Kesempatan Kedua

Oleh: Nurul Jannah*)

Tiga hari sebelum pernikahannya, Ambarwati menerima surat dari perempuan yang selama tujuh tahun diyakininya telah merebut Bagaskara.

Surat itu singkat.

Ambar, sebelum kau menikah dengan Bagas, ada kebenaran yang berhak kau ketahui. Datanglah ke Solo. Aku menunggumu.

Ratih.

Ambar meremas surat itu. Tujuh tahun ia berusaha berdamai dengan luka. Kini, nama yang pernah merenggut kepercayaannya pada cinta kembali hadir, tepat ketika hatinya mulai berani berharap.

Tujuh Tahun Lalu

“Aku tidak bisa menikahimu, Ambar.”

Bagaskara mengatakannya tiga hari sebelum akad.

Di luar, hujan mengguyur Bogor dengan deras. Di dalam rumah, kebaya pengantin telah tergantung, undangan sudah tersebar, dan ibunya sibuk menyiapkan bingkisan untuk keluarga.

“Kenapa?”

“Ada perempuan lain.”

Ambar terpaku. Laki-laki yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita mendadak terasa begitu jauh.

“Siapa?”

Bagas menunduk.

“Lihat aku! Katakan siapa dia!”

“Maaf, Ambar.”

“Aku tidak meminta maafmu. Aku meminta kejujuranmu!”

Bagas membisu.

Ambar melepas cincin pertunangannya, meletakkannya di meja.

“Pergilah.”

Bagas melangkah menuju pintu.

Ambar berharap ia menoleh. Sekali saja. Mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham. Namun pintu telanjur tertutup, membawa serta masa depan yang telah mereka impikan.

Di belakangnya, sang ibu menangis sambil memeluk kebaya yang tak jadi dikenakan putrinya.

Tiga Bulan Lalu

“Menikahlah denganku, Ambar.”

Ambar hampir menjatuhkan nampan roti.

Bagas berdiri di depan toko rotinya di kawasan Suryakencana, Bogor. Rambutnya mulai beruban. Senyumnya masih sama, meski matanya menyimpan kelelahan.

Tujuh tahun berlalu. Ambar telah membangun usaha, melewati masa-masa sulit, merawat ibunya hingga wafat, dan belajar bahagia tanpa menunggu siapa pun.

Kini Bagas kembali membawa lamaran.

“Kau kira hatiku bisa kau tinggalkan, lalu kau datangi lagi sesukamu?”

“Aku tahu aku salah.”

“Bertahun-tahun aku bertanya. Apa yang kurang dariku sampai begitu mudah kau tinggalkan?”

“Tidak ada yang kurang darimu, Ambar.”

“Lalu kenapa?”

Bagas terdiam.

Ambar tersenyum getir.

“Masih sama. Selalu memilih diam.”

Sore itu, Bagas membeli dua roti cokelat sebelum pergi.

Besoknya ia datang lagi. Membeli roti keju.

Lusa, roti pisang.

Hingga suatu pagi Ambar bertanya, “Kau mau membeli seluruh toko ini?”

“Kalau itu membuatmu mau menerima lamaranku.”

Baca Juga :  Jhon Abak Antar UNESA Surabaya Juara Liga Voli Mahasiswa 2026

“Roti tidak bisa menyuap pemiliknya.”

“Tapi boleh membuatnya tersenyum?”

Ambar memalingkan wajah.

Sialnya, ia tersenyum juga. Setelah tujuh tahun, Bagas masih tahu cara membuat hatinya berdebar.

Sabtu, Kepatihan Solo

Ratih membuka pintu rumah sederhana itu.

“Terima kasih sudah datang, Ambar.”

“Saya datang bukan untuk berteman.”

“Saya mengerti.”

Di ruang tamu terpajang foto seorang anak laki-laki.

“Anak Bagas?” tanya Ambar.

“Bukan. Anak saya dengan almarhum suami.”

Ambar terdiam.

“Bagas tidak pernah menjadi kekasih saya. Dulu saya bekerja di rumah sakit tempat ibumu berobat.”

“Ibu saya?”

