Apresiasi Terhadap Lukisan Circular Canting karya Puji Setya Wilujeng

CANTING DAN CINTA

Oleh : Nurul Jannah*)

Ketika Masa Lalu Memeluk Masa Depan

Ada warisan yang tak pernah menua, meski jemari yang dahulu merawatnya telah lama berhenti menorehkan warna. Ia tetap bernapas dalam lekuk garis, keheningan motif, dan kisah yang berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kehangatan itulah yang menyentuh hati saya ketika memandang Lukisan Circular Canting, karya Bu Puji Setya Wilujeng.

Di atas latar biru yang dalam, lengkung putih menyerupai canting seolah memeluk dedaunan ecoprint bernuansa cokelat, hijau, dan kuning keemasan. Aksen merah jingga menyerupai tetesan malam, sementara motif Parang hadir dalam perpaduan yang anggun. Lukisan itu diam dalam bingkainya, tetapi setiap garis seakan berdenyut, menyimpan rindu yang tak pernah selesai.

Garis-garis fraktal menjalar menyerupai urat daun yang saling bertaut. Bu Puji menghadirkannya sebagai simbol kemajuan zaman dan teknologi. Betapa indah ketika masa depan dilukiskan melalui bahasa alam, seolah kemajuan pun ingin tetap berakar pada bumi yang menghidupinya.

Dalam imajinasi saya, canting berbisik kepada sang daun.

“Aku membawa kisah dari tangan-tangan terdahulu. Maukah engkau menemaniku menyambut esok?”

Daun menjawab lirih.

“Aku akan tumbuh bersamamu, selama kita tetap menjaga bumi.”

Aih, betapa romantisnya pertemuan itu.

Canting membawa ketekunan tradisi, motif Parang menyimpan keteguhan, dedaunan ecoprint menghadirkan jejak alam, sementara garis fraktal membuka cakrawala inovasi. Keempatnya berpadu dalam keindahan yang tidak saling meniadakan.

Baca Juga :  Semen Padang FC Bidik Kemenangan Perdana di Kandang

Di sinilah Circular Canting menemukan jiwanya. Sebuah gerak berkelanjutan yang mempertemukan warisan, pembaruan, dan kepedulian terhadap alam. Tradisi diwariskan, diperkaya melalui kreativitas, lalu diteruskan tanpa kehilangan akarnya. Alam memberi inspirasi kepada seni, sementara seni mengajak kita kembali menjaga alam.

Setiap putaran bukan pengulangan masa lalu, melainkan kelahiran harapan baru.

Saya memandangi dedaunan keemasan itu lebih lama.

Sebelum jejaknya hadir dalam karya, daun tumbuh bersama tanah, air, udara, dan cahaya matahari.

Seolah berbisik, “Jangan hanya mengagumi warnaku. Jagalah pula tanah tempatku tumbuh.” Begitu lirih, tetapi terasa menghunjam jauh ke dalam hati.

Saya teringat tangan-tangan para pembatik yang sabar menorehkan malam pada kain. Setiap lekuk motif menyimpan ketekunan, setiap garis membawa pengetahuan yang diwariskan sepanjang zaman. Dalam lukisan Bu Puji, saya membayangkan jemari seorang pembatik tua perlahan menyerahkan canting kepada tangan yang lebih muda. Bukan untuk menyalin masa lalu, melainkan melanjutkan kisahnya dengan keberanian menciptakan keindahan baru.

Betapa mengharukan pertemuan dua generasi itu.

Yang satu telah melewati panjangnya waktu, yang lain sedang bersiap menyambut dunia yang berubah. Tak ada pesan panjang, hanya tatapan penuh harap. Teruskanlah, tetapi jangan lupakan dari mana keindahan ini berasal.

Baca Juga :  Hadapi Hidup dengan Iman

Namun sebuah kegelisahan hadir menyelinap.

Apa artinya kita semakin mahir menciptakan keindahan jika kisah di balik canting perlahan terlupakan dan alam yang mengilhaminya semakin kehilangan kehidupan?

Betapa pilunya jika kelak anak cucu kita hanya mengenal batik dari balik kaca museum dan hijaunya bumi dari lukisan yang kita tinggalkan.

Di tengah kegelisahan itu, karya Bu Puji menghadirkan harapan.

Perpaduan canting, motif Parang, ecoprint, dan garis fraktal memperlihatkan bahwa modernisasi tidak harus menyisihkan wastra tradisi.

Kemajuan dapat merangkul masa lalu tanpa kehilangan keberanian untuk melangkah, sebagaimana seni dapat berkembang tanpa memalingkan wajah dari alam.

Saya membayangkan seorang anak berdiri di hadapan lukisan itu bersama ibunya. Matanya mengikuti lengkung canting, lalu berhenti pada dedaunan keemasan.

“Bu, mengapa canting bertemu dengan daun?”

Sang Ibu tersenyum.

“Karena canting menyimpan cerita leluhur, sedangkan daun membawa kehidupan dari bumi. Keduanya harus kita jaga.”

Betapa indah jika sebuah lukisan mampu menanamkan kepedulian melalui percakapan sesingkat itu. Dari canting, seorang anak mengenal warisan budaya; dari daun, ia belajar menghormati alam. Keindahan pun menjelma menjadi pelajaran yang akan dibawanya sepanjang kehidupan.

Terima kasih, Bu Puji, telah menghadirkan karya yang mempertemukan kehangatan tradisi dengan keberanian berinovasi.

Melalui Circular Canting, canting tidak hanya menorehkan malam pada kain, tetapi juga menorehkan kesadaran dalam hati. Bahwa warisan budaya dan kelestarian alam membutuhkan lebih dari kekaguman; keduanya membutuhkan tangan yang bersedia menjaga.

Baca Juga :  Al Amin: SPIP Jadi Kebutuhan Internal untuk Mewujudkan Tata Kelola Bapenda Sumbar yang Bersih dan Akuntabel

Saya kembali menatap lengkung putih yang memeluk dedaunan keemasan itu.

Di hadapan saya, masa lalu seakan mengulurkan tangan kepada masa depan, menitipkan harapan agar keindahan yang telah dirawat berabad-abad tidak terhenti di tengah perjalanan. Ada keharuan yang sulit dijelaskan ketika membayangkan canting terus berpindah tangan, sementara daun-daun tetap tumbuh menyambut pergantian musim.

Teruslah menari, Canting.

Biarkan zaman berganti dan teknologi membuka jalan baru, tetapi jangan lepaskan genggaman tradisi dan alam. Sebab kelak, ketika tangan kita telah tiada, yang berbicara bukan lagi janji-janji kita, melainkan apa yang berhasil kita jaga.

Sebab cinta paling agung bukanlah meninggalkan dunia dengan karya yang indah, melainkan meninggalkan dunia yang masih indah untuk mereka cintai.❤️

Jakarta, 17 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *