Oleh : Ahmad Dani*)
Perubahan zaman sering kali datang tanpa memberi ruang bagi manusia untuk benar-benar merenung. Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi digital melaju begitu cepat seperti Internet, media sosial, serta kecerdasan buatan yang telah mengubah wajah peradaban manusia.
Cara belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan cara manusia memandang dirinya sendiri mengalami pergeseran yang signifikan. Dunia kini terasa lebih dekat, tetapi sekaligus terasa semakin rumit.
Di satu sisi, teknologi digital membawa kemajuan yang luar biasa. Akses terhadap ilmu pengetahuan terbuka luas, batas geografis semakin kabur, dan efisiensi kerja meningkat drastis. Manusia dapat belajar dari berbagai sumber, menyampaikan gagasan, serta membangun jejaring sosial dan ekonomi tanpa harus bertatap muka secara langsung.
Dalam konteks ini, teknologi menjadi simbol kemajuan dan kecanggihan peradaban modern.
Namun, kemajuan tersebut juga menyimpan sisi gelap yang patut direnungkan. Media sosial, misalnya, sering kali membentuk ilusi kebahagiaan dan kesuksesan. Manusia terdorong untuk menampilkan sisi terbaik hidupnya, sementara kegagalan dan kesedihan disembunyikan.
Akibatnya, banyak orang terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat. Mereka merasa kurang, tertinggal, bahkan kehilangan makna hidup hanya karena realitasnya tidak seindah tampilan di layar.
Fenomena ini selaras dengan peringatan filsuf Erich Fromm yang mengatakan, “Manusia modern lebih sibuk memiliki daripada menjadi.”
Dalam dunia digital, nilai diri sering kali diukur dari apa yang dimiliki dan ditampilkan jumlah pengikut, popularitas, dan pengakuan bukan dari kedalaman karakter dan kualitas kemanusiaan. Ketika eksistensi bergantung pada pengakuan digital, manusia perlahan kehilangan jati dirinya.
Teknologi juga memengaruhi kualitas hubungan antarmanusia. Interaksi langsung yang sarat empati dan kehangatan semakin tergeser oleh komunikasi virtual yang singkat dan instan. Meja makan tidak lagi menjadi ruang percakapan, karena perhatian terpecah oleh gawai.
Padahal, manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan kedekatan emosional. Tanpa disadari, dunia digital yang ramai justru melahirkan kesepian yang sunyi.
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak larut dan lalai dalam kehidupan dunia:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini menjadi refleksi yang sangat relevan dengan realitas digital saat ini. Media sosial sering kali menjadikan kehidupan sebagai ajang pamer, kebanggaan semu, dan perlombaan popularitas. Jika manusia tidak memiliki kesadaran spiritual dan intelektual, maka teknologi dapat menyeretnya pada kelalaian yang berkepanjangan.
Meski demikian, menyalahkan teknologi sepenuhnya bukanlah sikap yang bijak. Teknologi pada dasarnya bersifat netral; manusialah yang menentukan arah dan dampaknya.
Banyak manfaat besar yang lahir dari dunia digital: dakwah yang menjangkau jutaan orang, pendidikan yang semakin inklusif, serta gerakan sosial dan kemanusiaan yang tumbuh dari kesadaran kolektif. Dalam hal ini, teknologi justru dapat menjadi sarana kebaikan dan kebermanfaatan.
Tokoh pendidikan Paulo Freire pernah menegaskan, “Pendidikan bukan tentang mengisi kepala manusia, tetapi membangkitkan kesadaran.”
Prinsip ini relevan dalam menghadapi dunia digital. Yang dibutuhkan manusia bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi, tetapi kesadaran kritis dalam menggunakannya. Tanpa kesadaran, teknologi justru akan mengendalikan manusia, bukan sebaliknya.
Islam sendiri menempatkan kesadaran diri sebagai fondasi kehidupan. Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menekankan bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri manusia. Dalam konteks digital, manusia harus mampu mengendalikan teknologi dengan nilai, etika, dan tanggung jawab. Dunia digital seharusnya menjadi alat untuk mendekatkan diri kepada ilmu, kebaikan, dan Tuhan, bukan menjauhkan manusia dari makna hidup.
Keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata menjadi kunci utama. Manusia perlu menyediakan ruang untuk keheningan, refleksi, dan interaksi langsung. Membatasi waktu layar, memperdalam literasi digital, serta memperkuat nilai spiritual dan kemanusiaan adalah langkah penting agar teknologi tidak menggerus jati diri manusia.
Pada akhirnya, kemajuan sejati bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang diciptakan, melainkan seberapa bijak manusia menggunakannya.
Dunia digital seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi, lebih sadar, lebih empatik, dan lebih bertanggung jawab. Ketika teknologi dipadukan dengan kesadaran moral dan kebijaksanaan dan kematangan peradaban. []
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam STAI-PIQ Sumatera Barat*)




