Oleh: Ramli Yakub*)
Dunia pendidikan Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang tidak biasa. Di balik semangat transformasi kurikulum yang sedang digalakkan, tersimpan sebuah keluhan yang semakin nyaring terdengar dari bilik-bilik ruang guru: beban administratif yang melampaui batas kewajaran.
Fenomena ini menciptakan paradoks di mana pendidikan seolah tidak sedang gagal secara sistemik, namun terjebak dalam labirin birokrasi yang melelahkan.
Potret yang sering kita jumpai adalah guru yang terpaku di depan layar laptop, bukan untuk merancang modul ajar yang kreatif, melainkan untuk memenuhi tuntutan berbagai aplikasi laporan.
Ada siklus tanpa henti antara menginput data, mengunggah berkas, hingga menyusun laporan pertanggungjawaban yang tumpang tindih. Padahal, tugas utama seorang guru adalah mendidik, menginspirasi, dan mendampingi tumbuh kembang siswa di ruang kelas.
Erosi Esensi Pendidikan
Ketika perhatian guru tersedot pada upaya memenuhi indikator di layar komputer, ada harga mahal yang harus dibayar: hilangnya interaksi berkualitas antara guru dan murid.
Anak-anak di kelas menantikan kehadiran utuh sosok pendidik, namun yang mereka dapati sering kali adalah guru yang kelelahan karena beban administrasi yang harus segera diselesaikan sebelum batas waktu (deadline).
Masalah ini bukan soal kemalasan atau rendahnya kompetensi. Ini adalah soal sistem yang terlalu “administratif-sentris”. Kita seolah lebih mementingkan bukti fisik di atas kertas atau aplikasi daripada substansi pengajaran itu sendiri.
Sejatinya, kesuksesan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari kelengkapan dokumen, melainkan dari sejauh mana binar mata siswa berpendar karena memahami ilmu baru.
Menuju Penyederhanaan
Pemerintah dan pemangku kebijakan perlu segera melakukan refleksi mendalam. Digitalisasi pendidikan seharusnya menjadi solusi untuk mempermudah kerja guru, bukan justru menambah beban kerja baru dengan kerumitan aplikasi yang beragam.
Perlu adanya integrasi dan penyederhanaan birokrasi agar waktu guru tidak habis untuk urusan teknis yang administratif.
Kita harus mengembalikan guru kepada marwahnya sebagai pendidik. Guru perlu diberikan ruang untuk berkreasi, melakukan pendekatan personal kepada siswa, dan terus mengembangkan kapasitas intelektualnya. Tanpa pemangkasan beban administrasi, transformasi pendidikan hanya akan menjadi megah di atas laporan, namun hampa di dalam kelas.
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan guru atas rendahnya kualitas pendidikan jika kita sendiri masih membelenggu tangan mereka dengan tumpukan laporan.
Mari bebaskan guru dari jeratan administratif agar mereka bisa kembali fokus pada tugas sucinya, memanusiakan manusia. []
Sekretaris KKG PAI Padang Pariaman dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat*)




