Aku Hadir, Tapi Tidak Utuh: Burnout di Awal Perjalanan Mahasiswa

Oleh : Aulia Andini*)

Masa awal perkuliahan sering dipersepsikan sebagai fase penuh semangat dan harapan. Namun, berbagai kajian pisikologi pendidikan menunjukkan bahwa transisi dari siswa ke mahasiswa justru menjadi periode yang rentan terhadap stres mental.

Perubahan lingkungan, tuntutan akademik, serta ekspetasi sosial dapat memicu kelelahan sejak semester pertama.

Pengalaman awal perkuliahan yang penulis alami, khususnya pada masa ta’aruf mahasiswa, sering kali memperlihatkan bagaimana tekanan tersebut muncul secara perlahan.

Mahasiswa datang ke lingkungan kampus tanpa jejaring pertemuan yang kuat, beradaptasi dengan ritme baru, serta tuntutan untuk tetap tampak baik-baik saja, memunjulkan gejala kelelahan fisik dan pisikologis, seperti menurunnya nafsu makan, berat badan ikut turun, dan pikiran dipenuhi pertanyaan tentang kemampuan bertahan di dunia kuliah.

Fenomena ini menunnjukkan bahwa isu kesehatan mental mahasiswa bukan sekedar persoalan pribadi, melainkan fenomena yang layak dibahas secara ilmiah.

Burnout pada Mahasiswa

Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, mental dan fisik akibat stres berkepanjangan yang tidak terkelola dengan baik.

Pisikolog christina Maslach menjelaskan burnout melalui tiga dimensi utama, yakni kelelahan emosional, kecenderungan menarik diri atau bersikap sinis terhadap lingkungan, serta menurunnya rasa pencapaian diri.

Dalam konteks mahasiswa, burnout kerap dipicu oleh beban akademik, tuntutan perfeksionisme, dan budaya perbandingan sosial di ruang kelas.

Sejumlah survei perguruan tinggi Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 50-60% maahasiswa tahun pertama mengalami stres akademik pada tingkat sedang hingga tinggi. Tekanan untuk menghasilkan tugas yang sempurna dan ketakutan terhadap kritik sering kali memperburuk kondisi tersebut, sehingga mahasiswa hadir secara fisik di kelas, tetapi tidak sepenuhnya terlibat secara mental.

Overthingkhing dan Dampaknya terhadap Kesehatan

Overthingkhing merupakan pola pikir berulang yang berfokus pada kekhawatiran berlebihan. Menurut pisikolog klinis, kondisi ini dapat mengaktifkan respons stres tubuh secara terus-menerus. Peningkatan hormon kortisol dalam jangka panjang berpengaruh terhadap berbagai fungsi tubuh, termasuk sistem pencernaan dan kualitas tidur.  

Tekanan akademik seperti tugas, presentasi, serta evaluasi dosen memicu gejala fisik berupa sakit kepala, gangguan tidur, dan gangguan lambung. Dalam dunia medis, dokter penyakit dalam menjelaskan bahwa stres pisikologis berkontribusi terhadap peningkatan produksi asam lambung, sehingga  memperparah gangguan pencernaan. Hal ini menegaskan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik memiliki hubungan yang erat dan saling memengaruhi.

Peran Dukungan Sosial

Di tengah tekanan akademik, dukungan sosial menjadi faktor protektif yang penting. Penelitian pisikolog menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki setidaknya satu figur pendukung: baik sahabat, keluarga, maupun mentor. Memiliki risiko burnout yang lebih rendah.

Keberadaan teman yang dapat dipercaya di lingkungan kampus, terutama sahabat yang telah dikenal sebelumnya, dapat menjadi ruang aman  untuk berbagi cerita, mengekspresikan emosi, atau sekedar melakukan aktivitas bersama. Dukungan semacam ini terbukti membantu menjaga kestabilan psikologis mahasiswa di tengah tuntunan akademik yang tinggi.

Implikasi dan Rekomendasi

Fenomena burnout pada mahasiswa awal menunjukkan perlunya perhatian serius dari berbagai pihak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: menetapkan standar belajar yang realistis untuk menekan perfeksionisme, menyediakan waku istirahat mental yang terstruktur, membangun dukungan sosial yang sehat, serta mencari bantuan profesional apabila gejala fisik dan emosional berlangsung dalam jangka waktu lama.

Disis lain, institusi pendidikan juga diharapkan lebih peka terhadap kesehatan mental mahasiswa dengan menyediakan layanan konseling yang mudah diakses serta menciptakan budaya akdemik yang lebih manusiawi dan suportif.

Burnout pada mahasiswa bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal adanya tekanan yang belum terkelola dengan baik.

Kehadiran di ruang kelas tidak selalu berarti kehadiran yang utuh secara mental. Dengan mengenali batas diri, membangun dukungan sosial, dan membuka ruang dialog tentang kesehatan mental, mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh secara akademik sekaligus menjaga kesejahteraan diri.

Artikel ini diharapkan dapat menjadi refleksi bersama bahwa menjaga kesehatan mental di dunia kampus merupakan kebutuhan, bukan sekedar pilihan. []

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI PIQ Sumatera Barat*)

Exit mobile version