The Joy of Missing Out (JOMO): Rahasia Bahagia Tanpa Harus Ikut-ikutan Tren

Oleh : Nayla Hidayah*)

Pernah tidak kamu lagi scroll Instagram dan tiba-tiba ngerasa panik karena temen-temen lagi asyik berlibur ke pantai yang lagi hits banget, atau belum mencoba kafe yang lagi viral?

Nah, itu namanya FOMO, atau Fear of Missing Out. Rasanya kayak dunia lagi jalan terus tanpa kita, dan kita harus buru-buru ikut supaya nggak ketinggalan.

Tapi, di era sekarang ini, di mana tren berubah dengan sangat cepat seperti cuaca, ada lagi gerakan yang lebih dingin: JOMO, atau Joy of Missing Out. Ini bukan hanya tren sesaat, tapi cara keren buat menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang kita lewati.

Yuk, kita bahas kenapa JOMO bisa jadi kunci kesehatan mental kita di tahun 2026.

Apa Sih yang dimaksud dengan “JOMO”?

Kalau FOMO itu mendorong rasa takut dan kompetisi sosial seperti, “Wah, orang lain lagi senang, aku harus ikut dong!” JOMO justru sebaliknya.

Ini merasa tentang puas sama apa yang lagi kita lakukan sekarang. Kita tidak perlu hadir di setiap event, mencoba gadget terbaru, atau ikut debat panas di medsos buat ngerasa berharga.

JOMO ngajarin kita buat bilang “tidak” ke gangguan luar, biar bisa bilang “ya” ke diri sendiri. Gampangnya, ini seperti belajar enjoy hidup tanpa harus ikut-ikut semua yang lagi rame.

Kenapa kita membutuhkan “JOMO”?

Dunia digital makin cepat, dan sering bikin kita capek mental. Kadang-kadang, rasanya kayak kita lagi lari marathon tanpa henti. Nah, JOMO bisa jadi rahasia kebahagiaan modern.

Ini solusinya:

a. Kurangin Kecemasan : Hentikan ikatan dalam hidup kita sama beri makan orang lain yang dikurasi sempurna. Dengan begitu, stres dan kecemasan otomatis turun. Bayangin aja, nggak lagi ngerasa bersalah karena belum ke Bali bulan ini.

b. Fokus Lebih Baik : Tanpa notifikasi tren terbaru yang mengganggu, kita punya ruang lebih untuk fokus ke hobi, kerjaan, atau ngobrol sama orang terdekat. Kayak, akhirnya bisa baca buku tanpa gangguan.

c. Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas : JOMO mendorong kita memilih kegiatan yang benar-benar bermakna, bukan hanya karena lagi populer.

Lebih baik berkumpul dengan keluarga di rumah daripada ikut pesta yang bikin lelah.

Cara Mulai Hidup “JOMO”

JOMO bukan berarti kamu harus jadi orang antisosial atau menutup diri dari dunia. Memulainya mudah, kok. Coba ikuti langkah-langkah ini:

a. Set Batas Digital : Matikan notifikasi yang tidak penting, dan sisakan waktu khusus dibuat jauh dari HP. Misalnya, jam 8 malam sampai jam 10 pagi, HP mati. Rasanya bebas !

b. Berhenti Dulu, Pikir : Sebelum ikut tren atau membeli barang viral, tanya diri sendiri: “Ini aku beneran mau, atau cuma takut dianggap ketinggalan?” Jawabannya sering bikin kita sadar.

c. Nikmatin Momen Sekarang : Alihin pemandangan dari layar ke sekitar. Cium aroma kopi pagi, obrolin hal-hal random sama keluarga, atau duduk diam nikmati angin sore. Itu yang membuat hidup lebih nyata.

d. Hargai Waktu Luang : Jangan bersalah kalau akhir pekan milih rebahan di rumah daripada ikut acara yang bikin capek. Terkadang, istirahat itu lebih menyegarkan.

Kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar validasi sosial yang tidak ada pada akhirnya. Kebahagiaan itu muncul waktu kita bisa damai sama diri sendiri dan ngerasa cukup.

Dengan JOMO, kita belajar kalau melewati sesuatu yang “hits” itu bukan rugi, tapi kemewahan buat dapetin waktu dan ketenangan pikiran lagi. Hidup tidak harus ikut semua, dan itu oke banget.

Catatan dari penulis: Nggak tahu apa yang lagi viral itu nggak dosa. Kadang, itulah cara terbaik untuk menjaga kewarasan kita. Yuk, coba kita mulai hari ini!

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir STAI PIQ Sumatera Barat*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *