Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda


Oleh : Ramzi Abdul Aziz*)

Pendidikan karakter adalah sistem penanaman nilai karakter terhadap peserta didik yang meliputi kemauan atau kesadaran, dan tindakan dalam mengimplementasikan nilai, budi pekerti, karakter, serta akhlak yang baik ke dalam diri peserta didik, yang bertujuan untuk membentuk kepribadian peserta didik dalam mengambil keputusan, jujur, menghormati orang lain, maupun berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter suatu upaya dalam mengembangkan perilaku yang baik dalam sehari-haru agar peserta didik dapat mencerminkan sebuah karekter yang baik pada siswa. Penanaman nilai-nilai karakter dapat dibentuk melalui adanya pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga, pergaulan dan lingkungan sekolah.

Permasalahan yang terjadi pada generasi muda adalah atau peserta didik adalah perilaku yang ditampilkan dalam kehidupan sehari menyimpang dari nilai, norma dan moral dalam masyarakat, yang mana kebanyakan dari pelaku penyimpangan ini terjadi pada generasi muda terutama pada anak usia sekola.

Adapun penyebab terjadinya permasalahan-permasalahan yang menyimpang tersebut adalah karena krisis nilai karakter dan moral yang dialami oleh masyarakat.

Dikarenakan kurangnya kesadaran dalam diri masyarakat maupun kurangnya pendidikan karakter yang didapat. Hal inilah yang kemudian membuat pemerintah semakin gencar lagi dalam mmenjadikan
pendidikan karakter sebagai bagian besar dari pembelajaran yang ditanamkan kepada siswa dalam lingkungan sekolah.

Melihat krisis nilai moral serta budi pekerti pada masa sekarang kebanyakan penyimpangan terjadi kepada anak dengan usia sekolah, dimana generasi inilah yang kelak menjadi harapan bangsa dalam memimpin negara di masa yang akan datang.

Sehingga perlu dilaksanakan pengabdian dalam pembangunan kembali pendidikan karakter di sekolah dengan tujuan untuk menekan serta menghindari krisis moral pada peserta didik sehingga mereka sebagai penerus bagsa tahu betul bagaimana caranya bertidak sesuai dengan norma dan moral yang berlaku.

Institut Pendidikan Tapanuli Selatan mengemban tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial dan Bahasa sebagai bagian dari IPTS memiliki program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh dosen sesuai dengan Visi dan Misi Institut.

Dalam program ini, saya melaksanakan kegiatan pengabdian dengan judul kegiatan “Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda di Madrasah Tsanawiyah Ihyaul Ulum Purbasinomba Kecamatan Aek Bilah Kabupaten Kabupaten Tapanuli Selatan.”

Adapun cara pendekatan masyarakat di Madrasah Tsanawiyah Ihyaul Ulum Purbasinomba Kecamatan Aek Bilah Kabupaten Kabupaten Tapanuli Selatan dilaksanakan pada bulan Nopember 2021. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi :

a. Kegiatan survei tempat pengabdian masyarakat di Madrasah Tsanawiyah Ihyaul Ulum Purbasinomba Kecamatan Aek Bilah Kabupaten Kabupaten Tapanuli Selatan
b. Permohonan ijin kegiatan pengabdian masyarakat kepada kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah Ihyaul Ulum Purbasinomba Kecamatan Aek Bilah Kabupaten Kabupaten Tapanuli Selatan
c. Pengurusan administrasi (surat-menyurat)
d. Pendampingan kegiatan aktifitas-aktifitas positif yang akan membangun nilai-nilai karakter serta moral yang baik
e. Pendampingan membangun hubungan dan interaksi yang baik di dalam kelas baik dengan temantemannya maupun dengan guru
f. Pendampingan pembangunan karakter emosi seoranng anak

Sebagai hasil yang dapat di simpulkan adalah:
a. Pra Pelaksanaan Kegiatan Sebelum kegiatan pendampingan terhadap siswa MTs Ihayul Ulum Purbasinomba Kecamatan Aek Bilah Kabupaten Tapanuli Selatan terlebih dahulu survey pendahuluan untuk memetakan kondisi karakter siswa yang akan menjadi sasaran pengabdian. Hal ini dilakukan agar kegiatan pengabdian yang dilakukan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan siswa yang dihadapi. Dari kegiatan turun lapangan tersebut diperoleh informasi bahwa :

b. Permasalahan lingkungan siswa yang tidak kondusif dalam pengembangan karakter anak

c. Permasalahan pergaulan sesama siswa dan masyarakat mengakibatkan siswa terpengaruh kepada hal-hal yang negatif

d. Permasalahan psikologis serta emosional siswa yang kurang terkontrolPelaksanaan Kegiatan Pengabdian

