Oleh: Chelsea Amanda Putri*)
Di era digital yang super cepat ini, istilah “pergaulan bebas” sering sekali dilontarkan ke Generasi Z (yang lahir sekitar tahun 1997–2012). Tapi, kalau kita cari tahu, ini bukan cuma soal kenakalan remaja biasa.
Pergaulan Gen Z itu hasil dari perubahan zaman, di mana batas dunia nyata dengan dunia maya semakin kabur, dan nilai-nilai lama bertemu sama arus info yang tidak ada filternya.
Pergeseran Makna Kebebasan
Buat generasi sebelumnya, pergaulan bebas mungkin berarti keluar rumah sampai malam, atau membuat onar fisik. Tapi bagi Gen Z, kebebasan itu soal akses.
Dengan HP di tangan, mereka punya akses 24 jam untuk gaya hidup global. Melalui TikTok, Instagram, hingga aplikasi kencan, mereka melihat standar baru soal cara berpakaian, ngomong, atau jalin hubungan.
Hal-hal yang dulu yang tidak normal, sekarang malah sering dinormalisasikan lewat konten viral. Kebebasan berekspresi ini membuat mereka bisa menjadi diri sendiri, namun tanpa filter mental yang kuat, bisa-bisa tergelincir ke perilaku berisiko yang menimbulkan kerugian kesehatan fisik dan mental.
Tekanan Validasi Sosial dan FOMO
Salah satu pemicu utama pergaulan bebas di Gen Z adalah kebutuhan pengakuan sosial, atau validasi sosial. Di media sosial, suka dan pengikut sering dianggap sebagai ukuran harga diri.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), atau takut ketinggalan tren, membuat banyak anak muda ngerasa harus ikutgaya hidup tertentu seperti pesta, minum-minum, atau hubungan kasual supaya dianggap keren atau masuk lingkaran teman.
Ironisnya, meski Gen Z paling terkoneksi digital, mereka juga sering disebut generasi paling setara. Hubungan lewat layar sering hanya dangkal. Akhirnya, banyak cari pengungsi di pergaulan bebas buat isi kekosongan emosi atau cari sensasi karena melupakan tekanan hidup sebentar.
Risiko di Balik situasi dan hubungan kasul
Di dunia romansa, Gen Z sedang populer dalam istilah kayak situasi hubungan tanpa status jelas. Kelihatannya fleksibel dan tidak ribet, tapi sering menimbulkan luka emosi karena tidak ada komitmen dan batasan.
Selain risiko kesehatan kayak infeksi menular seksual (IMS) dari seks bebas, risiko mental kayak depresi dan kecemasan itu yang lebih nyata di balik gemerlapnya. Bukan sekedar fisik, tapi pikiran yang bisa rusak.
Membangun Kompas Internal
Nah, solusinya apa?jangan mengekang mereka paksa-paksa. Hadapi Gen Z dengan otoriter malah bisa membuat pemberontakan lebih parah. Lebih baik kuatin “kompas internal” mereka. Gimana caranya?
a. Literasi Digital dan Emosional : Ajak anak muda pikir kritis soal apa yang mereka konsumsi di internet. Nggak semua yang viral harus diikutin.
b. Komunikasi Empatik : Orang tua dan pendidik harus mengganti peran dari “polisi” menjadi “partner diskusi”. Kalau Gen Z ngerasa didenger tanpa dihakimi, mereka lebih terbuka soal masalah di luar rumah.
c. Pendidikan Seksual dan Nilai : Kasih pendidikan jujur soal konsekuensi tindakan, dari sisi medis, hukum, sampai agama, tanpa cuma pakai takut-takutin.
Pergaulan bebas di Gen Z bukan sekedar fenomena sederhana, tapi reaksi ke dunia yang semakin kompleks. Mereka lagi mencari identitas di tengah badai info.
Dengan bimbingan yang pas, dukungan emosi yang stabil, dan nilai-nilai yang kuat, Gen Z punya potensi besar untuk mengubah kebebasan mereka menjadi kreativitas positif, bukan malah terjebak dalam perilaku yang rusak.
Yuk, kita bantu mereka navigasi labirin ini! []
Mahasiswa Prodi Ilmu Al Quran dan Tafsir STAI PIQ Sumatera Barat*)