Ratih menyerahkan amplop berisi kuitansi pengobatan dan beberapa foto.

Dalam salah satu foto, Bagas duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan ibu Ambar.

“Bagas membantu biaya pengobatan ibumu. Dia menjual mobil, mengambil pekerjaan tambahan, bahkan sering tidur di kursi tunggu rumah sakit.”

Ambar menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa saya tidak tahu?”

“Ibumu meminta agar kau tidak diberi tahu. Beliau takut kau menjual toko yang baru kau rintis.”

Ratih mengeluarkan selembar hasil pemeriksaan medis.

“Waktu itu, Bagas juga sakit. Ada gangguan jantung yang memerlukan tindakan medis. Dia takut kau harus merawat dua orang sakit sekaligus.”

Ambar menatapnya tak percaya.

“Jadi, dia mengaku mencintai perempuan lain?”

“Dia pikir, dengan begitu, kau akan lebih mudah melupakannya.”

Ambar tertawa getir. Air matanya jatuh begitu saja.

“Tujuh tahun aku merasa tidak cukup baik untuk dicintai. Tujuh tahun aku menyalahkan diri sendiri. Dan dia mengira itu lebih baik?”

“Bagas salah, Ambar.”

Ambar memeluk foto ibunya.

“Ibu tahu?”

“Beliau tahu Bagas sakit. Tetapi tidak tahu bahwa Bagas akan membatalkan pernikahan.”

Tangis Ambar pecah. Tiba-tiba ia begitu merindukan ibunya. Ingin bertanya, ingin mengadu, ingin memeluk perempuan yang dahulu selalu mengusap air matanya. Namun kini, yang tersisa hanya foto dan rindu yang tak lagi menemukan pelukan.

Dua Hari Sebelum Akad

Bagas sedang menyiram tanaman ketika Ambar datang.

“Kau menemui Ratih?” tanyanya

Bagas mematikan keran.

“Maafkan aku, Ambar.”

“Kenapa kau tidak bilang sedang sakit?”

“Aku takut kehilanganmu.”

“Tapi kau justru melepaskanku. Kau memutuskan semuanya sendiri, seolah aku tak cukup kuat untuk berdiri di sampingmu.”

Baca Juga :  Bupati Khairunas Tekankan Transparansi Dana BOS, Perkuat Pencegahan Korupsi di Solsel

Mata Bagas memerah.

“Aku pikir kau akan lebih bahagia tanpaku.”

Bagas menunduk.

“Aku bodoh.”

“Memang”

“Kalau dulu kau jujur,” lanjut Ambar, “aku pasti takut. Kita akan menangis, bertengkar, bahkan merasa kehilangan harapan. Tapi setidaknya kita menghadapinya berdua.”

“Aku menyesal, Ambar”

Ambar menarik napas.

“Bagaimana kondisi jantungmu sekarang?”

“Stabil. Masih kontrol rutin.”

“Kalau sakit lagi?”

“Aku bilang.”

“Kalau ada masalah?”

“Kita bicarakan.”

“Kalau kau takut?”

“Aku tidak akan menyembunyikannya.”

“Kalau ingin menangis?”

Bagas tersenyum.

“Boleh pinjam bahumu?”

Ambar tertawa sambil menyeka air mata.

“Boleh. Dari dulu bahu ini ada untukmu. Kau saja yang memilih pergi.”

Bagas terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ambar mengulurkan tangan.

“Lusa kita tetap menikah.”

Bagas menatapnya tak percaya.

“Ambar…”


Hari Pernikahan

Hujan kembali turun di Bogor.

Ambar duduk di depan cermin, mengenakan kebaya putih gading.

Di pangkuannya terletak kotak peninggalan ibu. Di dalamnya tersimpan cincin pertunangan lama dan secarik surat.

“Ambar, maafkan Ibu. Dulu Ibu menyembunyikan kebenaran karena ingin melindungimu. Namun, Ibu sadar cara itu justru melukaimu. Jangan takut mencintai lagi, Nak. Ibu d5hanya ingin melihatmu bahagia, dengan pilihan hatimu sendiri.”

Ambar mencium surat itu.

“Bu, hari ini Ambar menikah.”