Setelah diketahui kondisi masing-masing siswa di MTs Ihyaul Ulum Purbasinomba, kemudian dilaksanakan kegiatan pendampingan dengan materi:

1. Cara membangun lingkungan yang kondusif
2. Cara bergaul dengan teman secara baik
3. Cara mengendalikan emosi yang baik

Cara membangun lingkungan belajar yang kondusif Lingkungan belajar menjadi hal yang berpengaruh terhadap pembelajaran anak. Dimana lingkungan belajar yang kondusif menjadi faktor penting untuk memaksimalkan kesempatan belajar bagi anak.

Lingkungan belajar yang dimaksud yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif artinya kondisi yang benar-benar nyaman serta mendukung kegiatan belajar mengajar.

Adapun proses pembelajaran yaitu interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadilah proses informasi menjadi keterampilan, pengetahuan dan sikap pada diri anak sebagai hasil dari proses pembelajaran.

Lingkungan belajar menurut Saroni (2006) dan Kusmoro (2008), terdiri dari dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Lingkungan fisik merupakan sarana fisik yang berada di sekitar siswa saat belajar. Contoh sarana fisik yang ada di lingkungan sekolah yaitu, ruang kelas belajar di sekolah sarana dan prasarana kelas, pengudaraan, alat atau media belajar, pencahayaan, pewarnaannya, pajangan hingga penataannya.

Seorang guru manajer di kelas, tidak boleh dipandang sebelah mata karena sebagai seorang manajer harus mampu mengatur ruang kelasnya menjadi kelas kondusif. Karena keberhasilan orang tua dan guru dalam menyampaikan nilai-nilai itu akan terwujud pada tingkah laku siswa yang sadar dan bertanggung jawab yang terjadi karena adanya pegangan berdasarkan nilai-nilai yang ditanamkan kepada siswa (Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, 2014: 137).

Membangun Lingkungan yang Kondusif dalam Pembelajaran dengan cara :
1. Menata Ruang Kelas Belajar
2. Suasana Belajar dan Mengajar yang menyenangkan
3. Lingkungan Luar Kelas
4. Komunikasi yang baik dengan siswa
5. Membiarkan Siswa berkreas
6. Menyepakati Aturan Bersama antara guru dan siswa

a. Cara bergaul dengan teman secara baik
Cara bergaul paling mudah adalah menjadi pendengar. Berteman dengan orang banyak bisa menjadikan sosok pendengar yang baik. Kemampuan ini akan membuat lingkungan sekitar nyaman selalu ada di dekat siswa.

Usahakan untuk berani menanggapi cerita dari mereka sedikit demi sedkit agar terbiasa dan jadi lebih berani.Selain itu ketika seseorang sudah berhasil mendapatkan predikat sebagai pendengar yang baik biasanya orang akan memberikan kepercayaan penuh.

Dengan begitu otomatis siswa sudah dapat banyak teman, namun usahakan untuk jangan terlalu mencampuri urusan-urusan pribadi mereka, tanggapi santai saja.

Dalam pembelajaran di kelas Kondisi pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial berlangsung secara baik, interaksi sosial yang baik memungkinkan masing-masing

Personil menciptakan pola hubungan tanpa adanya sesuatu yang mengganggu pergaulannya. Lingkungan budaya memberikan suatu kondisi pola kehidupan yang sesuai dengan pola kehidupan warganya.

“Lingkungan budaya diartikan sebagai pola kehidupan yang dijalankan masing-masing personil dalam kesaharian. Kemudian dalam mendukung proses pembelajaran yang kondusif sarana dan prasarana adalah hal yang sangat vital dan harus ada. (Supardi, 2003, 207).

Cara bergaul teman dengan baik:
1. Bersikap ramah kepada teman
2. Murah Senyum Kepada temana
3. Perluas Pertemanan
4. Jangan Takut untuk Memulai Candaan kepada teman
5. Menjadi Pendengar yang Baik ketika teman berbicara
6. Jadi Diri Sendiri

b. Cara mengendalikan emosi yang baik
Untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, perlu memperhatikan dan memahami karakter siswa yang berbeda-beda perilakunya serta pengaturan atau penataan ruang kelas dalam belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan siswa duduk berkelompokagar memudahkan guru yang masuk mengajar bergerak secara leluasa.

