Oleh : Al-Hafizan*)
Refleksi dan pembaruan diri, adalah penting kita lakukan di tahun baru 2026 ini. Namun, bagi masyarakat Sumatera Barat, tahun baru kali ini hadir dalam suasana yang berbeda. Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah telah meninggalkan duka, kerusakan fisik, dan luka batin yang mendalam.
Dalam perspektif Islam, musibah bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan ujian keimanan yang mengandung hikmah dan peluang untuk bangkit dengan semangat baru.
Islam mengajarkan bahwa setiap musibah merupakan bagian dari ketetapan Allah Swt. yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Al-Qur’an menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya:
QS. Al-Baqarah: 155–156
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran merupakan kekuatan utama dalam menghadapi musibah. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan keteguhan iman yang menjaga manusia agar tidak terjerumus ke dalam keputusasaan. Nilai inilah yang menjadi pegangan masyarakat Sumatera Barat dalam menghadapi dampak bencana.
Pascabencana, semangat kebersamaan kembali tumbuh di tengah masyarakat. Gotong royong menjadi wajah nyata kepedulian sosial di nagari-nagari.
Warga saling membantu membersihkan lingkungan, memperbaiki rumah yang rusak, serta menghidupkan kembali surau dan fasilitas umum. Kebersamaan ini mencerminkan kuatnya nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang menyatu antara adat dan ajaran Islam.
Di tengah kesulitan, Islam menanamkan optimisme dan harapan. Allah Swt. berfirman:
QS. Al-Insyirah: 5–6
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap kesulitan memiliki batas dan selalu disertai kemudahan. Keyakinan tersebut menumbuhkan semangat baru bagi masyarakat untuk menata kembali kehidupan, meskipun harus dimulai dari langkah-langkah kecil.
Tahun baru juga menjadi momentum penting untuk melakukan muhasabah dan perubahan. Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan keadaan suatu kaum tidak akan terwujud tanpa adanya usaha dari mereka sendiri. Allah Swt. berfirman:
QS. Ar-Ra’d: 11
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini mendorong masyarakat Sumatera Barat untuk tidak hanya bersabar, tetapi juga berikhtiar. Kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan solidaritas sosial menjadi bagian dari semangat baru yang tumbuh di awal tahun.
Generasi muda pun memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan melalui kegiatan kemanusiaan dan edukasi sosial.
Mengisi tahun baru pascabencana di Sumatera Barat bukan sekadar menyambut pergantian waktu, melainkan menata kembali harapan dan kebangkitan iman. Musibah telah mengajarkan arti kesabaran, sementara kebersamaan menumbuhkan kekuatan untuk bangkit.
Dengan berpegang pada Al-Qur’an dan nilai-nilai keislaman, masyarakat Sumatera Barat melangkah ke depan dengan semangat baru, keyakinan yang lebih kuat, dan harapan yang tidak pernah padam. []
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam STAI-PIQ Sumatera Barat*)




