Oleh : Fardiyah Siyathul Qalbi*)
Di kehidupan sekarang, banyak orang kelihatan baik-baik aja dari luar, tapi di dalam kepalanya lagi rame banget. Badan masih kuat buat beraktivitas, tapi pikiran rasanya penuh, sesak, dan capek. Kondisi ini sering disebut capek mental.
Sayangnya, capek mental sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa lebih berat daripada capek fisik. Karena itu, penting buat ngerti apa itu capek mental dan kenapa kita nggak boleh mengabaikannya.
Capek mental sering kali datang tanpa disadari. Nggak ada tanda fisik yang jelas seperti pegal atau lemas, tapi dampaknya terasa ke emosi, fokus, dan cara seseorang memandang hidup. Karena nggak kelihatan, capek mental sering dianggap sepele, bahkan oleh diri sendiri.
Padahal, kondisi ini bisa lebih berat dan lebih lama pulihnya dibandingkan capek fisik. Oleh karena itu, penting untuk memahami capek mental, penyebabnya, dan bagaimana cara menyikapinya dengan lebih bijak.
Capek mental adalah kondisi ketika pikiran terlalu lama berada dalam tekanan tanpa jeda yang cukup. Tekanan ini bisa datang dari banyak arah sekaligus.
Tugas sekolah atau kuliah yang nggak ada habisnya, tuntutan kerja yang terus meningkat, ekspektasi dari orang sekitar, sampai tekanan dari diri sendiri untuk selalu jadi “lebih baik” dari hari kemarin.
Semua itu pelan-pelan menumpuk di kepala. Selain itu, media sosial juga punya peran besar. Tanpa sadar, kita sering membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain yang terlihatsempurna. Melihat pencapaian orang lain bisa memicu rasa tertinggal, kurang berhasil, atau ngerasa hidup kita gitu-gitu aja. Pikiran jadi sibuk menilai diri sendiri, sampai akhirnya lupa untuk istirahat.
Capek mental ini sering nggak langsung terasa parah. Awalnya mungkin cuma susah fokus, gampang lupa, atau cepat capek padahal nggak ngapa-ngapain berat. Lama-lama, emosi jadi nggak stabil. Hal kecil bisa bikin marah, sedih datang tiba-tiba, dan semangat buat ngelakuin hal-hal yang dulu disukai pelan pelan hilang.
Bahkan, ada kalanya seseorang merasa kosong dan mati rasa. Yang bikin capek mental makin berat adalah karena sering dianggap bukan masalah besar. Banyak orang yang bilang, “Pikiran doang capeknya,” atau “Kurang bersyukur, makanya ngerasa berat.”
Kalimat-kalimat seperti ini justru bikin seseorang makin memendam apa yang dirasakan. Akhirnya, capek mental berubah jadi beban yang dipikul sendirian. Nggak jarang juga, capek mental bikin seseorang merasa bersalah pada dirinya sendiri.
Merasa lemah, merasa kurang kuat, atau merasa gagal karena nggak bisa seproduktif orang lain. Padahal, capek mental bukan tanda kemalasan. Itu adalah sinyal alami bahwa pikiran dan perasaan sudah terlalu lama dipaksa bekerja tanpa ruang untuk bernapas.
Menghadapi capek mental butuh kesadaran dan keberanian untuk berhenti sejenak. Istirahat dalam konteks ini nggak selalu berarti tidur lama atau liburan mahal. Kadang, istirahat berarti memberi batas. Berhenti scroll media sosial yang bikin kepala makin penuh, berani bilang “cukup” ke diri sendiri, atau menunda sesuatu yang memang belum sanggup dikerjakan saat itu.
Hal-hal sederhana juga bisa sangat membantu. Jalan santai tanpa tujuan, dengerin musik yang menenangkan, nulis apa yang dirasain, atau ngobrol jujur sama orang yang dipercaya. Bahkan, diam sejenak tanpa distraksi apa pun bisa jadi bentuk istirahat yang paling jujur. Yang penting, memberi ruang untuk diri sendiri tanpa rasa bersalah.
Capek mental adalah bagian dari pengalaman manusia, bukan kelemahan. Setiap orang punya batas, dan nggak ada yang bisa terus kuat setiap saat. Mengakui bahwa diri sedang lelah bukan berarti menyerah, justru itu langkah awal untuk bertahan dan pulih.
Nggak semua hari harus produktif, dan nggak apa-apa kalau hari ini cuma bisa bertahan. Bertahan di hari yang berat pun sudah termasuk usaha besar.
Dengan lebih jujur pada diri sendiri, memberi waktu untuk berhenti, dan berani menjaga kesehatan mental, kita sedang belajar mencintai diri sendiri dengan cara yang paling sederhana tapi paling penting. Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma soal terus berjalan, tapi juga tahu kapan harus berhenti untuk bernapas. []
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PIQ Sumatera Barat*)