Guru selain sebagai pendidik, pembimbing dan pengarah serta sebagai motivator yang bertanggung jawab atas keseluruhan perkembangan kepribadian siswa.

Dengan kata lain guru sebagai pendidik selain harus amanpu menciptakan suatu proses pembelajaran yang kondusif dan bermakna sesuai metode pembelajaran yang digunakan juga harus manpu meningkatkan perhatian dan minat serta motivasi belajar siswa mengikuti pelajaran dan bantuan siswa dalam menggunakan sebagai kesempatan belajar, sumber dan media.

Suasana pembelajaran di kelas angat dipengaruhi oleh dua faktor utama, faktor internal dan faktor eksternal siswa. Faktor internal siswa biasanya berhubungan erat dengan masalah-masalah emosi, pikiran, dan perilaku siswa. Sementara faktor eksternal siswa biasanya sangat erat dengan masalah lingkungan dimana mereka belajar, penempatan siswa, pengelompokan, jumlah, dan bahkan lingkungan keluarga (Salman Rusydi, 2011: 33).

Emosi merupakan salah satu bagian yang paling penting dari manusia, karena melalui emosi individu mampu mengekspresikan perasaannya, selain itu juga pada setiap aspek perkembangan manusia pasti terdapat perkembangan emosi di dalamnya

Ahli psikologi sering menyebutkan dari semua aspek perkembangan, yang paling sulit diklasifikasi adalah perkembangan emosional. Orang dewasa pun mendapat kesulitan dalam mengekspresikan perasaannya.

Menurut Yusuf (2004: 115) emosi memberi pengaruh terhadap perilaku individu, yaitu: (1) Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai; (2) Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan.

Pada saat siswa menghadapi masalah, siswa cenderung tidak dapat mengendalikan emosinya, sehingga larut dalam masalahnya tersebut dan berperilaku agresif, seperti melanggar aturan, datang terlambat, dan seringnya siswa melanggar aturan, membuat siswa dianggap nakal oleh gurunya.

Menurut Golman (2009: 200) individu yang tidak mampu mengatasi perasaan-perasaan emosionalnya cenderung tidak mau memotivasi dirinya sendiri untuk melepas dari masalah yang ada di lingkungan sosialnya.

Siswa lebih didominasi oleh pikiran emosional dari pada pikiran rasional. Siswa cenderung bersikap agresif karena tidak mampu mengelola dorongan hatinya dan bertaham terhadap frustrasi yang dirasakannya, sehingga pada saat siswa merasa marah atau kesal, siswa tidak mampu berpikir jernih, hanya mampu memikirkan bagaimana caranya melampiaskan marah atau kesalnya, karena emosi sudah melumpuhkan kemampuan berpikirnya.

Siswa juga sering melanggar aturan, datang terlambat, bolos, tidak mengerjakan PR, prestasi belajar yang menurun, melawan guru bahkan berkelahi dengan teman-temannya. Perilaku ini akhrnya membuat siswa cenderung malas untuk merubah perilakunya sehari-hari.

Cara mengendalikan emosi pada siswa:

  1. Pengalihan, penyesuaian kognitif. Pengalihan merupakan suatu cara mengalihkan atau menyalurkan ketegangan emosi pada obyek lain.
  2. Kedua: Penyesuaian Kognitif. Landasan penyesuaian kognitif adalah realitas bahwa kognisi seseorang sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya.
  3. Empati merupakan kesadaran dalam diri seseorang untuk turut merasakan apa yang sedang dialami oranglain, baik berupa kesulitan maupun musibah.
  4. Sabar adalah alat terbaik agar seseorang tidak larut dalam emosi negatif. Secara ilmiah dan alamiah, suatu peristiwa yang menimbulkan emosi utama (mayor) dapat diikuti oleh beberapa emosi minor sekaligus

Kesimpulan ;
Lembaga pendidikan adalah salah satu sumber daya yang penting dalam mempraktekkan pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh siswa di sekolah untuk memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari. []

Daftar Pustaka
Rusydi, Salman. 2011. Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas, Cet. I; Jogjakarta: DIVA Press.
Supardi. 2003. Sekolah Efektif Konsep dasar Dan Prinsipnya, Cet.I: Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Uno, Hamzah B & Nurdin Mohamad. 2014. Belajar Dengan Pendekatan Pembelajaran Aktif Inofatif
Lingkungan Kreatif Efektif Menyenangkan,Cet.V: Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Yusuf, Syamsu. (2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya

Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PIQ Sumatera Barat*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *