Di Balik Hitam dan Putih, Ada Kebijaksanaan Tuhan

Oleh : Muhammad Irhash Fakhruddin, M.Ag*)

Hidup tidak menghendaki segala sesuatu harus selalu benar, baik, atau putih. Sebab, pernahkah kita berpikir tentang apa yang menjadikan putih itu tampak putih? Setidaknya, ada satu pertanyaan sederhana yang patut direnungkan: bagaimana mungkin kita mengenali putih jika tidak ada hitam sebagai pembandingnya?

Ya, justru karena ada hitam, kita dapat mengenali putih. Keduanya hadir sebagai warna yang berbeda, dengan karakter dan kedudukannya masing-masing. Lalu, pernahkah kita membayangkan bagaimana jadinya jika segala sesuatu di dunia ini hanya putih? Barangkali, putih tidak lagi memiliki keistimewaan, sebab tidak ada lagi sesuatu yang membuatnya tampak berbeda.

Gagasan semacam ini mungkin telah berulang kali hadir dalam ungkapan kiasan, petuah kehidupan, bahkan lirik-lirik syair. Namun, jika kita menariknya lebih jauh ke dalam perenungan tentang kehidupan, ada satu hikmah besar yang terselip di dalamnya: keseimbangan.

Ya, keseimbangan. Barangkali, di situlah salah satu pintu untuk memahami kebijaksanaan Tuhan dalam menghadirkan kehidupan yang begitu beragam. Ada suka dan duka, lapang dan sempit, kemudahan dan kesulitan, juga sesuatu yang kita senangi dan sesuatu yang ingin kita hindari. Tidak semuanya datang sesuai dengan kehendak kita, tetapi tidak semuanya pula hadir tanpa menyisakan pelajaran.

Bukankah Allah mengingatkan kita tentang kedudukan umat Islam sebagai ummatan wasatan, umat yang adil dan berada di jalan pertengahan, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 143? Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak semestinya dijalani dengan sikap berlebihan, apalagi dengan pandangan yang hanya mengenal dua kutub tanpa kebijaksanaan dalam menempatkan keduanya.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Tambah Penyaluran Biosolar 20%, Perkuat Pengawasan Bersama Polda Sumbar

Lantas, mengapa kita mengumpat ujian yang datang di tengah nikmat? Mengapa kita mengeluhkan tuntutan kesabaran, padahal kesabaran itu sendiri merupakan bagian dari perjalanan menuju kedewasaan? Mengapa kita begitu mudah mencela keburukan, tetapi terkadang gagal menemukan pelajaran yang dapat membuat kita semakin menghargai kebaikan?

Bukan berarti ujian harus dicari, keburukan harus dibenarkan, atau penderitaan harus dinikmati. Bukan pula berarti segala sesuatu yang terjadi mesti diterima tanpa ikhtiar untuk mengubahnya. Ada perbedaan antara menerima kenyataan dan membenarkan segala yang ada di dalamnya. Kita boleh membenci keburukan tanpa harus kehilangan kebijaksanaan dalam menyikapinya. Kita boleh menolak kezaliman tanpa harus menjadi zalim dalam perlawanan.

Di sinilah letak persoalannya: jangan sampai kebencian kita terhadap sesuatu membuat kita lupa bahwa setiap keadaan dapat menjadi ruang bagi manusia untuk menunjukkan nilai dirinya.

Allah memerintahkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan. Namun, menarik untuk direnungkan bahwa Al-Qur’an juga mengingatkan kita tentang keberadaan Iblis sebagai makhluk Allah yang membangkang terhadap perintah-Nya. Menyadari bahwa Iblis adalah ciptaan Allah tidak berarti membenarkan pembangkangannya. Sebaliknya, kita belajar membedakan antara mengakui kenyataan penciptaan dan menyetujui perilaku yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Baca Juga :  OSIM MAN 3 Pasaman Barat Gelar LDKS

Bukankah di situlah manusia diuji? Kita tidak selalu memiliki kuasa untuk menentukan apa yang hadir dalam kehidupan, tetapi kita memiliki tanggung jawab untuk menentukan bagaimana menyikapinya. Kita mungkin tidak mampu menghapus seluruh keburukan dari dunia, tetapi kita dapat memilih untuk tidak memperbanyaknya. Kita mungkin tidak selalu mampu mencegah datangnya kegelapan, tetapi kita dapat berusaha menghadirkan cahaya.

Jika hitam hadir, bukan berarti manusia diperintahkan untuk menjadi hitam pula. Justru, keberadaannya dapat menjadi pengingat agar manusia berusaha menghadirkan putih. Jika keburukan muncul, bukan berarti kita harus berdamai dengan kezaliman. Kita dituntut menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kesalehan sebagai ikhtiar memperbaiki keadaan.

Dengan demikian, keseimbangan bukanlah tentang memberikan pembenaran yang sama kepada hitam dan putih, baik dan buruk, atau benar dan salah. Keseimbangan adalah kebijaksanaan dalam memahami kenyataan, ketepatan dalam menempatkan sesuatu, dan keberanian untuk tetap berpihak pada kebenaran tanpa kehilangan kejernihan hati.

Begitulah barangkali cara kita memahami kebijaksanaan Tuhan dalam kehidupan. Tidak semua yang kita inginkan harus hadir, tidak semua yang kita benci harus segera lenyap, dan tidak semua yang tampak buruk harus berakhir tanpa makna. Ada hal-hal yang baru kita pahami setelah melewatinya, ada kebaikan yang baru kita syukuri setelah mengenal kehilangan, dan ada kebijaksanaan yang baru tumbuh setelah kita belajar menerima bahwa dunia tidak selalu berjalan menurut kehendak kita.

Baca Juga :  Respon Cepat Bupati Annisa, Dua Jembatan Lantai Kayu di Timpeh Kini Berganti Plat Baja

Pada akhirnya, mungkin kita tidak dituntut untuk menjadikan seluruh kehidupan berwarna putih. Kita hanya dituntut untuk tidak kehilangan arah ketika hitam hadir di hadapan kita.

Sebab, kehidupan bukan tentang menghapus setiap perbedaan, melainkan tentang memahami kedudukannya. Bukan tentang membenarkan segala yang ada, melainkan tentang menghadirkan kebaikan di tengah segala yang terjadi.

Dan di antara hitam dan putih, di antara ujian dan nikmat, di antara keburukan dan kebaikan, manusia diberi ruang untuk memilih, berikhtiar, dan belajar menjadi bijaksana.

Barangkali, di situlah kita menemukan satu rahasia kehidupan: Tuhan menghadirkan dunia dengan segala keragamannya, sedangkan manusia dituntut untuk menyikapinya dengan kebijaksanaan. []

Dosen IAT STAI- PIQ Sumbar dan Penyiar TVRI Sumbar*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *