laporan tidak akan menuntun lansia yang tinggal seorang diri.

Yang harus bergerak adalah kita.

Karena itu komunikasi risiko sesungguhnya bukan pekerjaan administratif. Ia adalah pekerjaan kemanusiaan.

Di sela-sela audit, saya memperhatikan kehidupan masyarakat di sekitar waduk.

Ada yang mencari ikan.
Ada yang menjaga keramba. Ada yang membuka warung kecil. Ada yang mengantar anak ke sekolah. Ada yang duduk di beranda rumah menikmati pagi.

Mereka hidup berdampingan dengan waduk setiap hari.

Mereka menikmati manfaatnya. Air. Listrik. Penghidupan.

Namun diam-diam saya bertanya kepada diri sendiri.

Apakah mereka juga memahami risikonya?

Karena manfaat dan risiko selalu berjalan berdampingan.

Kita tidak bisa menikmati yang satu sambil melupakan yang lain.

Yang menarik, hampir semua pihak yang kami wawancarai menyampaikan bahwa hubungan dengan pengelola waduk berjalan baik.

Koordinasi ada. Komunikasi ada.
Program sosial berjalan.

Saya melihat banyak niat baik. Banyak kerja keras. Banyak upaya yang telah dilakukan.

Namun audit mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup.

Yang lebih penting adalah memastikan pesan benar-benar sampai.

Dipahami. Diingat. Dan mampu diterapkan.

Karena informasi yang tidak dipahami sering kali sama berbahayanya dengan informasi yang tidak pernah disampaikan.

Sore hari sebelum meninggalkan lokasi, saya berdiri cukup lama memandangi hamparan air yang membentang luas.

Permukaannya nyaris tanpa riak. Tenang. Menenangkan. Tidak ada tanda bahaya. Tidak ada tanda ancaman.

Namun saya tahu.

Tugas audit bukan menilai hari ini.

Tugas audit adalah memastikan kita siap menghadapi hari yang tidak pernah kita harapkan datang.

Karena bencana hampir selalu datang pada saat manusia merasa semuanya baik-baik saja.

Dan komunikasi risiko sejatinya bukan tentang menakut-nakuti masyarakat.

Ia adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan.

Tentang memastikan bahwa ketika alam berbicara lebih keras dari biasanya, tidak ada yang kebingungan harus berbuat apa.

Saat kendaraan kami perlahan meninggalkan kawasan waduk, saya masih sempat menoleh ke arah hamparan air yang membiru di bawah langit senja.

Tenang. Nyaris tanpa riak.
Tak ada tanda kegelisahan.

Tak ada tanda ancaman.

Namun justru ketenangan itulah yang mengingatkan saya pada satu kenyataan.

Banyak risiko datang tanpa suara. Air tidak pernah berteriak. Ia memberi tanda. Perlahan. Berulang kali.

Pertanyaannya, apakah kita mau mendengarkannya?

Audit akhirnya mengajarkan pelajaran yang tidak pernah tertulis dalam checklist, matriks risiko, ataupun dokumen setebal apa pun.

Bahwa keselamatan tidak dibangun ketika bencana datang. Keselamatan dibangun jauh sebelumnya.

Ketika pengetahuan dibagikan. Ketika masyarakat dilibatkan. Ketika kepercayaan dirawat. Ketika risiko dibicarakan secara jujur.

Karena pada akhirnya, bendungan yang paling kokoh bukan hanya yang dibangun dari beton, baja, dan teknologi terbaik.

Bendungan yang paling kokoh adalah bendungan yang dikelilingi individu-individu yang memahami risiko, saling menjaga, dan siap melindungi satu sama lain.

Dan sering kali, yang menyelamatkan kehidupan bukan tinggi bendungannya.

Bukan pula besarnya turbin yang berputar. Juga bukan canggihnya sistem peringatan dini.

Melainkan kesadaran yang hidup di hati setiap orang yang tinggal di sekitarnya.

Sebab ketika air akhirnya berbicara lebih keras dari biasanya, yang menentukan keselamatan bukan lagi teknologi.

Melainkan kita yang telah belajar mendengarkan sejak jauh sebelumnya🥰.

Bogor, 24 Juni 2026

Exit mobile version