Oleh : Dr. H. Afrinal, MH*)
Kodrat kita sebagai manusia terlahir kedunia ini diciptakan Allah SWT selalu ada ujian atau masalah. Misalnya sedikit harta dan banyak harta. Itu juga ujian. Malah terkadang ujian lain didatangkan oleh Allah SWT berupa sakit berkepanjangan. Dan tidak sedikit pula orang terkadang hanya karena omongan juga mudah tersinggung karena sengaja ataupun tidak sengaja. Ujung-ujung tidak saling bersapaan dalam hitungan tahun.
Tapi semua itu sebagai orang yang ber-iman hanya kepada Allah SWT, maka hadapi setiap masalah itu dengan tenang dan iman. Sebab, pada dasarnya ”Tenang bukan berarti tidak memiliki masalah. Tenang adalah ketika kita menghadapi masalah haruslah dengan modal iman. Termasuk juga menjalani kehidupan dengan selalu bersyukur, menghadapi ujian dengan sabar, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.”
Prinsip ini harus menjadi harga mati dan patut diterapkan dalam hidup dan kehidupan kita sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Zoon politicon istilah ini kita dapatkan dalam bahasa Yunani yang berarti manusia merupakan makhluk sosial atau makhluk yang secara alami hidup bermasyarakat. Dan diikemukakan oleh filsuf Yunani, Aristoteles.
Pertanyaan yang mendasar dari mana kita memulai penciptaan hidup tenang itu?. Ternyata jawabannya sangat sederhana ”Mari Memulai Ketenangan dari Diri Sendiri”. Seperti apa dan cara apa untuk mewujudkan kehidupan yang tenang?. Jawabannya ”Kita mulai dari hal-hal sederhana”.
Selama ini kita mungkin telah melakukannya. Namun tanpa sadar. Walaupun tidak terlalu menjadi perhatian serius bagi kita. Beberapa bagian kecil yang mungkin bisa penulis ungkap di sini tradisi itu, diantaranya- ayok setiap pagi kita bangun pagi ucapkan kalima syukur, karena dimatikan semalam paginya dihidupkan kembali. Ini rahasia Allah SWT.
Bagian lain yang juga penting untuk hidup tenang, menjaga shalat lima waktu sehari semalam yang wajib dan di iringi dengan ibadah sunah lainnya. Membiasakan zikir dan membaca Al-Qur’an setelah ibadah shalat walau hanya beberapa menit saja. Selanjutnya mari kita mengurangi sikap berkeluh kesah dan menggantinya dengan memperbanyak rasa syukur.
Yang tidak kalah pentingnya lagi, jangan pernah menyakiti orang lain dengan perkataan maupun perbuatan, baik disengaja atau tidak disengaja. Karena kalau ini dilakukan maka, kita sudah berada pada posisi sulit hidup di dunia maupun di akhirat. Dan bisa juga berujung pada kemudhadaratan. Padahal kita didunia selalu menjadikan hidup ini memberikan kemaslahatan bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.
Sebagai manusia, kita hidup berbangsa dan bernegara. Dan dalam hidup pun pasti ada masalah. Maka sebagai orang yang beriman setiap menyelesaikan masalah haruslah dengan kepala dingin dan berpikiran jernih dan berprasangka baik pada setiap manusia lainnya. Mau bersikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa mengabaikan batasan yang sehat, juga menjadi bagian kunci hidup tenang.
Pastikan pula bahwa untuk menciptakan keluarga yang tenang, mulailah dengan menciptakan komunikasi yang baik di rumah. Dan juga, jika kita ingin lingkungan yang tenang dan damai pergaulan dan saling menghormati dengan tetangga dan selalu menjaga persaudaraan adalah salah kunci hidup bisa tenang pula.
Kata kunci dari semua uraian yang penulis ungkap di atas adalah, ”Jika kita ingin kehidupan kita tenang dan masyarakat yang tenteram, mulailah dengan membangun kejujuran, keadilan, kepedulian, dan saling membantu antara sesama. Baik itu diminta atau tidak diminta oleh orang lain kepada kita. Semoga. Ammiiin. []
Dosen Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang*)
