Pura Uluwatu dan Tari Kecak

Paduan suara tari Kecak, "cak cak cak ke cak cak cak" dari para penari laki-laki yang duduk melingkar, menciptakan harmoni yang khas dan memukau. (foto; google)

Oleh : Efi Yandri*)

Salah satu tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi di pulau Bali adalah Pura Uluwatu. Uluwatu berarti Pura yang letaknya diatas batu karang (tebing). Dalam bahasa Bali, ulu artinya atas dan watu artinya batu (batu karang/tebing).

Pura ini letaknya di desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Posisinya di ujung barat daya pulau Bali, menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Jika kita menginap di kota Denpasar, menuju Uluwatu butuh waktu sekitar 45 menit hingga 1,5 jam, tergantung pada lokasi awal di Denpasar, kondisi lalu lintas, dan jenis transportasi yang digunakan.

Perjalanan dari Denpasar menuju Uluwatu bukan sekadar perjalanan menuju destinasi wisata, tetapi sebuah petualangan penuh pesona yang menghadirkan keindahan alam, keramahan budaya, serta ketenangan khas Bali.

Pura Uluwatu konon didirikan pada abad XI. Posisinya tepat diatas batu karang yang sangat tinggi, sekitar 97 meter diatas permukaan laut serta menjorok ke laut diatas tebing yang sangat curam.

Setiap pengunjung yang akan memasuki area pura Uluwatu, wajib memakai kain (sarung) dan selendang yang diikat di pinggang sebagai tanda penghormatan terhadap tempat suci. Biasanya kain dan selendang disediakan di pintu masuk pura.

Uluwatu dikenal sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati sunset di Bali. Cahaya senja keemasan yang berpadu dengan siluet pura dan lautan berwarna kemerahan menjadi pemandangan yang menawan bagi wisatawan.

Jika teman-teman ke Uluwatu, saya sarankan untuk menonton tari kecak sembari menikmati sunset. Di Uluwatu, tari kecak dipentaskan setiap hari dalam seminggu, dengan dua sesi pertunjukan pada pukul 18.00 dan 19.00 WITA. Waktu yang sangat tepat untuk menyaksikan sunset dari ujung pulau Bali. Jadwal ini berlaku setiap hari, kecuali pada hari raya Nyepi. 

Pada tahun 2020, ketika saya sempat main kesana, tiket untuk menyaksikan tari kecak adalah Rp.100.000, -per orang. Sementara kapasitas tempat duduk adalah untuk 500 orang. Ketika pengunjung membludak, penyelenggara masih menyediakan beberapa tempat duduk bersila di lantai.

Paduan suara “cak cak cak ke cak cak cak” dari para penari laki-laki yang duduk melingkar, menciptakan harmoni yang khas dan memukau. Paduan suara itu akan berhenti ketika pemimpin paduan mengucapkan kata “Ti”, yang saya pikir artinya adalah berhenti. Waktu itu, saya iseng ikut meneriakkan “Ti”, karena tahu saatnya kapan mengucapkannya.

Bagi saya, menyaksikan tari kecak dengan latar belakang sunset dan laut lepas adalah sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. Sungguh memesona. Sampai ketemu dengan kisah perjalanan berikutnya… []

Asisten Pemerintahan dan Kesra kabupaten Solok Selatan, Penulis Buku dan Penyanyi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *