Oleh : Nurul Jannah*)
Menepi dari penilaian manusia, mendekat kepada Allah
Jalan ini tidak ramai.
Ia tidak berkilau oleh pujian, tidak bergema oleh tepuk tangan.
Inilah jalan sepi, tempat seorang hamba belajar melangkah tanpa sorotan, tanpa pembelaan, dan tanpa jaminan akan dipahami.
Aku pernah mengira, jika niatku lurus, maka langkahku akan mudah. Jika aku memilih baik, dunia akan berlaku adil.
Ternyata aku keliru, ya Rabb.
Ada masa ketika kebaikan justru menjadi beban. Ketika niat yang jujur dibaca sebagai kepura-puraan. Ketika diam demi menjaga adab, dianggap sebagai pengakuan salah. Dan ketika kesabaran diprasangkakan sebagai lemahnya iman.
Di sanalah Engkau mengajariku,
dengan cara yang pahit dan sunyi, bahwa tidak semua kebaikan Engkau takdirkan untuk dimengerti manusia.
Aku datang sebagai hamba, membawa hati yang ingin bersih. Menyimpan harap agar sesama manusia berlaku jujur sebagaimana doa-doa yang mereka panjatkan kepada-Mu.
Namun yang kutemui justru kecurigaan. Penilaian yang lahir dari prasangka yang tumbuh dari hati yang gelap oleh iri dan hasat.
“Aku hanya merasa kamu terlalu baik,” ucap Rina, sahabat kecilku suatu hari. Seolah kebaikan adalah sesuatu yang patut dicurigai.
Aku hanya bisa terdiam. Sebab kini baru aku mengerti, bagi hati yang belum Engkau sembuhkan, kebaikan memang terasa mengancam.
Di titik itu aku mulai memahami, bahwa Ikhlas adalah tetap lurus, tidak menunggu balasan.
Ia hanya perlu satu tujuan, yaitu Engkau, ya Rabb.
Hari ini, jika aku memilih diam, saat kebaikanku disalahkan adalah karena aku takut kehilangan satu hal paling berharga, yaitu kejernihan hati.
Biarlah manusia menilai sesuka mereka. Biarlah prasangka tumbuh di ladang yang bukan milikku.
Karena, aku tidak sedang membangun citra. Aku sedang membersihkan jiwa di hadapan-Mu.
Dan jika akhirnya Engkau tahu bahwa aku tetap memilih menjadi baik, di tengah gelapnya prasangka, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Sebab jalan pulang seorang hamba memang tidak selalu terang. Namun ia selalu jujur di hadapan Tuhan-Nya.
Dan aku memilih jujur, ya Allah, meski harus berjalan sendirian, asal Engkau ridha.❤🔥🌹🎀
Jakarta, 4 Januari 2025
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




