PADANG, FOKUSSUMBAR.COM— Ketua KONI Sumbar, Hamdanus, menegaskan tidak ada satu pun jabatan yang bersifat permanen atau aman dalam kepengurusan KONI Sumbar. Seluruh posisi, mulai dari Wakil Ketua Umum, Sekretaris, Bendahara hingga Ketua Umum, dapat diberhentikan sewaktu-waktu jika melanggar disiplin dan pakta integritas organisasi.
“Tidak ada garansi untuk siapa pun. Wakil Ketua Umum bisa diberhentikan. Ketua Umum juga bisa. Saya sendiri pun tidak punya jaminan. Hal ini juga dipertegas dalam salah satu poin kesepakatan pada Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Sumbar beberapa waktu lalu,” tegas Hamdanus.
Penegasan itu disampaikannya dalam program Sumbar Rancak Bana dengan tema “Dari Lapangan ke Prestasi, Cerita KONI Sumbar Membangun Atlet” di Padang TV, yang dipandu host Callizki Chesa, Senin (5/1/2025).
Menurut Hamdanus, jabatan di KONI bukanlah hak, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, kedisiplinan, dan komitmen penuh terhadap organisasi.
Hamdanus menyebutkan, kepengurusan KONI Sumbar tidak boleh diisi oleh individu yang hanya mengejar status dan posisi tanpa keseriusan untuk bekerja. Menurutnya, banyak pihak lain yang siap mengemban amanah jika ada pengurus yang tidak menjalankan tugasnya.
Lebih lanjut, Hamdanus menekankan bahwa pakta integritas yang telah ditandatangani seluruh jajaran pengurus bukan sekadar formalitas administratif, melainkan janji moral dan organisasi yang mengikat secara penuh.
“Itu janji pemimpin. Kalau dilanggar, akibatnya ditanggung sendiri, secara organisasi, secara moral, bahkan secara nilai,” ujar Hamdanus.
Pria yang hobi olahraga marathon itu mengingatkan setiap pengurus untuk menghormati jabatan dan kepercayaan yang telah diberikan, karena posisi tersebut dapat dicabut jika tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Dalam kepemimpinannya, mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol (sekarang Universitas Islam Negeri – UIN) itu menempatkan disiplin sebagai fondasi utama dalam membangun prestasi olahraga Sumatera Barat. Tanpa disiplin, ia menilai seluruh sistem pembinaan atlet akan runtuh.
“Saya tidak suka pengurus KONI yang tidak disiplin. Tidak ada gunanya,” katanya.
Menurut Hamdanus, keterbatasan anggaran masih dapat diatasi melalui berbagai upaya, tetapi hilangnya disiplin akan menjadi kehancuran organisasi.
“Kalau uang kurang, masih bisa kita cari. Tapi kalau disiplin tidak ada, hancur semuanya,” ujarnya.
Meski KONI bukan institusi militer atau kepolisian, ia menegaskan standar disiplin tetap harus tinggi agar organisasi olahraga mampu berjalan efektif dan berprestasi.
Mantan Plt Ketua KONI Sumbar itu juga memastikan KONI Sumbar tidak akan ragu melakukan evaluasi serta mengambil langkah tegas terhadap pengurus yang tidak siap bekerja atau mengabaikan komitmen bersama.
“Kalau ada pengurus yang tidak siap, lebih baik berhenti. Organisasi ini tidak boleh tersandera oleh orang-orang yang tidak menghargai pakta integritas,” tegasnya.
Hamdanus berharap, dengan sikap tegas tersebut, KONI Sumbar dapat menjadi organisasi olahraga yang bersih, berintegritas, disiplin, dan sepenuhnya berorientasi pada prestasi. (jiga)