Tangisnya pecah.

“Dengan Bagas. Laki-laki yang sangat Ambar cintai, walau pernah membuat Ambar menangis.”

Di ruang tengah, Bagas menunggunya.

Ketika Ambar muncul, laki-laki itu berdiri.

“Masya Allah, cantik sekali.”

“Baru tahu?”

“Sejak pertama kita bertemu.”

“Lalu kenapa dulu kau tinggalkan?”

Bagas tersenyum sedih.

“Karena aku belum tahu cara mencintaimu dengan benar.”

Akad berlangsung sederhana.

Ketika penghulu menyatakan mereka sah, Bagas tepekur diam. Matanya nampak merah.

“Kenapa menangis?” bisik Ambar.

“Aku pernah kehilanganmu karena takut menghadapi hari esok. Hari ini, Allah mengizinkanku menjalaninya bersamamu.”

Ambar mengusap air mata Bagas.

Setahun Kemudian

Di sebuah sudut Kota Bogor, toko roti Ambar memiliki nama baru.

KESEMPATAN KEDUA.

Sore itu, seorang perempuan muda duduk menangis di dekat jendela.

“Baru putus?” tanya Ambar sambil menyuguhkan teh.

“Calon suami saya pergi. Katanya demi kebaikan saya.”

Dari balik meja kasir, Bagas mengangkat wajah.

“Kalau dia kembali, apa saya harus menerimanya?”

Baca Juga :  DPW IKPS Riau Ajak DPD Kabupaten Bengkalis Segera Matangkan Musda, Persatuan jadi Prioritas Utama

“Tidak harus.” jawab Ambar.

“Tapi nama toko Ibu Kesempatan Kedua.”

Ambar tersenyum.

“Kesempatan kedua bukan hadiah bagi orang yang pandai meminta maaf. Itu pilihan hati, ketika kejujuran dan perubahan membuat kita berani percaya lagi.”

Setelah perempuan itu pergi, Bagas menghampiri istrinya.

“Masih marah kalau ingat dulu?”

“Kadang.”

“Masih sakit?”

“Bekasnya masih ada. Tapi tidak sesakit dulu.”

Bagas menggenggam tangannya.

“Aku mencintaimu, Ambar.”

“Aku tahu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena sekarang kau mengatakannya. Tidak lagi menyembunyikannya di balik alasan.”

Bagas tersenyum, lalu mengeluarkan kotak kecil dari saku.

Cincin pertunangan lama.

“Aku ingin memasangkannya lagi.”

Ambar mengangkat alis.

“Kita sudah menikah, Bagas.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Dulu kau melepas cincin ini karena kebohonganku. Hari ini aku ingin memasangkannya kembali, untuk menepati janji yang pernah kuingkari.”

“Apa?”

“Kalau hidup membuatku takut lagi, aku akan mencari tanganmu.”

Ambar terdiam.

Bagas memasangkan cincin itu. Masih pas.

“Mau tahu apa yang paling kurindukan selama tujuh tahun?”

“Apa, Sayang?”

“Rindu dicintai tanpa syarat.”

Bagas menariknya perlahan ke dalam pelukan.

“Maafkan aku, Ambar.”

Ambar menggeleng.

“Cintai aku dengan lebih baik. Itu cukup.”

“Terima kasih memberiku kesempatan kedua.”

Ambar mengangkat wajah, menatap laki-laki yang pernah menjadi luka sekaligus cinta terpanjang dalam hidupnya.

“Aku juga sedang memberi hatiku kesempatan kedua. Untuk bahagia. Bersamamu.”

Di luar, hujan mulai reda. Aroma roti hangat memenuhi ruangan. Dua cangkir teh telah dingin, tetapi jemari mereka masih bertaut.

Tujuh tahun lalu, Ambar pernah berdiri di depan pintu, berharap Bagas menoleh sebelum pergi.

“Sekarang aku tak perlu menunggumu menoleh. Karena akhirnya kau memilih tetap di sini.”

Sore itu, Bagas menggenggam tangan Ambar lebih erat, seolah tak ingin kehilangan waktu satu detik pun lagi.❤️

Jakarta, 19 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *