Hari Pertama Sekolah, Wamendikdasmen Jadi Irup di SMAN 12 Padang

Wamendikdasmen RI, Prof. Atip Latipulhayat, berada di lokal tenda meninjau langsung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di SMA Negeri 12 Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (6/1/2026). (Foto Hendri Parjiga/ Fokussumbar.com)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM— Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Prof. Atip Latipulhayat, mengawali hari pertama masuk sekolah dengan meninjau langsung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di SMA Negeri 12 Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (6/1/2026).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Atip bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) sebagai penanda dimulainya kembali pembelajaran di wilayah terdampak bencana.

Dalam kunjungannya, Prof. Atip menegaskan bahwa kedatangan pemerintah pusat bertujuan memastikan kesiapan satuan pendidikan sekaligus memberikan motivasi kepada guru dan peserta didik agar tetap optimistis menghadapi kondisi pascabencana.

“Kehadiran kami di Padang menandai dimulainya kembali pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana, terutama di Kota Padang. Pendidikan tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun,” ujar Prof. Atip.

Dalam amanatnya, Wamendikdasmen berpesan agar para pendidik dan peserta didik tidak patah semangat serta mampu bangkit dari musibah ekologis yang terjadi pada akhir November 2025. Menurutnya, bencana justru harus menjadi penguat untuk terus mengejar cita-cita pendidikan.

“Kami ingin anak-anak tetap bersemangat, menjadikan musibah ini sebagai pembelajaran dan kekuatan untuk bangkit,” katanya.

Usai upacara, Prof. Atip meninjau langsung ruang kelas dan fasilitas sekolah yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyalurkan bantuan tunai masing-masing Rp15 juta untuk satuan pendidikan jenjang SMA, SMP, dan SD yang terdampak. Selain itu, para siswa juga menerima bantuan berupa alat tulis serta makanan ringan.

“Alhamdulillah, dengan berbagai keterbatasan yang ada, proses pembelajaran tetap bisa dan harus dimulai,” tegasnya.

Berdasarkan data Kementerian per 4 Januari 2026, tercatat 4.470 satuan pendidikan di Pulau Sumatera terdampak bencana, dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan hingga rusak berat. Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbanyak dengan 2.756 sekolah, disusul Sumatera Utara sebanyak 1.213 sekolah, serta Sumatera Barat 501 sekolah.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 12 Padang, Dr. Ikhwansyah, S.Kom, M.Kom, mengatakan sekolah yang dipimpinnya merupakan salah satu yang terdampak paling parah di Kota Padang akibat banjir bandang.

“Air bercampur lumpur masuk ke seluruh ruangan hingga setinggi pinggang orang dewasa. Hampir seluruh mobiler sekolah rusak, lebih dari 150 komputer tidak dapat digunakan, buku-buku perpustakaan rusak, pagar sekolah ambruk, serta tiga ruang belajar mengalami kerusakan berat,” ungkap Ikhwansya.

Akibat kondisi tersebut, lanjutnya, sebagian kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan di tenda darurat dan musala sekolah.

“Namun dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta semangat guru dan siswa, kami berkomitmen pembelajaran tetap berjalan. Ini menjadi titik awal bagi kami untuk bangkit dan menata kembali pendidikan di SMAN 12 Padang,” pungkasnya. (jiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *