Bahaya Penggunaan Handphone bagi Otak Menurut Hasil Penelitian

Oleh : Humaira Zatil Izza*)

Handphone (HP) sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, hampir setiap manusia menggunakan HP sebagai alat komunikasi, sumber informasi, belajar, dan bekerja.

Karena kemudahan yang diberikan, banyak orang yang menggunakan HP dalam waktu yang lama dan bahkan susah untuk lepas dari ketergantungan HP. Sehingga dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi otak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering menggunakan HP dapat menurunkan konsentrasi, ingatan, kualitas tidur, dan membuat seseorang sulit berfikir.

Paparan layar dan kebiasaan bermain HP tanpa henti membuat ketergantungan. Oleh karena itu penting untuk kita memahami bahaya penggunaan HP terhadap otak manusia.

Bahaya Handphone pada Otak

Penggunaan handphone yang berlebihan, dapat membawa kekhawatiran terhadap kesehatan, terutama otak. Karena itu banyak peneliti dari berbagai negara melakukan penelitian terhadap dampak penggunaan HP terhadap otak manusia.

HP bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik yang disebut radiasi frekuensi radio (RF-EMF). Para ilmuwan sejak tahun 1990-an memulai penelitian apakah radiasi ini membahayakan otak seseorang.

Berdasarkan World Health Organization (WHO) organisasi kesehatan dunia yang berada dibawah PBB, menyatakan bahwa radiasi dari HP masih berada di bawah batas aman.

Pada tahun 2011, Dr. Nora D. Volkow dan tim dari National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat, melakukan penelitian terhadap 47 orang dewasa. Hasil pemindaian otak menunjukkan peningkatan aktivitas dibagian otak yang dekat dengan HP.

Otak memang bereaksi terhadap sinyal HP, tetapi dampak jangka panjangnya belum dapat dipastikan apakah berbahaya bagi otak.

Penelitian jangka panjang juga pernah dilakukan oleh Dr. Lennart Hardell di Swedia pada tahun 2007. Ia mengungkapkan adanya potensi resiko peningkatan tumor otak pada orang yang menggunakan HP lebih dari 10 tahun. Namun, hasil ini masih diperdebatkan.

Untuk mempelajari hal ini lebih mendetail, sebuah studi penelitian internasional dilakukan pada tahun 2010 yang dikenal sebagai Interphone Study di bawah pengawasan International Agency for Research on Cancer (IARC).

Studi ini menyimpulkan bahwa belum ada bukti kuat bahwa HP menyebabkan kanker otak, meskipun terdapat sedikit risiko pada penggunaan dengan intensitas sangat tinggi.

Selain itu, penggunaan HP juga dapat mempengaruhi konsentrasi dan daya ingat. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2023 yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menunjukkan bahwa kehadiran HP saja dapat mengurangi fokus.

Penelitian lain pada tahun 2020 yang dipublikasikan melalui PubMed menjelaskan bahwa belajar dengan HP dapat membuat seseorang lebih sulit mengingat informasi. Dampak ini semakin jelas pada anak dan remaja, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian tahun 2021 di International Journal of Environmental Research and Public Health.

HP juga mempengaruhi khualitas tidur. WHO dalam laporan Electromagnetic Fields and Public Health: Mobile Phones yang dipublikasikan sejak tahun 2014, sudah menjelaskan bahwa penggunaan HP sebelum tidur dapat mengganggu produksi hormon melatonin.

Akibatnya, tidur menjadi tidak nyenyak sehingga otak tidak dapat istirahat dengan cukup. Anak dan remaja berisiko lebih tinggi terkena dampak negatif dari penggunaan HP, karena otak mereka masih berkembang.

Oleh karena itu, WHO dan IARC menyarankan agar penggunaan HP pada anak dibatasi dan diawasi karena penggunaan berlebihan dapat mengganggu konsentrasi belajar dan perkembangan emosi.

Secara keseluruhan, HP tidak selalu berbahaya jika digunakan dengan bijak. Dengan membatasi waktu penggunaan, menjauhkan HP saat belajar, dan menghindari penggunaan sebelum tidur, dampak negatif HP terhadap kesehatan otak dapat dikurangi.

Solusi Agar Terjauh Dari Dampak Buruk HP Terhadap Otak

Untuk mengurangi dampak negatif HP terhadap otak, penggunaan HP perlu diatur dengan lebih bijak. Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan mengurangi waktu penggunaan HP setiap hari.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Medicine tahun 2025 menyatakan bahwa membatasi waktu layar HP dapat membantu memperbaiki kesehatan mental, konsentrasi, dan kualitas tidur. Hal ini penting karena otak membutuhkan waktu istirahat dari paparan layar HP.

Selain itu, HP sebaiknya dijauhkan saat belajar atau bekerja. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Scientific Reports (Nature) tahun 2023 menjelaskan bahwa kehadiran HP di dekat seseorang dapat menurunkan fokus, meskipun HP tidak sedang digunakan.

Oleh karena itu, meletakkan HP di tempat yang tidak terlihat dapat membantu otak lebih fokus. Bagi anak dan remaja, penggunaan HP harus lebih diawasi. Penelitian yang dipublikasikan di PubMed tahun 2021 menyebutkan bahwa penggunaan HP yang berlebihan pada anak dan remaja dapat berdampak pada menurunnya konsentrasi belajar.

Karena otak mereka masih berkembang, pembatasan waktu penggunaan HP sangat dianjurkan. Dengan membatasi waktu penggunaan, menjauhkan HP saat belajar, dan menghindari HP sebelum tidur, dampak negatif HP terhadap kesehatan otak dapat dikurangi.

Kesimpulan

Berdasarkan berbagai penelitian, penggunaan handphone (HP) yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan daya ingat. Kehadiran HP di dekat pengguna saja sudah dapat membuat fokus menurun sehingga proses belajar atau bekerja menjadi kurang maksimal.

Selain itu, penggunaan HP yang terlalu sering, terutama pada anak dan remaja, juga dapat berdampak pada menurunnya daya ingat dan kemampuan berpikir karena otak mudah terdistraksi dan kurang mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Namun, HP tidak sepenuhnya berbahaya jika digunakan dengan bijak. Dengan membatasi waktu penggunaan, menjauhkan HP saat belajar, serta menghindari penggunaan HP sebelum tidur, dampak negatif terhadap konsentrasi dan daya ingat dapat dikurangi.

Oleh karena itu, penting bagi semua kalangan untuk menggunakan HP secara seimbang agar kesehatan otak tetap terjaga dan manfaat teknologi tetap dapat dirasakan. []

Mahasiswa Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir STAI-PIQ Sumatera Barat*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *