Akhlak Lebih Tinggi Daripada Ilmu: Pilar Utama Peradaban Modern

Oleh: Sri Nanda*)

Di era digital yang serba cepat ini, ilmu pengetahuan berkembang dengan laju yang luar biasa. Informasi dapat diakses hanya dengan satu sentuhan jari. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat belajar apa saja melalui gawai, mulai dari ilmu sains, teknologi, hingga kajian keagamaan.

Namun, di tengah kemajuan ilmu tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah tingginya ilmu selalu sejalan dengan tingginya akhlak? Kenyataannya, tidak selalu demikian.

Oleh karena itu, akhlak justru harus ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu, terutama di era digital saat ini.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan bahwa ilmu tanpa bimbingan moral dapat menyesatkan. Allah SWT berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak disertai akhlak dan pengendalian diri justru dapat membawa seseorang pada kesesatan.

Ilmu tanpa akhlak ibarat pedang tajam di tangan orang yang tidak bijak. Semakin tajam pedang itu, semakin besar pula potensi bahaya yang ditimbulkan. Di media sosial, misalnya, sering ditemukan orang-orang berilmu yang mampu berargumentasi dengan logika tinggi, tetapi menggunakan ilmunya untuk merendahkan, mencela, bahkan memecah belah.

Kemampuan berpikir kritis dan penguasaan data tidak jarang berubah menjadi alat untuk menyerang, bukan untuk membangun. Padahal, Allah SWT mengingatkan:

“Katakanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu dan kemampuan berbicara harus selalu disertai dengan akhlak yang baik.

Akhlak adalah pondasi utama yang mengarahkan ilmu agar digunakan secara benar. Dalam Islam, Rasulullah SAW diutus bukan semata-mata untuk mengajarkan ilmu, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan Rasulullah SAW terletak pada keluhuran akhlaknya, meskipun beliau adalah manusia dengan ilmu paling sempurna.

Era digital menghadirkan tantangan akhlak yang tidak ringan. Anonimitas di dunia maya sering membuat seseorang merasa bebas berkata apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Ujaran kebencian, hoaks, perundungan siber, dan fitnah mudah tersebar luas. Ironisnya, pelaku dari tindakan-tindakan tersebut tidak jarang adalah orang-orang terpelajar.

Padahal Allah SWT telah memperingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini sangat relevan dengan fenomena penyebaran informasi di era digital, di mana ilmu dan kecakapan teknologi harus diiringi sikap tabayyun dan tanggung jawab moral.

Sebaliknya, orang yang memiliki akhlak mulia meskipun ilmunya terbatas akantetap membawa ketenangan dan kebaikan bagi sekitarnya. Ia berbicara dengan santun, bersikap rendah hati, dan tidak tergesa-gesa menghakimi.

Allah SWT berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)

Akhlak inilah yang menjadikan seseorang mampu mengendalikan diri di tengah banjir informasi dan perbedaan pendapat.Pendidikan di era digital seharusnya tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga pada pembentukan akhlak.

Al Qur’an menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah peningkatan ketakwaan:

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu sejati seharusnya melahirkan akhlak, bukan kesombongan.

Ilmu dan akhlak sejatinya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk disinergikan. Ilmu akan menjadi cahaya yang menerangi, sementara akhlak menjadi kompas yang mengarahkan. Tanpa akhlak, ilmu kehilangan arah dan nilai kemanusiaannya.

Di tengah gemerlap teknologi dan kecanggihan digital, manusia perlu kembali pada nilai-nilai dasar yang diajarkan Al-Qur’an agar kemajuan ilmu benar-benar membawa kebaikan.

Dengan menempatkan akhlak lebih tinggi daripada ilmu, era digital diharapkan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab dan bermartabat.

Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, Prodi Tadris Fisika*)

Exit mobile version