Gerakan Ekoteologi UIN Bukittinggi, Ubah Limbah Dapur MBG Jadi Pupuk

BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM — Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terus mengukuhkan komitmennya dalam menghadirkan kepedulian lingkungan berbasis ajaran dan nilai keagamaan yang diintegrasikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Melalui program Pengabdian Masyarakat, LPPM mengusung gerakan ekoteologi sebagai solusi konkrit pengolahan limbah dan pemulihan kualitas tanah di Sumatra Barat.

Gerakan berbasis kepedulian lingkungan ini diwujudkan melalui aksi nyata mengolah limbah dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta sisa bahan organik menjadi pupuk hayati dan organik yang bermanfaat bagi pertanian.

Komitmen Rektor dan Sentuhan Ekoteologi di Lapangan

Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, secara proaktif mengawal setiap agenda pengabdian masyarakat agar sejalan dengan visi “Kampus Berdampak” yang memberi manfaat langsung bagi kehidupan warga.

“Perguruan tinggi tidak boleh berjarak dengan persoalan riil masyarakat. Kehadiran program ekoteologi ini adalah bukti komitmen UIN Bukittinggi untuk mentransformasi keilmuan dan nilai keagamaan menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan petani,” ujar Prof. Silfia.

Baca Juga :  Porprov Sumbar Usai, Anandya Dipo Ingatkan Atlet: Jangan Puas dengan Medali!

Ketua LPPM UIN Bukittinggi Dr.Muhiddinur Kamal, menyebutkan tahun 2026 ini, LPPM UIN Bukittinggi melakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat berbasis ekoteologi.

“Tim Pengabdian Masyarakat UIN Bukittinggi hadir di nagari Guguak Malalo, kabupaten Tanah Datar yang ditimpa banjir bandang untuk melakukan pemulihan mental dan memberikan wawasan baru tentang penyelamatan lingkungan,” jelas Muhiddinur Kamal.

Selain itu, lanjut Muhiddinur Kamal, dosen UIN Bukittinggi juga melakukan pengabdian masyarakat berbasis ekoteologi di nagari Pasie Laweh, kecamatan Palupuh tentang energi terbarukan.

“UIN Bukittinggi memiliki tim pendamping masyarakat untuk dibimbing cara memilah limbah organik dapur dan pertanian untuk diproses menjadi pupuk pengembali kesuburan tanah, ” jelas Muhiddinur Kamal.

Baca Juga :  Urus Tanah Tak Perlu Cuti, Sentuh Tanahku Hadirkan Antrian Daring

Terkait limbah dari dapur MBG yang mulai dikeluhkan masyarakat, anggota Tim Pengabdian Masyarakat Berbasis Ekoteologi UIN Bukittinggi yang juga Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Ali Rahman, M.H., menekankan pentingnya intervensi teknologi hayati dalam pengolahan limbah.

“Limbah dapur MBG dan sisa bahan organik memiliki kandungan nutrisi tinggi jika dikelola secara tepat. Penggunaan pupuk hayati dengan mikroba pengurai (decomposer) non-patogen tidak hanya mempercepat proses dekomposisi, tetapi juga mampu memulihkan struktur tanah padat dan mengurai sisa-sisa residu kimia pestisida secara alami,” terang Ali Rahman.

Perluasan Mitra Pengabdian Masyarakat

Merespon limbah yang dihasilkan dapur MBG, Ali Rahman dan tim bergerak cepat melakukan tindak lanjut dan pengembangan jaringan mitra strategis dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penanggungjawab dan pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) .

Baca Juga :  Lisda Hendrajoni Salurkan Bantuan Tongkat Medis untuk Pemuda di Sutera

Kemitraan ini difokuskan pada optimalisasi pengolahan limbah dapur program MBG di wilayah tersebut agar dapat diproduksi secara massal menjadi pupuk hayati siap pakai bagi para kelompok tani lokal.

Melalui sinergi antara akademisi, penggerak lapangan, dan mitra strategis daerah, UIN Bukittinggi menegaskan perannya sebagai kampus pembawa perubahan yang ramah lingkungan dan berdampak nyata bagi kemandirian pangan daerah. (irwandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *